Pernahkah terbesit di pikiran kalian semua untuk sekedar mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita pandang biasa, normal, atau sudah selumrahnya tapi sebenarnya kalau direnungkan mungkin minim faedah. Tanpa bermaksud menghakimi atau menjatuhkan fatwa, sudah berasa MUI aja, Hipwee tiba-tiba penasaran saja sama kisah cinta antara cewek dengan make-up yang sepertinya tidak ada matinya.

Harus banget ya cewek pakai make-up

Advertisement

Mungkin sebagian dari kalian akan bereaksi mencibir karena tidak pernah merasa terpaksa pakai make-up dan justru menikmati tiap proses dari rias-merias. Tapi mungkin ada juga sebagian dari kalian yang mengamini pernyataan itu karena dengan kemampuan make up-mu yang dibawah rata-rata, kamu seringkali kalang kabut kalau harus ‘memantaskan diri’ untuk acara formal. Tapi tidak peduli kamu cinta mati sama make-up, cinta sekedarnya, ditolak cintanya sama make up mau belajar gimana aja masih belepotan, atau kamu yang sama sekali tidak minat, tampaknya tidak ada yang bisa sangkal persetujuan umum kalau sudah selumrahnya cewek itu bersolek.

alicia-keys-1

Pemotretan tidak disengaja yang memberinya keberanian untuk menanggalkan topeng riasan via classpass.com

Perbincangan tentang hubungan cewek dan make up ini tiba-tiba ramai dibicarakan di media internasional ketika sosok penyanyi R&B kelas dunia yang melantunkan lagu If I Ain’t Got You , Alicia Keys mengumandangkan komitmen untuk berhenti menggunakan make up dalam kondisi apapun. Tidak di rumah, di panggung, di karpet murah, atau di TV ketika jadi juri di The Voice America. Itu adalah komitmen besar yang sama sekali tidak pernah terpikirkan akan keluar dari artis cewek yang sepanjang karier nya berdiri di depan kamera dengan riasan penuh.

Dalam esai singkatnya di Lenny, Keys menjelaskan bagaimana dia menemukan kebebasan diri yang sebenar-benarnya ketika memutuskan menanggalkan make up untuk selamanya. Keberanian yang tidak dimiliki oleh sebagian besar kaum hawa kekinian ini juga sebenarnya datang secara tidak sengaja untuk Keys. Di sesi pemotretan album terbarunya In Common, fotografer Paola Kudacki tiba-tiba saja langsung memotret Keys begitu datang dari gym, tanpa ganti baju, cuci muka, dan tentunya tanpa riasan. Pengalaman itu menjadi titik balik pribadi yang Keys harap dapat menginspirasi revolusi untuk menggugat kelumrahan yang sudah lama diterima semua orang.

1. Sudah sewajarnya kamu tahu standar kecantikanmu itu hasil dikte-an media. Tiap tahun harus ganti mengikuti trend make up yang tidak jelas juga siapa yang memutuskan.

Kenapa juga harus terkejut melihat muka tanpa riasan di karpet merah.

Tahun ini riasan NoMakeUp belum jadi trend di karpet merah via nymag.com

Advertisement

“One of the many things I was tired of was the constant judgment of women.” – Alicia Keys-

Sudah terlalu lama definisi kecantikan menjadi monopoli industri. Perempuan dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa dia yang cantik adalah dia yang berkulit putih nyaris transparan, langsing semampai bagai model di catwalk, dan rambut hitam berkilau lurus tanpa ketombe. Tak ada tempat untuk dia yang berkulit gelap, badan berisi (baca: overwight), dan rambut keriting kaku. Untuk disebut cantik, mau tidak mau kita harus mengikuti definisi itu. Karenanya, industri kecantikan menciptakan produk-produk yang bisa memutihkan kulit, pil-pil diet yang membuat berat badan berkurang 5 kilo dalam waktu satu minggu, dan obat-obat melurus rambut yang menjadikan rambutmu seperti bintang iklan di televisi. Solusi-solusi dilemparkan, agar kita bisa cantik seperti barbie.

2. Berawal dari standar, perempuan berlomba-lomba untuk menempatkan diri. Menyembunyikan diri sendiri di balik makeup, seolah dirinya sendiri tak layak untuk dikenali

Tidak sudi mengubah

Tidak lagi sudi harus sibuk memilih riasan tiap harinya hanya untuk dipandang pantas..sesuai trend saat ini via static.independent.co.uk

“I started, more than ever, to become a chameleon. Never fully being who I was, but constantly changing so all the “they’s” would accept me.” – Alicia Keys-

Karena sudah digaungkan sedemikian lamanya, perempuan pun tak punya pilihan lain. Supaya disebut cantik dan seksi, dia harus menjadi seperti apa yang sudah dicanangkan dalam standar. Ketika rambut lurus seperti lidi mendominasi, kita datang ke salon setiap tiga bulan sekali untuk memastikan rambut tetap lurus tak ada lekuk sama sekali. Lantas ketika rambut lurus yang mengikal di ujung-ujungnya mulai populer, kita pun ikut merayakan pergantian mode. Perlahan-lahan, diri sendiri menghilang, karena atas nama trend kecantikan, kita sibuk mengubah diri demi bisa diterima. Makeup menjadi kewajiban sehari-hari, pantang keluar tanpa menutupi diri sendiri. Seolah apa adanya diri kita, yang tanpa makeup dan gaya khas yang membuat nyaman, tak pantas untuk dilihat orang lain.

3. Makeup bukan barang yang murah. Demi dianggap punya aspek ‘beauty’ perempuan harus mengeluarkan anggaran kecantikan. Sementara kecantikan dalam diri justru tidak diurusi

Tidak seharusnya definisi sempurnamu selalu didikte katalog make up

Tidak seharusnya definisi sempurnamu selalu didikte katalog make up via cdn.skim.gs

“Hiding a piece of who you are in order to fit into a picture of what others seem to see as perfection.” -Alicia Keys-

Dalam makeup pun sudah ada level dan kasta yang harus dituruti. Makeup yang bagus tentu yang harganya berdigit-digit yang sekali beli bisa untuk uang makan satu atau dua minggu. Sementara dia yang tak punya cukup uang, harus cukup puas dengan makeup KW yang bila tertangkap mata kritikus fashion tentu akan menjadi bahan bulan-bulanan. Cantik itu mahal. Belum lagi beragam treatment kecantikan yang menyiksa dan penunjang penampilan sepeti highheels yang berbahaya untuk kesehatan. Dan itu semua kita lakukan untuk siapa? Sepadankah bila kita melakukan itu semua hanya supaya diterima dan diakui, serta sedap dipandang oleh kaum adam?

4. Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi cantik. Asalkan itu untuk diri sendiri, bukan sekadar demi dinilai dan diakui oleh orang-orang yang bahkan tidak mengerti

alicia-keys-without-makeup-the-voice

Sosok inspiratif yang berani tampil di TV tanpa riasan, bisa jadi trend make up terbaru untuk generasi muda #NoMakeUp via ell.h-cdn.co

“I believe this is the time of the woman. The definitive moment when we get to uncover the ideals that have been placed upon us and be who we are, as we are, in all of our beauty, depth and complexity. For me, not wearing much makeup is a metaphor for that.” -Alicia Keys-

Bukan bermaksud menghakimi dia yang ingin terlihat cantik dengan penampilan sempurna. Itu sifat yang sangat menusiawi. Toh, manusia memang makhluk seni yang dikaruniai keindahan dan harus disyukuri. Ingin tampil cantik itu hal yang biasa. Tapi menjadi cantik bukan semata-mata seberapa lentik bulu mata yang kamu kenakan, atau apa merk bedak yang kamu pakai, dan warna gincu apa yang cocok dengan warna baju yang kamu pilih. Menjadi cantik adalah bagaimana kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Hal ini bisa terjadi ketika kamu ingin menjadi cantik untuk dirimu sendiri, bukan sekadar mencari pengakuan dari kaum adam ataupun menuruti standar industri.

5. Alicia Keys menegaskan bahwa melepaskan diri dari makeup, sama seperti pembebasan diri. Mimpi, pikiran, jiwa, dan emosi, pantas kamu miliki dan kendalikan sendiri

Bercak-bercak hitam di wajah pun bagian dari diriku, siapa yang berani bilang itu ketidaksempurnaan

Bercak-bercak hitam di wajah pun bagian dari diriku, siapa yang berani bilang itu ketidaksempurnaan via aliciakeysdaily.com

“Cause I don’t want to cover up anymore. Not my face, not my mind, not my soul, not my thoughts, not my dreams, not my struggles, not my emotional growth. Nothing.” -Alicia Keys-

Alicia percaya bahwa sudah saatnya perempuan melepaskan diri dari segala standar yang mengaturnya. Saatnya berontak dari gambaran ideal dari sosok perempuan yang diinginkan dan mulai berbangga hati dengan keunikan-keunikannya sendiri. Sudah saatnya menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, tanpa perlu menutup-nutupi hanya agar bisa diterima. Menjadi lebih baik setiap harinya tidak berarti menghilangkan jati diri demi sebuah pengakuan eksistensi. Kampanye #NoMakeUp bukan sekadar perayaan atas kebebasan keluar tanpa riasan, melainkan juga sebuah perayaan atas kebebasan substansial lainnya, yang membuktikan bahwa perempuan punya hak untuk berpikir, bermimpi, dan berekspresi.

“I felt powerful because my initial intentions realized themselves. My desire to listen to myself, to tear down the walls I built over all those years, to be full of purpose, and to be myself!” -Alicia Keys-

Sudah terlalu lama perempuan dijadikan objek kecantikan yang dikenai berbagai ketentuan ini dan itu. Gerakan #NoMakeUp ini sebaiknya dimaknai sebagai sebuah metafora dari sebuah aksi pembebasan diri dari belenggu standar masyarakat yang selalu timpang sebelah. Menjadi cantik tidak harus identik dengan makeup tebal ataupun kaki jenjang. Sebab dalam diri kita, barangkali tersimpan begitu banyak potensi. Dan jangan sampai itu terabaikan karena kita terlalu sibuk mempercantik diri. Belajar menerima diri sendiri, salah satunya dengan berusaha menjadi cantik untuk diri sendiri.

Barangkali makeup bagus sejauh itu sarana ekspresi diri, bukan tempat persembunyian hanya agar bisa diakui. Ini tidak berarti bahwa dia yang tidak bermakeup sudah pasti lebih baik dari dia yang cantik bermakeup. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menilai diri sendiri. Sebab bagaimana kamu menerima dirimu sendiri, jauh lebih penting daripada bagaimana orang lain menerimamu selama ini.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya