“Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka, saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri”, – Anies Baswedan, seperti dikutip di CNN.

Carut marut dunia politik memang tak bakal habis walau dimakan zaman atau monster sekalipun. Ada aja yang bisa dibahas. Seperti headline berita kemarin dan tadi pagi. Semua penuh dengan nama Anies-Sandi. Apalagi kalau tidak bicara tentang pidato perdana Anies setelah dilantik jadi gubernur, yang dinilai agak ngawur oleh beberapa pihak. Meskipun lulusan ilmu politik, harus diakui bahwa saya sebenarnya tak begitu suka mengoceh soal politik. Langsung mual begitu rasanya. Tapi ya tak apalah barang sejam-dua jam menahan mual, demi menulis konten ini 🙂

Advertisement

Nah, kembali lagi ke Pak Anies yang pada pidatonya kemarin begitu menggemaskan. Saya kira tak ada yang lebih menarik dari pemakaian istilah “pribumi” dan “non-pribumi” dari pidato kontroversial tersebut. Mungkin bagi sebagian orang ungkapan itu terdengar biasa saja. Tapi kalau sudah keluar dari mulut seorang gubernur, baru dilantik, dan di depan lautan massa, apa tidak terlalu provokatif namanya? Hei, Jakarta dan Indonesia keseluruhan ini punya beragam ras, suku, agama, dan budaya lho.

Tapi kami di sini tak akan mengajak kalian untuk beropini soal Anies-Sandi kok. Kami justru tertarik memaparkan istilah “pribumi” itu sendiri yang ternyata memang dilarang sejak 1998 oleh undang-undang! Simak yuk ulasan Hipwee News & Feature kali ini~

Larangan ini terpampang nyata dalam Instruksi Presiden RI No. 26 Tahun 1998 lho. Hayoloh!

Inpres No. 26/1998 via www.voaindonesia.com

Iya, kamu tak salah membaca. Pemakaian kata “pribumi” dan “non-pribumi” ini sebenarnya dilarang dipakai di semua hal yang berhubungan dengan pemerintah sejak 1998. Mulai dari perumusan kebijakan, perencanaan program, sampai pelaksanaan kegiatan pemerintahan.

Advertisement

Ini tak lepas dari sejarah masa kolonialisme dimana para penjajah suka sekali mengotak-kotakkan orang pribumi yaitu bangsa asli Indonesia, dengan orang non-pribumi yaitu keturunan Arab, Cina, dan lainnya. Penggolongan ini yang mendasari hak dan kewajiban yang melekat dalam diri masing-masing golongan. Tapi kalau sekarang, kok kayaknya sudah sangat tidak relevan ya, mengingat Indonesia terdiri dari berbagai campuran etnis. Jadi ya bisa disimpulkan sendiri pidato Anies kemarin sefatal apa, ‘kan?

Memangnya siapa saja sih yang bisa disebut pribumi dan non-pribumi?

Siapa yang dimaksud pribumi sebenarnya? via science.idntimes.com

Apakah yang kulitnya sawo matang? Yang hitam? Sipit? Atau matanya besar?

Kalau menurut KBBI:

Pribumi adalah penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan.

Tapi dari KBBI pun rasanya masih terselip kebingungan mengenai siapa yang berhak diklaim sebagai pribumi dan siapa yang bukan. Apakah mereka yang Sunda, Jawa, Papua? Atau siapa sih? Profesor Herawati dari Eijkman Institute, seperti dilansir Kompas, menyatakan bahwa perbedaan fisik orang Indonesia ini disebabkan pencampuran genetik dari gelombang migrasi yang sudah terjadi sejak puluhan ribu tahun lalu. Indonesia sebagai pusat perdagangan dunia semakin memungkinkan terjadinya pencampuran genetik yang lebih masif lagi.

“Dalam konteks Indonesia, tidak ada genetika dominan yang menguasai dari barat ke timur. Dari ujung utara, genetika Austro-asiatik lebih banyak.” – Herawati.

Tentu aja pernyataannya itu tidak serta merta ada, melainkan berdasarkan riset yang sudah ia lakukan pada DNA dari 500 orang yang berasal dari 25 tempat di regional Asia. Jadi kayaknya tidak salah juga kalau ada yang bilang: semua orang Indonesia imigran, tidak ada yang pribumi.

Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia ini, pemakaian kata “pribumi” untuk membeda-bedakan antar golongan, jelas pelan-pelan akan memecah-belah bangsa

Malah bisa jadi penyebab perpecahan via geotimes.co.id

Terlebih kalau merujuk pada makna ‘pribumi’ yang dipakai Anies dalam pidatonya. Seolah menyiratkan kalau orang pribumi lebih berhak mendapat A, B, C dibanding yang katanya non-pribumi. Jelas kalau Pak Anies banyak disentil berbagai pihak. Lah wong Indonesia terdiri dari banyak suku, budaya, dan agama.

Tak menutup kemungkinan kalau isu-isu sensitif ini memang sengaja diluap-luapkan untuk kepentingan politik semata. Tapi ya entahlah, terlepas benar atau tidaknya, jangan sampai kita jadi terpecah-belah dan banyak terpengaruh provokasi-provokasi tak sehat di luar sana ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya