Cerita Miris Jadi ABK di Kapal Asing, Kerja Puluhan Jam dan Digaji Minim. Jauh dari Kata Manusiawi

Cerita ABK di kapal asing

Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kabar yang diwartakan stasiun TV Korea Selatan, MBC. Mereka melaporkan adanya dugaan eksploitasi dan pelanggaran HAM yang dilakukan kapal Cina Long Xing 629 kepada para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia. Kenapa kok justru Korsel yang membongkarnya? Katanya sih karena kapal penangkap ikan milik Cina itu sempat berlabuh di Busan, Korsel. Lalu ada orang Indonesia yang meminta pemerintah Korsel dan media-media Korea menyebarkan video pelarungan jenazah yang kemarin sempat viral.

Advertisement

Setelah ditelusuri ternyata ada 4 ABK Indonesia dari kapal yang sama yang meninggal dunia, sedangkan 5 lainnya selamat dan beruntung bisa memberi kesaksian kepada Kompas dalam sebuah wawancara online. Dan ternyata, kasus ABK di kapal Cina itu hanyalah puncak dari gunung es, artinya, masih banyak kasus serupa yang dialami para ABK asal Indonesia di kapal asing. Berikut segelintir kisah pilu mereka…

1. Lima ABK Indonesia yang selamat dari kapal LongXing 629 itu bernama RV, BR, KR, MY, dan NA. Dari kesaksian mereka, para ABK di kapal Cina itu bekerja puluhan jam dan tidur cuma 3 jam

ABK Indonesia yang bekerja di kapal Cina via www.kompas.com

Meski sudah ada undang-undang yang melindungi pekerja, nyatanya masih banyak kasus eksploitasi yang kita temui di zaman yang modern ini. Salah satunya yang biasa dialami para ABK Indonesia di kapal asing.RV, BR, KR, MY, dan NA adalah beberapa di antaranya. Mereka harus menelan kenyataan pahit ketika bekerja di kapal penangkap ikan milik Cina. ABK Indonesia di kapal itu harus kerja puluhan jam dengan waktu tidur hanya 3 jam. Makan cuma diberi waktu 10-15 menit, dan seringkali hanya diberi makan ikan untuk umpan.

Perlakuan itu disebutkan hanya dirasakan ABK Indonesia. Selain 9 ABK dari Indonesia, di kapal itu juga ada ABK dari Cina. Bedanya mereka diberi makan yang lebih bergizi. Minumnya air mineral, sedangkan ABK Indonesia cuma minum air sulingan dari laut. Perkara pelarungan jenazah 3 temannya itu (1 meninggal di Korea), mereka sebut melanggar perjanjian kerja. Mereka sudah memohon pada awak kapal supaya teman-temannya yang meninggal (dengan dugaan kelelahan) itu dimakamkan ketika mendarat, bukan “dibuang” ke laut. Namun, permintaan mereka ditolak.

Advertisement

2. Kasus yang menimpa para ABK di kapal Cina itu, mengingatkan pada peristiwa yang sempat juga dialami Saefudin belasan tahun silam. Ia adalah mantan ABK yang pernah bekerja di kapal berbendera Taiwan

Saefudin dan teman-temannya bersama petinggi kapal Taiwan via www.cnnindonesia.com

Ditemui CNN, Saefudin yang akrab disapa Aep, menceritakan betapa pahit pengalamannya menjadi ABK belasan tahun silam. Semua bermula tahun 2005, saat ia diiming-imingi tetangganya bekerja jadi ABK di kapal asing dengan gaji ratusan ribu dolar. Tanpa pikir panjang, Aep pun setuju. Dalam benaknya, bekerja di kapal asing itu bukan melempar jaring besar untuk cari ikan, tapi bekerja di kapal pesiar mewah yang gajinya bisa buat beli rumah di kampung.

Singkat cerita, saat Aep diminta menandatangani kontrak kerja, ia disodorkan lembaran kertas bertuliskan tulisan mandarin. Aep juga nggak diberi kesempatan menanyakan isi surat itu dan langsung suruh tanda tangan! Belakangan diketahui kalau ternyata isi surat itu adalah perjanjian kontrak kerja yang nggak masuk akal.

Mirip sama yang dialami ABK di kapal Cina di atas, Aep mengalami yang namanya kerja puluhan jam tanpa tidur dan istirahat. Anehnya, ia nggak pernah merasa capek karena diberi suntikan morfin dengan dosis tertentu untuk menjaga stamina! Di atas kapal juga nggak disediakan fasilitas kesehatan, dokter, atau perawat. Padahal kalau sudah berlayar, kapal akan berada di tengah laut selama berhari-hari. Aep juga bercerita ketika kapal Taiwan tempatnya bekerja dibajak perompak Somalia. Setelah insiden itu, Aep memutuskan keluar dari pekerjaannya dan pulang ke keluarganya. Menurutnya, menjadi ABK adalah pekerjaan yang sulit. Semakin miris karena perlindungannya minim.

Advertisement

3. Harus diakui kalau perlindungan dan pengawasan pemerintah Indonesia pada ABK ini memang masih minim banget. Bahkan banyak ABK yang berangkat lewat agen-agen gelap, yang dicari orang-orang miskin dan berpendidikan rendah

Pengawasan dan perlindungan ABK masih minim via regional.kompas.com

Apa yang dialami para ABK di atas adalah bukti nyata kalau perlindungan dan pengawasan ABK di Indonesia masih minim banget. Padahal negara kita negara terbesar penyumbang ABK setelah Cina dan Rusia. Masih banyak ABK yang jadi korban eksploitasi, mentang-mentang mereka miskin dan berpendidikan rendah.

Nggak sedikit juga yang bekerja tanpa sertifikasi atau pelatihan, modalnya paling cuma KTP, KK, ijazah, dan paspor. Akibatnya banyak yang “kaget” setelah kerja langsung di lapangan, karena nggak punya pengalaman sama sekali menangkap ikan, udah gitu terkendala kemampuan bahasa. Bisa jadi faktor ini juga yang mendorong adanya konflik di atas kapal. Kapten kesel karena kerjaan mereka nggak bener, dikasih tahu nggak paham, dan lain sebagainya.

Sedih banget ternyata melihat fakta-fakta miris di atas. Ya, walaupun nggak semua ABK bernasib buruk, tapi di lapangan, nggak sedikit mereka yang menderita di tengah laut. Mau protes nggak bisa, pulang nggak mungkin, minta perlindungan pemerintah juga rasanya hanya ilusi. Huhuhu, semoga segera ada kebijakan lebih tegas terkait hal ini ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE