Sempat “Menang” Lawan Covid-19 Selama 102 Hari, Ini Dua Rahasia Sukses Selandia Baru Hadapi Pandemi

Cara Selandia Baru hadapi pandemi

Selandia Baru belakangan dapat sorotan positif terkait penanganan Covid-19. Di tengah gempuran peningkatan penularan di berbagai negara, Selandia Baru selama 102 hari berhasil menekan penularan lokal. Meski berdasarkn kabar terbaru negara tersebut kembali melakukan lockdown untuk kota Auckland selama tiga hari mulai Rabu (12/8) akibat ditemukannya empat kasus baru Covid-19, setidaknya upaya mereka melawan virus Corona layak diapresiasi sebagai salah satu yang tersukses di dunia.

Advertisement

Sebelum empat kasus baru tersebut diumumkan, selama 102 hari terakhir kehidupan di Selandia Baru nyaris berjalan normal tanpa kehadiran Covid-19. Dilansir dari ABC, pertandingan rugby di negara itu bahkan telah diizinkan untuk dihadiri penonton. Bar pun kembali dibuka dan masyarakat sudah boleh berkumpul. Lalu apa rahasia sukses Selandia Baru selama 102 tanpa penularan lokal Covid-19? Apakah bisa dicontoh dan diaplikasikan negara lain seperti Indonesia?

Percaya pada ilmuwan dan sains adalah kunci utama Selandia Baru hadapi pandemi Covid-19

Gambar Queenstown, Selandia Baru. Photo: Lawrence Murray from Perth, Australia / CC BY via commons.wikimedia.org

Bukan menggunakan teknologi paling baru atau kekuatan magis, epidemiologi dari Universitas of Otago, Michael Barker, seperti dikutip dari ABC, Minggu (9/8) mengatakan kunci pertama keberhasilan Selandia Baru mencegah penularan lokal Covid-19 selama 102 hari belakangan adalah kebijakan menyeluruh yang diambil pemerintahnya. Menurut Baker, pemerintah Selandia Baru punya kepemimpinan baik dan yang terpenting percaya pada sains. Kesimpulan itu bisa dibenarkan dengan melihat negara lain yang cukup berhasil menangani Covid-19 juga mengkombinasikan dua hal yang sama.

Di tengah kondisi dimana kita, termasuk para ilmuwan masih meraba-raba segala hal tentang pandemi bernama Covid-19, sains memang selayaknya jadi patokan utama dalam segala tindakan. Saat ini nggak ada kebijakan yang lebih baik selain yang berangkat dari saran ilmuwan dan berpatokan pada perkembangan ilmu pengetahuan. Hal tersebut setidaknya dibuktikan Selandia Baru dengan rekor 102 harinya. Pengambilan kebijakan dengan metode tebak-tebak buah manggis tentu sungguh sangat beresiko. Baker mengatakan, banyak pemimpin yang keliru dalam mengambil keputusan antara menyelamatkan nyawa atau menyelamatkan ekonomi selama pandemi ini.

Advertisement

Gerak cepat dalam langkah pencegahan adalah hal yang patut ditiru dari Selandia Baru

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern Ministry of Justice of New Zealand / CC BY via commons.wikimedia.org

Setelah mempercayai sains, Baker mengatakan rahasia kedua Selandia Baru bisa “menang” lawan Corona adalah berani gerak cepat dalam bertindak. Contoh gerak cepat Selandia Baru adalah lockdown yang mereka terapkan sejak 25 Maret 2020. Saat di mana sebagian besar negara termasuk Indonesia pada rentang waktu itu masih berdebat manakah yang tepat: lockdown atau PSBB saja, Selandia Baru di bawah Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern sudah tegas dengan lockdown ketat. Padahal waktu itu mereka baru memiliki 102 kasus Covid-19 tanpa catatan kematian loh. Tapi dengan kebijakan itu, negara tersebut punya banyak waktu untuk mengendalikan kasus sebelum melonjak nggak terkendali.

Meski begitu, kebijakan lockdown di Selandia Baru nggak melulu lancar. Sama seperti di kebanyakan negara termasuk Indonesia, pemerintah Selandia Baru juga nggak luput dari kritik yang bilang lockdown akan mengganggu ekonomi hingga kesehatan mental masyarakat. Tapi komunikasi yang efektif pada akhirnya berhasil meluluhkan kritik, dan masyarakat yang sebelumnya ragu pada akhirnya mendukung kebijakan tersebut.

Melansir catatan Kumparan, lockdown ketat yang diterapkan Selandia Baru dengan menutup semua pintu masuk dari dan ke luar negeri, menutup semua lini bisnis, mengimbau masyarakat untuk patuh di rumah, baru mulai longgar ke level tiga per April 2020. Saat itu bisnis makanan sudah mulai boleh melayani pemesanan take-away. Lalu memasuki pertengahan Mei 2020 lockdown turun ke level dua, dan pada Juni 2020 turun ke level paling longgar seiring jumlah kasus yang menurun. Baru pada Rabu (18/2) pengetatan lockdown untuk kota terbesar mereka, Auckland kembali dilakukan karena ada empat kasus baru yang semuanya berasal dari satu keluarga.

Advertisement

Ditemukan empat kasus baru setelah 102 bebas penularan lokal, Selandia Baru lockdown lagi selama tiga hari

Untuk penemuan empat kasus baru ini, PM Jacinda Ardern seperti dilansir dari BBC menjelaskan itu sebagaia sesuatu yang sudah mereka perkirakan. Maka dari itu mereka juga akan gerak cepat dengan menerapkan lockdown level tiga sebagai pencegahan selama tiga hari, sementara seluruh Selandia baru akan menerapkan lockdown level dua dari empat tingkat sistem peringatan Selandia Baru melawan Covid-19. Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru, Dr Ashley Bloomfield mengatakan selama tiga hari ke depan mereka akan melakukan uji dan pelacakan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi kontak yang terkait dengan kasus positif. Lagi-lagi gerak cepat jadi kunci.

Meski secara demografi Indonesia dan Selandia Baru jauh berbeda, langkah-langkah yang telah terbukti berhasil mereka terapkan agaknya bisa jadi contoh juga untuk kita terapkan. Toh apa yang Selandia Baru lakukan sebenarnya juga bisa diupayakan setiap negara, yaitu percaya pada sains dan gerak cepat. Mari kita berdoa semoga kurva kasus Covid-19 di Indonesia bisa segera menurun. Tetap semangat!

Sudah waktunya kita lebih peduli, kenal, dan memahami virus corona yang sudah hidup di antara kita. Dapatkan E-book Panduan Normal yang Baru di sini.
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

colour my life with the chaos of trouble

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE