Hakim Tak Percaya Nunung Depresi karena Cengengesan, Seberjarak itu ya Kita dengan Kesehatan Mental?

depresi tertawa

Sidang lanjutan terhadap Tri Retno Prayudati atau yang kerap disapa Nunung Srimulat terkait kasus penyalahgunaan narkobanya tersebut kali ini kembali mengundang perhatian. Bukan karena kasus yang menimpa komedian kawakan itu tak kunjung selesai, namun karena pernyataan dari hakim pengadilan yang mempertanyakan kondisi depresi Nunung.

Alih-alih fokus terhadap bagaimana menyeselesaikan kasus tersebut secara hukum berdasarkan kemampuannya, Hakim Djoko Indiarto malah mengomentari kondisi mental Nunung yang sama sekali bukan ranahnya. Hal tersebut ia lakukan karena menanggapi putusan dari dokter ahli yang menyebutkan bahwa Nunung mengalami depresi selama tiga tahun terakhir.

Dalam lanjutan kasus Nunung, hakim menyebut komedian tersebut tak mungkin depresi

Hakim Tak Percaya Nunung Depresi karena Cengengesan, Seberjarak itu ya Kita dengan Kesehatan Mental?

Hakim menepis keterangan bahwa Nunung alami depresi via nasional.republika.co.id

“Mbak Nunung setiap hari kerjanya cengengesan, kok bisa depresi? Kok enggak percaya, ya”, ucap Hakim Djoko Indarto kepada Kompas .

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh hakim yang menangani sidang pengadilan kasus Nunung setelah mendapat keterangan dari pihak ahli bahwa Nunung menggunakan obat-obatan karena depresi yang diidapnya. Berbagai respons di media sosial pun akhirnya bermunculan. Banyak yang menyayangkan bahwa apa yang dikatakan oleh hakim ini benar-benar suatu kepolosan yang menyakitkan. Laiya, lagian sih udah bener kiprahnya mengurus hal-hal yang terkait dengan hukum, pakai acara mengomentari kesehatan mental. Salah kaprah pula, duh pak hakim!

Padahal depresi memiliki beragam wajah, dan murung bukan satu-satunya

Hakim Tak Percaya Nunung Depresi karena Cengengesan, Seberjarak itu ya Kita dengan Kesehatan Mental?

Nunung memang kerap terlihat ceria di depan kamera via www.inews.id

Jika dilihat kembali, nama Nunung yang besar sebagai komedian memang tak bisa dilepaskan dari ekspresi cerianya. Cengengesan dan tetap tersenyum dengan santai dalam kondisi apapun. Mungkin itulah salah satu kebiasaan yang hingga kini menjadi kemampuannya. Pernyataan hakim yang mengatakan bahwa Nunung tak mungkin mengidap depresi karena setiap hari kerjanya cengegesan adalah bentuk gagalnya masyarakat memahami kondisi kesehatan mental.

Padahal, nggak semua orang yang terlihat senang dan tertawa sepanjang hari itu benar-benar bahagia. Ada kalanya hal-hal tersebut dilakukan oleh mereka untuk menutupi suatu kesedihan yang lebih besar. Saya kira pak hakim ini nggak pernah dengar pepatah bahwa orang-orang yang tertawa paling keras, bisa jadi adalah orang yang sebenarnya paling tersakiti.

Bahkan dalam beberapa kasus yang pernah terjadi, bunuh diri yang diakibatkan oleh rasa depresi benar-benar membuat banyak pihak terkejut. Tak jarang dari orang-orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya tersebut dikenal sebagai pribadi yang periang sehari-harinya. Kalau udah seperti ini, rasanya naif sekali mempercayai murung adalah satu-satunya bentuk depresi yang nyata.

Sebenarnya juga nggak salah-salah banget kok, apalagi mengingat latar belakang Djoko Indiarto ini adalah praktisi hukum, bukan dokter ataupun piskolog. Namun, bukankah lebih baik diam saja daripada mengomentari sesuatu yang memang sama sekali tak dikuasainya?

Kalau depresi hanya dinilai dari apa yang tampak di permukaan, apa kabar mereka yang ada di RSJ bahkan hampir tiap hari cengegesan?

Hakim Tak Percaya Nunung Depresi karena Cengengesan, Seberjarak itu ya Kita dengan Kesehatan Mental?

Terkadang luka bukan terletak pada tangisan via www.entertainmentpk.com

Pernyataan hakim yang terdengar tak berdasar tadi mengingatkan saya tentang bagaimana perjalanan hidup Joker yang begitu miris. Namun, ia tetap memilih tersenyum sebagai bentuk perlawanannya yang paling beringas di tengah jahatnya dunia. Ingatan ini juga menuntun saya tentang tragisnya kisah Kurt hingga Chester yang memilih untuk meninggalkan dunia di tengah namanya yang bertabur bintang.

Tak perlu jauh-jauh deh, sebagai seorang lulusan psikolog yang tentunya jauh dari kata ‘pakar’. Saya bisa mengatakan bahwa tak sedikit dari mereka yang menghuni Rumah Sakit Jiwa, menjalani waktu demi waktu kesehariannya dengan penuh tawa. Bahkan tampak lebih ceria dibandingkan dengan orang-orang di luar sana.

Memang benar, terkadang rasa sakit paling dalam itu bukan terletak pada tangisan, namun pada tawa yang nampak paling bahagia.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kadang menulis, kadang bercocok tanam

Editor

ecrasez l'infame

CLOSE