Pernahkah kamu membayangkan, apa yang akan terjadi kalau teknologi semakin canggih? Bagaimana jika di masa mendatang kemampuan komputer bahkan bisa melebihi otak manusia? Apakah ada ketakutan dalam dirimu bahwa kelak manusia justru bisa dikendalikan oleh mesin? Jangan-jangan kamu bahkan nggak percaya bahwa hal-hal di atas sangat mungkin terjadi?

Sekarang coba bayangkan deh, sebuah mesin pencarian macam Google bisa memprediksi apa yang kira-kira akan kamu ketik di kolom pencarian. Belum lagi mobil yang nggak lagi perlu sopir untuk bisa melaju. Atau robot yang bisa melayani manusia mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai kebutuhan ranjang! Betapa teknologi telah berubah sebegitu canggihnya. Ilmu komputer telah berkembang ke arah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Produk-produk AI ini mampu meniru kemampuan dan kecerdasan manusia. AI sendiri sebenarnya telah dikembangkan sejak 20 tahun terakhir.

Advertisement

Kamu yang bekerja di perusahaan teknologi pasti sangat memahami AI ini. Baru-baru ini, seorang mantan karyawan Google, Anthony Levandowski, dikabarkan mengajukan pendirian sebuah organisasi ‘Way of The Future’ (Jalan Masa Depan) ke pemerintah negara bagian California, Amerika Serikat. Salah satu tujuan pendirian organisasi itu adalah untuk membuat agama baru! Agama ini menganggap AI sebagai tuhan lho! Berikut Hipwee News & Feature telah merangkum 4 fakta soal keyakinan ini. Yuk, simak!

Orang-orang yang mengagungkan mesin ini tergabung dalam sebuah kepercayaan yang menganggap AI sebagai figur tuhan

Kecerdasan buatan vs kecerdasan manusia via www.cuelogic.com

Agama ini hadir atas keyakinan bahwa mesin akan mampu menciptakan kecerdasan lain yang derajatnya lebih tinggi dari kecerdasan manusia sendiri. Kecerdasan mesin itulah yang disebut sebagai kecerdasaran buatan atau AI. Kemampuannya yang bisa melebihi manusia ini akhirnya membuat para pengikutnya, yang mayoritas adalah para pengembangnya ssendiri, menganggap AI sebagai tuhan. Padahal kalau dipikir-pikir AI ini ‘kan yang menciptakan manusia juga ya. Kalau nggak ada manusia juga AI nggak bakal terbentuk. Hmm..

Tujuan pendirian agama ini adalah untuk membuat kehidupan sosial menjadi lebih baik

Membuat kehidupan manusia lebih baik via www.forbes.com

Katanya sih tujuan agama ini dibentuk adalah untuk mengembangkan kesadaran manusia akan pentingnya kecerdasan buatan terutama bagi kehidupan makhluk di bumi. Selain itu mereka yang ada di balik agama ini juga mengaku bisa membuat kehidupan sosial lebih baik karena kontribusi ‘tuhan’ mereka itu. Tapi meski tujuan agama ini secara garis besar sudah banyak diketahui publik, organisasi tetap memilih menutup diri dan nggak membocorkan satupun kegiatan mereka lho!

Levandowski menjadi CEO dan Presiden organisasi ‘Way of The Future’ yang membawa agama baru tersebut

Anthony Levandowski via fakta.news

Advertisement

Anthony Levandowski bukanlah nama yang baru di dunia teknologi. Levandowski dikenal bahkan sejak ia berkuliah di jurusan Teknik Industri dan Riset Operasi, University of California, Berkeley, AS. Saat masih kuliah sekitar tahun 2004, Levandowski bersama temannya membangun sebuah motor otonom (tanpa pengemudi), untuk dikompetisikan di DARPA Grand Challenge. Motor yang dijuluki Ghostrider itu menjadi satu-satunya motor otonom dalam kompetisi tersebut, dua tahun berturut-turut.

Pada tahun 2007, Levandowski bergabung di Google dan menjadi salah satu orang penting yang mengembangkan kecerdasan buatan untuk proyek mobil pintar Google, Waymo. Namun 2016 lalu ia memutuskan keluar dari Google dan mendirikan startup pembesut mobil pintar Otto. Otto kemudia diakuisisi Uber. Tapi sayang, Levandowski justru dituduh melakukan plagiarisme dengan memakai teknologi Waymo-nya Google untuk ia pakai di Uber. Ia pun pergi meninggalkan Uber pada Mei 2017 lalu. Dan sekarang, ia sedang mengembangkan organisasi keagamaannya sebagai CEO dan Presiden.

Meski begitu tak sedikit ilmuwan yang justru memeringatkan bahwa AI bisa jadi ancaman bagi peradaban manusia

Profesor Stephen William Hawking via time.com

Tokoh seperti Elon Musk, Bill Gates, dan Stephen Hawking, adalah sederet ilmuwan yang justru mengimbau agar AI tidak digunakan sembarangan. Pasalnya AI berisiko membahayakan manusia kalau terus dikembangkan. Hawking, kepada BBC, mengatakan ketakutannya bahwa suatu saat peradaban manusia bisa tersingkir karena AI akan terus berkembang dan meningkat kemampuannya. Sementara manusia terbatas kondisi biologis. Bisa meninggal dan punya keterbatasan fisik.

Sedangkan Eric Schmidt, mantan CEO Google justru menganggap enteng masalah ini. Menurutnya kalau memang suatu saat terjadi pemberontakan AI, manusia bisa mengatasinya dengan mudah. Tinggal matikan saja komputer tempatnya berada. Google sendiri katanya sih sedang mengembangkan mekanisme ‘tombol darurat’ kalau-kalau sesuatu burutk terjadi. Misalnya sebuah program dalam robot atau mesin mulai kacau, pencet saja tombol itu.

Mungkin bagi kita yang buta soal teknologi, kemungkinan-kemungkinan tersebut akan sulit dinalar otak kita. Tapi setidaknya dengan adanya isu ini bisa jadi pelajaran bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu justru nggak baik. Semoga aja sih kita bisa lebih bijak dalam mempergunakan teknologi ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya