Pernahkah kamu menguap setelah melihat orang lain menguap?

Bukan suatu kebetulan ketika ada seseorang yang menguap setelah melihat orang lain menguap. Layaknya penyakit menular, rupanya ada beberapa kebiasaan ataupun perilaku tertentu yang mudah ditirukan oleh orang lain. Dalam dunia psikologi, kondisi semacam ini disebut dengan behavioral contagion atau ‘perilaku menular‘. Otak kita sudah terhubung dengan interaksi sosial dan ikatan. Meniru sebuah tindakan yang dilihat di sekitar kita merupakan cara alamiah untuk menunjukkan bahwa kita berempati dan memahami perasaan orang lain.

Advertisement

Perilaku menular ini bukan hanya mitos yang kebetulan terjadi. Dilansir dari Huffington Post, berikut Hipwee News & Feature rangkum beberapa perilaku yang tingkat kecepatan penularannya bahkan lebih cepat daripada virus.

1. Menguap adalah perilaku menular yang kerap terjadi di sekitar kita, penyebabnya nggak jauh-jauh dari kedekatan hubungan sosial

Menguap yang menular bukan mitos via www.sciencemag.org

Menguap merupakan cara untuk menghirup oksigen ke dalam aliran darah saat lelah. Teori lain juga mengatakan bahwa menguap berfungsi sebagai mekanisme untuk mendinginkan otak. Namun tahukah kamu, ternyata hanya manusia dan sebagian kecil hewan cerdas yang bisa ketularan menguap lho.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya kaitan antara ketularan menguap dengan kedekatan hubungan antara orang yang pertama menguap dengan yang ditularinya. Sebuah studi lain menyebutkan bahwa cewek, yang dinilai memiliki rasa empati tinggi, lebih mudah ketularan menguap dibanding cowok. Nah, mendukung studi sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa umumnya para penyandang autisme nggak ketularan menguap, begitu juga dengan psikopat, yang ditandai oleh ketidakmampuan merasakan empati. Selain itu, anak-anak juga nggak akan tertular menguap hingga umur 4 tahun, usia di mana mereka mulai berkembang secara sosial.

2. Ungkapan ‘tersenyumlah, maka dunia akan tersenyum bersamamu’ ternyata ada benarnya. Tersenyum juga menular!

Tersenyum bikin orang lain ikut tersenyum via www.eyeem.com

Advertisement

Saat kita sedang bersama dengan seseorang yang tersenyum, ekspresi dari wajahnya seolah mengatakan ‘cobalah’ untuk merasakan emosi yang sama. Secara otomatis, kita akan ‘mencoba’ hal tersebut melalui ekspresi wajah yang juga tersenyum, untuk mengetahui apa yang bisa kita rasakan dari hal tersebut. Fenomena natural ini dinamakan ‘mimikri wajah’ yang menjadikan kita berempati kepada seseorang dan ikut menyelami emosi yang orang lain rasakan, dan menerapkannya pada diri kita sendiri.

3. Layaknya tersenyum, tertawa pun juga menular ke orang lain dengan mudahnya

Satu ketawa, semua ketawa via www.brit.co

Menurut penelitian, otak kita merespon suara tawa dan secara otomatis ikut melakukannya, bahkan saat kita nggak mendengar sebuah lelucon atau terlibat dalam percakapan maupun melihat orang yang bertingkah lucu.

Sophie Scott, seorang ahli saraf di University College London, menyatakan bahwa ketika kita berbicara kepada seseorang, seringkali kita meniru perilakunya, meniru kata yang dipakainya, bahkan meniru gestur yang dipakainya. Nah, hal tersebut ternyata juga berlaku pada tawa juga. Meski hal ini nggak selalu bekerja kepada orang lain, namun otak kita akan selalu merespon tawa dengan tawa pula. Kemampuan kita dalam menahannya ataupun meneruskan impuls tersebut jadi perilaku lain tentu berbeda di setiap orang.

4. Saat melihat orang lain cemberut, nggak jarang kita juga akan ikut cemberut. Yup, energi negatif juga bisa menular!

Cemberut juga menular via za.pinterest.com

Mimikri wajah nggak hanya terjadi saat kita tersenyum ataupun tertawa, tapi juga saat kita cemberut. Contoh mudahnya adalah ketika teman kita sedang sedih, kita nggak akan bisa mempertahankan ekspresi senang yang kita ‘pasang’ meski suasana hati kita sebenarnya memang sedang senang. Singkatnya, meski kita nggak akan 100 persen cemberut saat orang lain menunjukkan wajah muram, tapi ada kemungkinan gerakan otot wajah akan mengarah menjadi cemberut. Nggak hanya itu, ekspresi menyeringai dan meringis pun bisa ditularkan.

5. Saat melihat orang lain yang menggigil kedinginan, kemungkinan besar kita juga akan merasakan hal yang sama meski sebetulnya kita nggak sedang kedinginan

Penularan suhu dingin via www.nbcchicago.com

Rupanya nggak hanya ekspresi wajah saja yang bisa menular, tapi juga apa yang kita rasakan. Hasil penelitian neuropsikiatri di Brighton and Sussex Medical School yang dimuat dalam jurnal PLOS One mengungkapkan bukti adanya ‘penularan temperatur’. Studi ini menunjukkan bahwa ketika partisipan melihat video di mana tangan seseorang dimasukkan ke air dingin, temperatur tangan partisipan akan seketika menurun.

Semakin berempati kita pada seseorang, makin besar penurunan suhu yang kita rasakan. Lagi-lagi, tingkat empati menentukan penularan sebuah perilaku. Sayangnya, suhu yang hangat ataupun panas nggak memiliki efek penularan yang sama.

6. Selain cemberut, hal negatif lain yang menular adalah perundungan di tempat kerja

Perundungan di tempat kerja via www.vitalsmarts.com

Ternyata, bersikap nggak sopan pada rekan kerja bisa memengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebuah studi di tahun 2015 dari University of Florida, menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan perilaku kasar di sebuah tempat kerja, maka ia akan cenderung mempraktikkan kekasaran tersebut di tempat kerja baru nantinya, ketimbang mengambil sisi positifnya. Sayangnya, hal-hal semacam ini dianggap sebagai hal biasa yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Kepala dari penelitian ini, Trevor Foulk menyatakan bahwa secara umum hal ini ditoleransi oleh banyak orang, padahal ini adalah hal yang berbahaya. Menurutnya, tempat kerja adalah tempat yang efek negatifnya paling tinggi jika terjadi keributan di dalamnya. Wah, ngeri juga, ya!

7. Bukan nggak mungkin jika kita berani mengambil risiko jika orang lain juga melakukannya

Menerobos lampu merah via rangtalu.wordpress.com

Mengambil resiko itu menular. Hal ini sedikit menjelaskan mengapa seringkali anak-anak muda sering melakukan hal bodoh yang di luar batas. Sebuah studi yang dilakukan oleh para ahli saraf di California Institute of Technology, menemukan bahwa setelah kita melihat orang lain melakukan hal yang berbahaya dan berisiko tinggi, kita akan lebih menoleransi risiko tersebut.

Contohnya, ketika berhenti di lampu lalu lintas, ketika awalnya kita nggak mau melanggar lampu merah dan akhirnya melihat seseorang yang menerjangnya lalu aman-aman saja, ada rasa tertarik untuk mencobanya juga. Hal ini juga berlaku untuk perilaku bunuh diri yang belakangan semakin marak terjadi.

Melihat fakta bahwa memang ada beberapa perilaku yang berpotensi menular ke orang lain, sudah seyogianya kita menebarkan ekspresi maupun perilaku yang positif dan sebisa mungkin meminimalisir hal-hal negatif di dalam kehidupan bermasyarakat. Karena energi positif yang kita dapatkan dari orang lain dapat mengubah hidup kita menjadi positif pula, begitupun energi negatif.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya