4 Cara Aneh Orang Zaman Dulu Saat Hadapi Wabah. Mulai dari yang Unik sampai Nggak Masuk Akal Ada

Cara orang zaman dulu hadapi wabah

Sebelum pandemi Covid-19 merebak seperti sekarang, ratusan tahun lalu manusia di muka bumi telah mengalami wabah serupa. Sebut saja wabah kolera yang berasal dari India (1820) dan flu spanyol yang diperkirakan telah menelan korban jiwa lebih dari 50 juta penduduk bumi (1918). Wabah tersebut muncul ketika ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang dan teknologi pengobatan masih jauh dari kata modern.

Advertisement

Cara orang-orang zaman dulu menghadapi wabah saat itu pun beragam, ada yang aneh, kejam, bahkan nggak masuk akal. Soalnya kalau dikaitkan dengan ilmu pengetahuan saat ini, kok rasanya malah nggak ada korelasinya. Namun faktanya di zaman dulu, cara-cara itu beneran dilakuin dan dipercaya bisa menangkal wabah penyakit. Memang apa saja sih cara-caranya??

1. Pembunuhan massal anjing dan kucing karena dianggap membawa penyakit dan merupakan jelmaan setan

pembantaian masal anjing dan kucing via redice.tv

Ketika wabah Black Death (Maut Hitam) terjadi di abad 14, hewan seperti anjing dan kucing dibantai secara masal lantaran dianggap membawa penyakit. Zaman dulu, ilmu pengetahuan masih minim dan pengobatan tidak semaju sekarang, para tenaga medis pun sulit mengetahui penyebab suatu wabah muncul. Hingga akhirnya warga dunia berspekulasi sendiri dan mengaitkannya dengan takhayul. Semisal anjing dan kucing dianggap sebagai pembawa penyakit dan kutukan, terutama kucing berwarna hitam dipercaya sebagai jelmaan setan.

Pembantaian gila-gilaan ini justru memperparah kondisi dunia. Wabah Maut Hitam disebabkan oleh bakteri yersinia pestis yang ada pada tubuh tikus. Bakteri ini disebarkan oleh kutu yang menempel di tubuh hewan pengerat tersebut. Setelah tikus mati, kutu selanjutnya mengigit manusia dan wabah pun menyebar sangat cepat. Nah, dengan adanya pembunuhan kucing massal, tikus yang seharusnya jadi mangsa kucing malah jadi membludak populasinya. Wabah pun jadi makin parah. Mirisnya, pembantaian tersebut terjadi selama kurang lebih 300 tahun di Eropa.

Advertisement

2. Melakukan penyiksaan terhadap diri sendiri sebagai ritual agama, pun demikian ketika wabah merebak

kaum flagela via www.britannica.com

Pada abad 14 ketika wabah Maut Hitam merebak di Eropa, kaum Flagela yang dikenal memiliki ritual agama lewat penyiksaan diri sebagai penebusan dosa kerap juga melakukannya saat menghadapi wabah. Mereka mencambuk diri sendiri karena menganggap wabah Maut Hitam terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Jadi, bukannya menyimpulkan bahwa penyakit bisa muncul dari air yang tercemar atau berasal dari hewan, melainkan faktor agama lah yang mereka anggap sebagai penyebabnya.

3. Layaknya seorang penyihir memakai topeng burung, inilah APD lengkap yang digunakan para dokter saat menangani pasien yang terinfeksi wabah

seperti penyihir via www.thevintagenews.com

Jika saat ini kita melihat tenaga medis mengenakan APD lengkap seperti jas hujan, pada zaman dulu para dokter memakai APD yang menyerupai kostum penyihir. Pada 1619, Charles de Lorme membuat desain seragam khusus untuk para dokter yang menangani pasien wabah lengkap dengan jubah panjang, sarung tangan, sepatu bot, dan topi lebar. Untuk meminimalisir penularan dan tidak bersentuhan langsung, selama berinteraksi dengan pasien, dokter menggunakan tongkat panjang. Nggak cuma itu, seragamnya juga dilengkapi dengan topeng atau masker berbentuk paruh burung untuk melindungi mereka dari penularan penyakit.

Dulu, para tenaga kesehatan percaya kalau udara kotor dan bau menyengat merupakan pertanda suatu wabah. Karena itu, mereka memakai masker berbentuk paruh burung dengan panjang sekitar 15 cm. Pada paruh tersebut, para dokter meletakkan tanaman herbal dan bunga, bahkan tanaman tersebut dibakar dulu, agar asap yang keluar dari pembakaran tanaman itu bisa membersihkan dan menyegarkan udara sekitar.

Advertisement

4. Tiap komunitas warga kampung Hindia Belanda punya cara-cara tersendiri ketika wabah Kolera menyebar. Mulai dari memanggil barongsai hingga minum air suci yang telah didoakan kiai

Batavia tempo dulu via republika.co.id

Wabah kolera pernah jadi pandemi hebat di Hindia Belanda pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Ketika itu, para tenaga medis masih kesulitan menemukan penyebab dan vaksin untuk penderita kolera. Warga-warga yang tinggal di kampung akhirnya berinisiatif dalam menangani penyakit ini. Dilansir dari Tirto, sejarawan Susan Blackburn mengatakan kalau tiap komunitas lakukan cara-cara tersendiri selama wabah merebak. Misalnya, warga muslim percaya kalau penyakit ini bisa disembuhkan oleh “air suci” yang sudah ditiupi doa oleh kiai. Sementara itu, kalangan warga keturunan etnis Cina berinisiatif memanggil barongsai untuk berkeliling Pecinan, lantaran menyakini kalau setan penyebar kolera takut pada barongsai.

Dunia telah menghadapi berbagai pandemi sejak dulu kala. Kini, kita pun mengalami wabah Covid-19 yang masih merebak di berbagai negara. Angka kasus Covid-19 masih meningkat, pemerintah tiap negara sedang berupaya melalui strategi dan kebijakannya semaksimal mungkin. Yuk, kita doakan semoga wabah Covid-19 ini segera usai agar bisa memulai hidup seperti biasanya lagi.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An amateur writer.

CLOSE