Bang bing bung, yok, kita nabung!

Sepertinya di masa millennial ini, gaungan dan ajakan menabung sudah sangat jarang ditemui. Padahal, kebutuhan makin hari makin bertambah. Pada zaman sebelumnya yang sering disebut sebagai ‘zaman old’, mereka yang sudah menduduki usia produktif dan bekerja hampir semuanya memprioritaskan menabung untuk membeli rumah tinggal yang layak. Seseorang dikatakan sukses ketika sudah merdeka dan punya rumah sendiri, bukan menyewa, bukan juga mengontrak.

Advertisement

Tapi tren saat ini seperti agak bergeser dari yang memprioritaskan hunian menjadi memprioritaskan liburan dan pengalaman. Bukanlah hal yang salah, namun sembari generasi millennial hobi traveling ke luar negeri ternyata harga properti dan tanah makin gila-gilaan. Sudah bisa dibilang nggak masuk akal deh. Lalu dengan penghasilan rata-rata generasi millennial yang pas-pasan ini benarkah semua jadi terancam nggak punya rumah tinggal pribadi? Nah langsung aja kita bahas bareng Hipwee News & Feature ya!

Harga properti di Jakarta sudah bisa dibilang nggak masuk akal. Yogyakarta yang UMP-nya tergolong rendah pun, harga tanahnya melonjak gila-gilaan

Tinggal di perkotaan via www.ft.com

Rumah biasanya jadi ukuran ‘mapan’ seseorang. Namun jika harganya makin melonjak dari hari ke hari, tentu untuk mencapai kemapanan adalah hal yang sangat sulit. Dilansir dari Detik, saat ini rata-rata harga rumah di Jakarta dengan kelas cluster adalah Rp1 miliar. Sedangkan upah pekerja dan karyawan sepertinya masih jauh untuk bisa ditabung dan mendapat harga demikian. Sebenarnya menabung memang solusi yang tepat banget, tapi kalau kebutuhan makin naik dan makin nggak ada yang ditabung gimana cara menabung ya?

Hampir senada dengan di Jakarta, Yogyakarta sebagai kota besar juga gila-gilaan soal harga tanah. Harga tanah di pusat kota seperti Malioboro dan Jalan Solo bisa mencapai Rp30 juta per meter. Padahal kalau menilik upah minimum pekerja di Yogyakarta masih sangat jauh, bahkan pada 2017 UMP di Yogyakarta hanya berkisar Rp1.454.154. Wah gimana mau nabung ya, kenyataan ini justru bikin generasi millennial makin pesimis.

Solusinya, generasi millennial beberapa tahun mendatang pun mungkin masih mengandalkan rumah sewa atau tinggal di luar perkotaan

Nggak mungkin ‘kan pilih beli kuota tapi nggak bisa bayar kosan via sinarharapan.net

Advertisement

Kalau keadaan terus seperti ini terpaksa para generasi millennial beberapa tahun mendatang ketika sudah berkeluarga, akan memilih rumah sewa atau tinggal jauh dari perkotaan dengan harga tanah dan properti yang lebih murah. Rumah sewaan mungkin bisa digunakan jadi alternatif solusi, tapi hal ini tidak bisa bertahan selamanya. Apakah selamanya kamu akan tinggal dengan istri dan anak-anakmu di rumah sewaan? Solusi lainnya, tentu dengan memilih dengan tinggal di luar perkotaan. Namun kamu juga perlu memikirkan transportasi menuju kantor atau tempatmu bekerja.

Selain harga properti mahal, punya rumah sendiri tampaknya juga nggak lagi jadi prioritas utama bagi anak muda

Banyak kebutuhan lifestyle lain yang lebih diprioritaskan via www.kanal247.com

Kesukaan dan hobi generasi millennial memang nampaknya menggeser prioritas ya guys. Siapa sih yang nggak tergiur untuk berburu tiket murah ke luar negeri dan jalan-jalan untuk melihat hal-hal baru? Berfoto dan mengabadikan momen bahagiamu di media sosial. Rasanya kalau sudah pernah berpetualang ke luar negeri, Jepang, Korea, bahkan Eropa itu achievement unlock deh. Pergeseran lifestyle seperti ini sedikit banyak mempengaruhi daftar prioritas kehidupan anak muda masa kini.

Ya sah-sah aja sih kalau kamu memang tipe yang menganggap pengalaman itu jauh lebih berharga dibanding kepemilikan material. Tapi kalau kamu memang pengen memiliki rumah atas namamu sendiri, mungkin sebaiknya jangan ‘terlena’ dengan tren kekinian yang seperti ini. Karena hidup cuma sekali, ya ketahui rumus bahagiamu masing-masing ya guys!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya