Banyak melihat drama Korea dan grup K-Pop yang makin populer saja beberapa tahun belakangan ini, mungkin sekilas semua orang bakal bereaksi sama: artis Korea ini kenapa mukanya mirip semua ya. Hidung mancung, wajah lancip berbentuk V, dan kelopak mata ganda, semacam ada cetakannya. Bukan hal yang aneh, sebab Korea Selatan dikenal sebagai pusatnya industri operasi plastik dunia. Bahkan katanya, tidak ada artis Korea yang asli 100% natural alias semuanya pasti oplas. Katanya lho…

Realita dunia hiburan Korea itu emang sudah jadi rahasia umum, tapi bagaimana ya kiranya budaya operasi plastik bisa berkembang di kalangan umum? Apa iya semua kepingin banget bisa mirip artis idolanya sampai rela bayar mahal dan dioperasi berjam-jam? Ternyata tidak sesederhana itu, kebanyakan motivasinya justru pekerjaan. Kultur kerja yang seharusnya profesional juga ironisnya juga mendewa-dewakan penampilan.

Advertisement

Daripada mirip artis dan kelihatan cantik, nyatanya lebih banyak kalangan muda Korsel yang operasi plastik justru demi mendapatkan pekerjaan. Nggak percaya?! Simak deh kisahnya bareng Hipwee News & Feature!

Di Korea Selatan memang dikenal konsep “Look-ism”. Alias penampilan adalah segalanya

Image yang dipertontonkan di TV terlalu sempurna via www.myfatpocket.com

Sebagaimana dilansir dari Los Angeles Times, konsep ini dalam bahasa Korea istilahnya adalah ‘oemo jisang juui’. Yaitu sebuah perlakuan diskriminasi berdasarkan penampilan terjadi secara terang-terangan. Dia yang cantik dan tampan sesuai standar sudah pasti diberi banyak kemudahan. Termasuk dalam mencari pekerjaan. Padahal umumnya selain untuk profesi seperti model dan aktor, ya seharusnya skill dan pengalaman menjadi pertimbangan utama.

Namun di Korea Selatan di mana penampilan adalah segala-galanya, kalaupun memiliki skill tapi tanpa disertai penampilan yang menarik, akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Proses pencarian kerja terkadang bukan lagi ‘pertarungan’ antara yang paling memenuhi kualifikasi tetapi yang paling menarik. Karena menyangkut mata pencaharian dan masa depan, sebenarnya tidak mengherankan jika budaya oplas populer di kalangan mudanya.

Bahkan katanya setiap perusahaan punya selera yang berbeda. Ada yang suka mata belo, kelopak mata ganda, atau kaki yang seksi nan jenjang

Justru jadi semacam kontes kecantikan, terutama bagi perempuan via dailymail.co.uk

Advertisement

Saat melamar kerja di Korea Selatan, foto adalah hal yang wajib disertakan. Dari sanalan kandidat dinilai. Menurut laporan Los Angeles Time tersebut, sebuah blog pernah mengulas bahwa perusahaan besar lebih menyukai mereka yang punya mata cantik. Seperti yang kita tahu, standar mata cantik di Korea adalah yang punya kelopak mata ganda. Lalu pegawai pemerintahan lebih disukai yang memiliki hidung mancung.

Bahkan Kementerian Ketenagakerjaan juga pernah nge-tweet (yang segera dihapus) tentang perlunya calon pekerja untuk memperhatikan betul penampilan saat mencari kerja. Penampilan yang pantas dan baik memang menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan saat interview kerja. Namun bila itu dijadikan salah satu standar wajib, tentu menjadi kurang adil jadinya karena tidak semua orang terlahir mancung atau matanya belo.

Foto adalah komponen yang sangat penting dalam CV pencari kerja Korea Selatan. Saking pentingnya, banyak bermunculan fotografer dan tukang make up khusus buat yang sedang cari kerja

Foto CV pun harus sempurna via koreaexpose.com

Di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, menyertakan foto dalam CV merupakan praktik yang sudah lama ditinggalkan karena dianggap tidak adil. Bahkan di sebuah kota di Belanda, CV tidak perlu lagi mencantumkan nama untuk menjamin proses yang benar-benar adil dan tanpa bias. Tapi tidak begitu realitanya di Korea Selatan, foto CV justru jadi semakin penting.

Untuk kaum muda pencari kerja di Korsel, mengambil foto diri tidak bisa asal saja di studio foto biasa. Jasa fotografer khusus untuk membuat foto CV ada di mana-mana. Bukan cuma masalah editannya saja yang berbeda, biasanya di sana juga ada ahli make up sehingga fotonya sempurna. Foto-foto ini juga seringkali jauh berbeda dari orang aslinya, tapi ternyata itulah yang dibutuhkan untuk menarik perhatian perusahaan.

Karena ini juga operasi plastik menjadi hal yang biasa di Korea. Sebab tuntutan kerja memang mengharuskan mereka berpikir penampilan adalah modal utama

Katanya demi masa depan dan prospek kerja yang lebih baik via www.sasfinder.com

Selama ini banyak yang bertanya-tanya mengapa orang Korea suka sekali dengan operasi plastik. Padahal prosesnya sangat menyakitkan dan risikonya juga besar. Tapi bila melihat kultur kerja semacam itu, segalanya jadi masuk akal. Tak hanya untuk sekadar tampil cantik mirip selebriti, operasi plastik itu sudah dipandang jadi semacam investasi masa depan terutama dalam soal mendapatkan pekerjaan.

Yoon-ha Cha, seorang mahasiswi jurusan Ekonomi Yonsei University, mengakui bahwa menyeleksi calon pegawai melalui penampilan jelas tidak adil dan tidak berhubungan dengan efisiensi kerja. Meski begitu, kultur ini membuatnya mau tak mau rutin pergi ke dokter kecantikan untuk memastikan penampilannya sempurna. Dengan begitu, diharapkan, jalannya mendapatkan pekerjaan kelak akan mulus-mulus saja.

Saat ini sebuah reformasi undang-undang di Korea Selatan sedang diproses. Kelak perusahaan yang mensyaratkan penampilan bisa kena denda

Bias pada penampilan ini justru seringkali bikin kerja tidak efektif via www.businesskorea.co.kr

Prihatin atas kondisi ini, Han Jeong-ae seorang anggota dari Komite Nasional memperkenalkan sebuah rancangan undang-undang yang akan memberi denda kepada perusahaan yang meminta foto kepada pelamar kerja dan menyeleksi berdasarkan penampilan, kelahiran, status perkawinan, dan latar belakang keluarga. Rancangan undang-undang ini sempat lolos di tataran komite legislatif, tapi mendapat pertentangan keras dari Korea Employers Federation yang berargumen bahwa penampilan adalah hal penting di tempat kerja. Ada juga yang berpendapat meskipun permintaan foto dalam proses rekruitmen dikenai denda, diskriminasi ini akan tetap ada.

Korea Selatan merupakan salah satu negara maju OECD dengan jam kerja terpanjang tapi produktivitasnya terbilang rendah. Mungkin ya itu semua berakar dari kultur lookism yang ternyata juga mempengaruhi dunia kerja. Skill dan pengalaman seseorang selalu bisa di-upgrade dengan berbagai cara. Tapi jika standar yang diterapkan adalah penampilan yang sangat spesifik, hidung harus mancung, mata harus belo, dan harus kurus sempurna, ya jelas saja banyak generasi muda di Korea Selatan akhirnya memilih operasi plastik. Miris sih kalau sampai segitunya…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya