Semua cewek pasti ingin dibilang ‘cantik’. Mau yang tiap harinya emang hobi bersolek di depan kaca atau yang lebih suka apa adanya, cewek mana pun tidak bakal ada yang benci jika dipuji cantik oleh seseorang. Walaupun tiap orang hakikatnya terlahir dengan bentuk tubuh dan warna kulit yang berbeda-beda, namun definisi cantik itu tampaknya terus menyempit dan jadi makin spesifik. Terutama bagi perempuan. Tubuh langsing dan kulit putih mulus itu jadi rumus paling mendasar untuk disebut cantik, di hampir semua tempat di dunia. 

Meski sudah dianggap kewajaran, standar itu jelas bentukan manusia. Apa yang terpampang di media, film, dan iklan membentuk semua persepsi kita tentang siapa yang cantik dan siapa yang tidak. Makanya alangkah terkejutnya dunia ketika baru-baru ini ada sebuah iklan dari merek sport ternama, Adidas, yang berani menampilkan model dengan kulit yang tidak mulus sempurna. Bukan kenapa-kenapa, hanya kakinya saja yang dibiarkan berbulu alami karena sengaja tidak dicukur. Kalau itu terjadi di sekitar kita, paling orang bergumam ‘ih geli, kok jadi cewek males nyukur bulu kaki’, tapi karena terpampang di iklan internasional, semua berkomentar ‘kok berani sih‘. 

Banyak yang protes karena bulu kakinya mungkin merusak konsep kecantikan yang selama ini ada via www.bbc.co.uk

Advertisement

Padahal ya cuma bulu kaki doang lho. Mau cewek atau cowok, semua bulu kakinya juga bakal tumbuh terus kalau tidak dicukur. Namun realitanya, dunia mungkin belum siap melihat cewek dengan bulu kaki atau bulu ketiak lebat. Dilansir dari BBC, model Adidas dalam iklan tersebut, Arvida Byström, bahkan sampai mendapat banyak ancaman tidak senonoh seperti ancaman perkosaan hanya karena ‘berani’ menunjukkan sedikit bulu kakinya. Kok Adidas ‘berani’ ya?! Apa besok-besok semua model Adidas bakal begini?! Yuk simak kisah selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Iklan ini adalah rangkaian kampanye Adidas Superstar bertema authencity dan kreativitas masa depan. Arvida yang berani menawarkan definisi cantik di luar norma, terpilih merepresentasikan visi itu

Video kampanye berdurasi 15 detik yang diunggah pada akhir September kemarin, langsung jadi pembicaraan dunia. Kampanye ini punya misi yang unik, yaitu untuk menggambarkan authenticity atau keautentikan dan menggunakan kreativitas untuk menempa masa depan yang lebih baik. Ternyata pihak Adidas menilai konsep tersebut cocok dengan Arvida Byström. Dalam video tersebut, Arvida pun tidak ragu berpose dan menampilkan bulu kakinya yang terlihat jelas.

Arvida berpose sembari menceritakan pendapatnya tentang kefemininan yang menurutnya lahir dari masyarakat dan tidak seharusnya mutlak. Kebanyakan perempuan merasa takut untuk mengartikan sendiri bagaimana menjadi perempuan sebenarnya karena takut berlawanan dengan nilai-nilai yang sudah ada.

Model asal Swedia yang juga seorang fotografer ini, emang sudah terkenal tidak setuju dengan standar kecantikan yang ada. Lihat aja postingan-postingan di akun pribadinya

Pose pamer ketiak bersama buah cherry via instagram.com

Advertisement

Arvida Byström merupakan seorang model yang juga fotografer asal Swedia. Di sosial media terutama akun Instagram pribadinya, ia seringkali mengunggah foto dirinya dan tidak segan memperlihatkan bulu di tubuh seperti bulu ketiak dan bulu kakinya. Dilansir melalui Boredpanda, Arvida juga dikenal sebagai ikon perlawanan stereotip dan jadi aktivis “no shave movement” atau gerakan anti cukur bulu. Anggapan yang jelas berbeda dengan opini kebanyakan orang jelas saja banyak menimbulkan cibiran. Meskipun bagi beberapa orang yang berpikiran terbuka menganggap tindakannya itu sah-sah saja dan tidak menyalahi aturan.

Hanya karena terlibat dalam proyek terbaru brand terkenal, Arvida jadi bahan bulan-bulanan netizen yang menganggapnya menjijikan. Bahkan ia mengaku dapat ancaman tindakan asusila

Karena postingan medsos dan iklan Adidas tersebut, Arvida sendiri mengaku bahwa ia kerap mendapatkan cibiran, protes, bahkan sampai ancaman tidak senonoh lewat DM Instagram-nya. Melalui kutipan di unggahannya Arvida menuliskan, “… Aku benar-benar mendapat ancaman perkosaan di DM inbox…”

“Dia bukanlah seorang perempuan, dia seorang monyet…ayolah cukur itu semua!” Kenzo Kabuto

“Mengerikan! Bakar itu dengan api! Cukur bulu kakimu, jal*ng, atau pakailah celana!” Schissgring

“Inikah yang perempuan inginkan? Tidak, terimakasih. Aku menyukai kultur dan nilai-nilai Eropa. Seorang perempuan harus menjaga penampilannya, pergilah kursus, ini konyol!” MrPaperclip82

Tapi nggak sedikit juga yang punya opini untuk membela Arvida. Masa’ hanya karena Arvida menumbuhkan bulu, semua orang pada repot-repot menebar kebencian?

Komentar beberapa pemirsa Youtube via youtube.com

Sebenarnya dalam kampanye ini Adidas tidak hanya mendapuk Arvida Byström, banyak model lain yang merepresentasikan authenticity di berbagai sudut pandang. Mulai dari model dengan kulit penuh luka, model berbadan gemuk, hingga model gay dan berkulit hitam. Namun nampaknya video Arvida lah yang paling banyak menyita perhatian. Berbagai sudut pandang yang diusung Adidas memang memunculkan banyak opini baru seputar perubahan dan keterbukaan. Banyak juga yang merasa bahwa Arvida telah menyuarakan keresahannya dimana cewek kebanyakan dituntut mencukur bulu.

“Wow, aku terkesan! Akhirnya ada orang yang mengingatkan masyarakat agar kita menjadi diri sendiri. Jempol untukmu, Adidas, dan terimakasih! Kerja marketing yang bagus!” Naska

“Kamu harus memutuskan untuk dirimu, akan mencukur bulu atau tidak. Atau yang lain yang akan kamu lakukan pada tubuhmu sendiri.” Linonono

Adidas angkat bicara, pihaknya mengatakan kalau kolaborasi ini ditujukan untuk menyambut hal-hal positif, topik dikursif, dan perubahan

Pose Arvida di akun Instagram pribadinya via www.instagram.com

Seperti yang dilansir BBC, pihak Adidas justru merasa bahwa suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan Arvida untuk kemajuan kretivitas, perbedaan, dan ide-ide unik yang disumbangkan pada Adidas. Meski awalnya menimbulkan perdebatan, Adidas berharap bahwa suatu saat topik yang menimbulkan pro kontra ini bisa mngacu ke perubahan yang lebih baik. Kalau dipikir-pikir, paksaan untuk cantik saja sudah meberikan tekanan pada perempuan. Apalagi tuntutan kalau kaki harus mulus tanpa bulu? Padahal, proses waxing bukan tanpa rasa sakit lho!

Terlepas dari kontroversi soal bulu… Intisari yang bisa kamu dapat dari masalah ini adalah bagaimana kamu berani tampil untuk jadi diri sendiri. Seperti kata expert, Be youself because everyone is already taken. Kalau kamu nggak tampil jadi diri sendiri, mau tampil jadi siapa lagi? Apalagi buat cewek-cewek nih, kalau memang tuntutan yang ada di masyarakat justru membuatmu tertekan, ya jangan lakukan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya