Sempat Berpotensi Tsunami, Inilah Fakta Gempa Banten 6,9 SR yang Hebohkan Jakarta dan Sekitarnya

Gempa bumi Banten

Masyarakat Indonesia kembali dikejutkan akan adanya aktivitas gempa bumi yang terjadi sekitar 60 detik lamanya. Getaran yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya ini berpusat di Banten, Jawa Barat. Dan, yang membuat sebagian masyarakat bergidik ngeri adalah kekuatan gempa ini yang awalnya disebut bermagnitudo 7,4. Bahkan, menurut data yang dilaporkan oleh BMKG, kedalaman pusat gempa ini hanya berjarak sejauh 10 km.

Advertisement

Nggak cuma terasa di sekitaran Jakarta, gempa yang sempat dilaporkan oleh BMKG berpotensi tsunami ini juga terasa hingga ke kota Jogja. Hal tersebut sontak membuat masyarakat yang berada di sekitar pusat gempa menjadi berhamburan ke luar rumah. Namun, BMKG akhirnya menarik peringatan bahaya tsunami tersebut pada malam harinya pukul 21.40 WIB.

Gempa bumi kali ini berkekuatan cukup besar dan sempat dinyatakan berpotensi tsunami oleh BMKG

Melansir dari akun Twitter resmi @infoBMKG, gempa yang berpusat 147 kilometer di sebelah barat daya Kecamatan Sumur, Pandeglang Banten ini terjadi pada Jumat, 2 Agustus sekitar pukul 19.03 WIB. Gempa ini memiliki kekuatan sebesar 7,4 SR, dan berkedalaman hanya 10 km. Karena besarnya dan kedalaman pusat gempa yang hanya berjarak 10 km inilah maka akhirnya saat itu juga BMKG secara resmi memberikan peringatan bahaya dini akan ancaman tsunami.

Advertisement

Awalnya memang gempa dilaporkan berkekuatan 7,4 SR, tapi setelah dilakukan pemutakhiran data dan analisis lebih dalam, BMKG menyatakan kalau gempa kemarin bermagnitudo 6,9, seperti dilansir Detik.

Gempa yang bikin seluruh warga Jakarta, termasuk pekerja-pekerja kantoran yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu panik, disebabkan oleh aktivitas lempeng di dasar laut

Pusat gempa Banten 2 Agustus via twitter.com

Melansir dari pernyataan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang tertulis di web resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa terpusat di kawasan perairan Banten ini disebabkan oleh adanya aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Advertisement

Selain itu, PVMG juga menjelaskan batuan berumur kuarter dan tersier di pusat gempa telah mengalami pelapukan bersifat urai. Hal tersebutlah yang makin membuat efek guncangan gempa ini terasa semakin keras.

Seperti banyak bencana pada umumnya yang “dibumbui” kabar hoaks, kemarin juga sempat beredar kabar kalau air Pelabuhan Ratu menjadi naik. Padahal faktanya nggak gitu

Namanya juga orang nggak bertanggung jawab, setiap ada bencana alam pasti ada aja yang berbuat merugikan orang lain. Salah satunya adalah dengan menyebarkan kabar-kabar hoax yang nggak dapat dipercaya dari mana asalnya dan gimana kebenarannya, seperti kabar kalau air di perairan Pelabuhan Ratu sudah naik, sebagai tanda adanya tsunami.

Namun, akhirnya hal tersebut telah dikonfirmasi secara langsung di tempat kejadian bahwa perairan di Pelabuhan Ratu setelah terjadi gempa masih bersifat normal dan nggak mengalami kenaikan signifikan yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat. Lain kali hati-hati ya kalau ingin menyebarkan kabar, apalagi dalam kondisi seperti ini.

Sekitar 2 jam lebih setelah gempa terjadi, akhirnya BMKG mencabut peringatan tsunami yang sempat bikin orang kalang kabut

Setelah sempat memberikan peringatan dini tentang bahaya tsunami yang akan terjadi terkait gempa bumi ini, akhirnya pihak BMKG mencabut pernyataan tersebut. Mereka menyatakan berakhirnya peringatan dini tsunami pada malam harinya sekitar pukul 21.40 WIB.

Namun, meskipun BMKG secara resmi telah menarik peringatan dini tentang bahaya tsunami tersebut, alangkah baiknya jika kalian tetap waspada di manapun kalian berada. Apalagi bagi kalian yang berada nggak jauh dari pusat gempa semalam. Meskipun dapat diprediksi, yang namanya bencana alam pasti selalu susah untuk ditebak. Tetap berhati-hati ya di manapun kalian berada, dan jangan gegabah untuk menyebarkan berita terkait bencana alam!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An amateur writer.

CLOSE