Namanya dunia kerja pastinya penuh dengan persaingan. Tapi pasti sedih dan menyakitkan bila kamu kalah bukan karena kurang kompeten, melainkan karena latar belakang pribadi yang tak relevan sama pekerjaan. Kamu tidak dipanggil untuk interview bukan karena prestasimu kurang, tapi karena banyak anak pejabat yang melamar. Atau kamu ditolak bukan karena dinilai tidak mampu, tapi karena foto diri-mu kurang menarik.

Sayangnya, diskriminasi kerja semacam ini sudah sangat umum. Bila perusahaan yang kamu lamar sudah cukup modern, maka CV-mu tidak perlu lagi mencantumkan foto. Banyak negara-negara Barat yang egaliter sudah tak pernah meminta pelamar kerja menyertakan foto di CV kerja. Nah belakangan ini justru ada tren yang lebih ekstrem lagi untuk menjamin persaingan yang benar-benar adil di lapangan kerja. Salah satunya di Belanda. Bukan cuma sekadar tak perlu attach foto, kamu bahkan tak perlu menyertakan namamu saat melamar kerja. Yuk cek selengkapnya!

Kebijakan CV tanpa nama ini mulai diberlakukan di kota Den Haag, Belanda. Tujuannya untuk menghindari semua bentuk diskriminasi, baik SARA, gender, atau nepotisme

tujuannya untuk menghindari diskriminasi

Tujuannya untuk menghindari diskriminasi via www.thebalance.com

Advertisement

Kebijakan ini memang belum berlaku di Belanda secara keseluruhan, melainkan hanya di kota Den Haag. Di kota yang menjadi lokasi Konferensi Meja Bundar di tahun 1949 ini, kamu tak perlu mencantumkan nama, etnis, agama, atau latar belakang personal lainnya jika mencari pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari bias sentimen pribadi yang muncul dengan sadar atau pun tidak disadari dalam masa perekrutan. Jadi dengan CV yang anonymous, diharapkan semua orang bisa punya kesempatan yang sama untuk bersaing di dunia kerja berdasarkan skill dan kompetensinya semata.

Meski tanpa disadari dan tidak bermaksud mengistimewakan, sebuah nama itu bisa menimbulkan bias yang tidak perlu dalam perekrutan kerja

Diskriminasi dalam dunia kerja bukan hal baru

Diskriminasi dalam dunia kerja bukan hal baru

Meski tidak disengaja, banyak perekrut yang secara tidak sadar terpengaruh dengan nama seseorang. Secara sekilas, nama bisa melambangkan banyak hal yaitu dari gender, etnis, agama, atau memang nama belakang keluarga yang berpengaruh. Maka dari itu sebuah penelitan menunjukkan bahwa ternyata dari melihat nama saja, banyak terjadi bias dalam perekrutan kerja. Apalagi bila kamu punya nama berbau Islam. Di luar negeri seperti Amerika Serikat (apalagi setelah nanti Trump dilantik), mungkin kamu akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Untuk lebih jauh menghindari kecenderungan buruk itulah akhirnya banyak pihak berkeyakinan bahwa CV kerja pun sebenarnya tidak perlu bernama.

Bukan tanpa alasan atau pun kebijakan asal, aturan ini dilakukan setelah serangkaian percobaan

Dengan info personal disembunyikan, pekerja minoritas yang berkualitas bisa lebih diterima

Memberikan kesempatan adil untuk semua orang via pixabay.com

Kebijakan ini juga bukan kebijakan yang dibuat hanya untuk coba-coba. Sebelum menetapkan aturan, pemerintah kota Den Haag sudah merangkaian penelitian. Dalam waktu 6 bulan, dengan metode CV anonymous ini, jumlah pekerja dari etnis minoritas yang lolos dalam seleksi perekrutan menjadi dua kali lipatnya. Dengan begini, segala penilaian juga lebih objektif, karena pelamar dilihat semata-mata dari skill dan rekam jejak prestasi kerjanya.

Ternyata bukan hanya Den Haag saja, beberapa negara juga telah bereksperimen dengan kebijakan ekstrem ini. Selain menghindari diskriminasi, kualitas pekerja juga bisa meningkat

semua punya peluang

Semua punya peluang via www.couriermail.com.au

Advertisement

Selain Den Haag, sejumlah negara lain juga tercatat pernah melakukan eksperimen yang sama. Tahun 2010 lalu, pemerintah Jerman menerapkan proses rekruitmen tanpa perlu mencantumkan nama, gender, usia, dan status pernikahan. Eksperimen ini diikuti oleh lima perusahaan besar, bertujuan untuk memberi kesempatan untuk semua orang. Perancis juga menerapkan percobaan yang sama, namun kebijakan ini tidak ada kelanjutannya. Kanada juga tak jauh berbeda. Negara dengan tingkat keberagaman yang besar itu juga menerapkan anonymous job application untuk menghindari bias dalam proses perekrutan.

Sementara itu di Indonesia bukan cuma harus menyertakan foto dan biodata lengkap, bahkan banyak yang tidak pede jika tidak punya ‘surat pengantar’ dari orang berpengaruh

Dengan info personal disembunyikan, peluang lebih besar

Dengan info personal disembunyikan, pekerja benar-benar direkrut karena kemampuan via www.lifewire.com

Lain halnya dengan di Indonesia. Masih banyak juga yang membuat CV dengan panjang yang melebihi cerpen majalah. Mulai dari data diri yang tak perlu seperti berat dan tinggi badan, agama, hingga hobi, semua dicantumkan. Selain tidak perlu, hal itu juga malah bisa membuatmu tidak diterima. Soal foto pun masih banyak yang menjadikannya keharusan. Padahal ini bisa menjadikan bias, pemilihan berdasarkan yang ganteng atau yang cantik. Bahkan, tak jarang banyak yang ditambah dengan surat ‘tembusan’, atau pesan titipan dari orang-orang penting yang bisa membuatmu diterima dengan mudahnya.

Jadi layaklah kita beri applause kepada kota-kota di atas yang telah menunjukkan komitmennya untuk mengatasi diskriminasi melalui hal-hal konkret. Meskipun belum berlaku di seluruh Belanda, tapi kebijakan ini cukup menjadi kabar yang menyejukkan. Semoga bisa berlaku di seluruh dunia, terutama Indonesia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya