Mau Curhat? Begini Etika yang Nggak Boleh Diabaikan. Biar Nggak Dicap Teman yang Menyebalkan~

Etika curhat yang benar

Banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang nggak bisa kita simpan sendirian. Saat jatuh cinta, patah hati, gagal tes CPNS, sampai ketika idola kena skandal, kita akan butuh seseorang untuk diajak berbagi alias curhat. Bahkan, rasanya nggak berlebihan kalau kita bilang bahwa curhat merupakan suatu kebutuhan bagi individu ketika nggak bisa menghadapi permasalahan sendiri. Bagaimana pun mencurahkan isi hati atau unek-unek bisa membuat kita lebih lega.

Sayangnya, nggak semua sesi curhat berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Menceritakan masalah dengan segala emosi dan perasaan pada orang terdekat sering kali membuat kita justru melakukan kesalahan. Alih-alih bisa lega dan tenang, curhat kadang justru membuat orang yang kita curhati nggak nyaman dan menganggap kita menyebalkan. Kok bisa?

Coba deh, ingat lagi seberapa sering kamu curhat ke teman atau sahabat, tapi nggak puas, bahkan merasa diabaikan. Kalau nggak begitu, kamu mungkin pernah menangkap gelagat temanmu yang kurang nyaman dan bosan saat kamu bercerita.

Melansir dari Quartz, ketika proses curhat nggak berjalan sesuai harapan, bisa jadi ada hal yang salah dari cara kita meminta teman untuk mendengarkan. Hal ini bisa jadi karena tindakan impulsif kita untuk curhat yang kurang tepat dengan situasi yang sedang mereka hadapi. Maka dari itu, meski curhat dilakukan dengan orang terdekat kita tetap harus memahami etikanya.

Kecenderungan sikap  yang sering kita lakukan sebagai orang yang sedang butuh curhat kadang membuat orang lain kurang nyaman, bahkan merasa sebal

Kalau mau curhat jangan memaksa | Credit by Liza Summer on Pexels

Ketika sedang butuh curhat kadang diri kita merasa menjadi manusia paling menyedihkan atau paling butuh diperhatikan. Kondisi ini membuat ego kita semakin besar untuk menuntut seseorang memberikan perhatian penuh sebagai pendengar. Alih-alih menanyakan kabar atau kesibukan, kadang kita justru langsung memberondongnya dengan keluh, kesah, luapan kesedihan, hingga sumpah dan serapah.

Hal tersebut membuat kita mengabaikan banyak hal mulai dari kondisi fisik dan mental teman yang dicurhati, kurangnya rasa empati, hingga pemaksaan untuk mendengarkan tanpa disadari.

Sikap seperti ini harus kita hindari saat butuh teman curhat. Sebab, sesi curhat yang harusnya tenang dan bisa membangun energi positif justru akan berlangsung penuh emosi, bahkan dramatis. Apalagi, saat kita menghubungi teman untuk curhat, belum tentu ia sedang santai dan bisa diganggu. Jika ini terjadi dan kita memaksakan keadaan untuk curhat, maka tujuan curhat nggak bisa kita dapatkan sesuai harapan.

Kenali venting dan emotional dumping yang muncul saat curhat. Perhatikan mana yang boleh dan nggak boleh dilakukan!

Sesi curhat bisa kacau kalau sampai terjadi emotional dumping | Credit by Liza Summer on Pexels

Curhat dianggap sebagai cara untuk meluapkan emosi, baik itu sedih, kecewa, dan marah. Namun, sering terjadi ketika orang yang curhat justru menularkan energi negatif pada orang yang mendengarkan curhatannya. Mengutip dari Dr. Nicole LePera, luapan emosi yang berlebihan saat curhat disebut juga dengan emotional dumping atau luapan emosi yang membuat orang lain merasa nggak nyaman. Emotional dumping merupakan curhat yang nggak sehat karena kita hanya mementingkan kondisi, emosi, dan perasaan diri sendiri.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis