GNFI Ungkap Pandangan Anak Muda Terhadap Bangsa Lewat Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020

Memiliki sikap optimistis adalah penting bagi setiap individu untuk berkembang. Namun, sikap pesimistis kadang juga dibutuhkan sebagai landasan kritis untuk menggugat hal-hal yang berjalan kurang baik. Sederhananya, optimisme kita butuhkan untuk pemicu dalam diri, sementara pesimisme untuk memicu hal yang berada di luar kendali kita. Idealnya tentu saja optimisme harus mendominasi pesimisme. Karena kalau malah sebaliknya, artinya banyak dari kenyataan yang sedang berjalan kurang baik.

Advertisement

Nah, faktor yang membentuk sikap-sikap tersebut tentunya bisa beragam. Mulai dari kemampuan diri, lingkungan sosial, hingga bahkan keadaan suatu bangsa. Mengingat kondisi Indonesia dan dunia sedang nggak baik-baik saja akibat pandemi Covid-19, ditambah berbagai persoalan lain, bagaimanakah pandangan generasi muda terhadap perkembangan bangsa? Optimistis kah, atau malah pesimistis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Good News From Indonesia (GNFI), media yang rutin memberitakan nilai positif Indonesia, melakukan survei yang menghasilkan Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia tahun 2020.

Optimisme generasi muda dilihat dari lima sektor utama di Indonesia

CEO GNFI Wahyu Aji dalam Peluncuran Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020 via Zoom, Rabu (26/8/2020) (tangkapan layar) via www.hipwee.com

Sebelumnya GNFI sudah dua kali menggelar survei serupa, dan melakukannya lagi pada tahun ini di bulan Juli hingga Agustus 2020. CEO GNFI Wahyu Aji, menjelaskan survei kali ini merupakan penyempurnaan dan pengembangan dari survei sebelumnya, dengan membagi perhatian pada lima area utama yang dikaitkan dengan optimisme generasi muda. Yaitu bidang Insfrastruktur Dasar, Politik dan Hukum, Ekonomi dan Kesejahteraan, Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kehidupan Sosial. Ia juga mengatakan, studi ini diharapkan bisa sekaligus menggambarkan bagaimana pandemi turut memengaruhi optimisme generasi muda terhadap perkembangan bangsa.

“Survei kali ini spesial sekaligus menantang. Spesial karena Indonesia telah berusia 75 tahun, menantang karena survei kita lakukan di tengah pandemi. Melalui studi ini kita ingin tahu bagaimana pandangan generasi muda, dan sekaligus mengetahui apakah pandemi ini memicu optimisme atau malah pesimisme,” ucap Wahyu dalam Peluncuran Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020 via Zoom, Rabu (26/8/2020).

Survei untuk mengetahui indeks optimisme generasi muda ini dilakukan di lima kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta, dengan pemilihan sampling multi stage random sampling atau acak, menggunakan komposisi responden diambil seimbang antara laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 18-25 tahun, 26-30 tahun, 31-35 tahun, dan 36-40 tahun.

Generasi muda paling optimis di sektor Ilmu Pengetahuan & Kebudayaan, dan pesimis di sektor Politik & Hukum

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020 (tangkapan layar) via www.hipwee.com

Dalam pemaparan hasil survei, Wahyu mengungkap bahwa secara umum responden paling optimis di sektor Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan. Sementara sektor Politik dan Hukum mendapat penilaian optimisme paling rendah. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh dekatnya generasi muda dengan ilmu pengetahuan, serta beragam persoalan politik dan hukum yang terjadi belakangan. Secara umum, jika di telusuri lebih jauh dari semua isu atau sektor yang ada di Indonesia, generasi muda paling optimis terkait isu perkembangan pariwisata, lalu disusul isu kemajuan IPTEK, olah raga, kemudahan berwirausaha, dan kualitas transportasi.

Advertisement

Sementara yang bikin generasi muda paling pesimistis dalam semua isu atau sektor di Indonesia adalah isu terkait pemberantasan korupsi yang berdasarkan usia didominasi generasi muda usia 31-35 tahun, lalu penegakan hukum, serta kondisi media sosial yang bebas dari hoaks. Cukup tergambar kalau gonjang-ganjing korupsi dan hukum di Indonesia, serta kondisi media sosial yang jadi ladang perang hoaks menumbuhkan sikap pesimistis. Yuk, kita intip seberapa optimis generasi muda Indonesia di lima area utama berikut.

1. Optimisme terhadap Insfrastruktur Dasar

Dalam kluster ini, generasi muda memberikan nilai optimisme paling tinggi untuk kualitas transportasi dengan indeks 62%. Hal ini menimbang di kota besar moda transportasi sudah mulai nyaman dan terintegrasi, serta di daerah perkembangan ojek online juga memberikan pengaruh signifikan. Sementara upaya peningkatan kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk menjaga lingkungan dalam kluster ini mendapat nilai optimisme paling rendah dengan indeks 35%.

2. Optimisme terhadap Politik dan Hukum

Secara umum, kluster ini menempati peringkat terendah di mata generasi muda. Meski begitu, posisi tawar dan daya saing Indonesia di era persaingan global paling banyak mendapat nilai optimisme dengan indeks 50%. Hal ini nggak luput dari berkembangnya startup Indonesia yang berhasil menembus persaingan global. Di sisi lain, di kluster ini generasi muda masih sangat belum optimis terhadap kualitas pemberantasan korupsi dengan indeks 8%, yang terefleksi dari kasus yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

3. Optimisme terhadap Ekonomi dan Kesejahteraan

Chief Economist Danareksa Research Institute, Moekti Prasetiani Soejachmoen (tangkapan layar) via www.hipwee.com

Di sini generasi muda paling optimis dengan kemudahan berwirausaha yang ditenggarai munculnya e-commerce dengan indeks 64%, disusul peningkatan kualitas program kesehatan karena sudah banyak industri kesehatan yang terintegrasi dengan teknologi dengan indeks 61%. Di lain sisi, dalam kluster ini generasi muda cukup pesimis terkait terciptanya lapangan kerja serta ketimpangan sosial di masyarakat dengan indeks 28%.

Chief Economist Danareksa Research Institute, Moekti Prasetiani Soejachmoen, menyampaikan pandangannya bahwa hasil survei terkait sektor Ekonomi dan Kesejaheraan bisa dicermati lagi. Menurutnya, responden yang diambil dari lima kota besar Indonesia bisa jadi nggak mewakili suara generasi muda Indonesia sepenuhnya. Ia juga berpandangan kalau sikap pesimistis generasi muda terhadap terciptanya lapangan kerja, seharusnya bisa ditepis dengan mulai menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Mungkin salah satu yang jadi alasan kenapa generasi muda (dalam survei ini) optimis di isu kemudahan berwirausaha adalah kemudahan yang ditawarkan e-commerce. Tapi kita juga harus pertimbangkan nggak semua anak muda Indonesia punya akses kepada teknologi,” kata Moekti.

4. Optimisme terhadap Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan

Seperti telah disinggung di atas, kluster ini punya nilai optimisme paling baik secara umum. Di sini generasi muda paling optimis pada perkembangan pariwisata Indonesia dengan indeks 78%. Hal yang selayaknya terjadi karena beragam konten yang mengeksplor keindahan Indonesia sekarang membuat kita makin sadar bahwa negara ini punya potensi. Sementara usaha pelestarian budaya, kesenian, dan bangunan sejarah menempati urutan terakhir dalam kluster ini. Meskipun begitu nilai optimismenya masih sangat baik dengan indeks 58%.

5. Optimisme terhadap Kehidupan Sosial

Generasi muda umumnya cukup optimistis dengan kondisi toleransi antar umat beragama, etnis, maupun golongan dengan indeks 57%. Sementara yang paling bikin generasi muda pesimistis di kluster ini adalah kondisi media sosial yang sehat dan bebas dari hoaks dengan indeks 13%.

Nah, itu dia hasil survei GNFI untuk menjawab apakah hari ini generasi muda cukup optimis atau malah sebaliknya. Ternyata hasilnya cukup baik ya, dengan berbagai catatan tentunya. Seperti perkembangan pesat dunia digital yang berhasil memantik optimisme generasi muda dalam hal kemudahan berwirausaha, namun sekaligus juga menimbulkan pesimisme terutama dalam penyebaran hoaks di media sosial.

Meski begitu, hasil survei ini selayaknya bisa jadi catatan bagi kita sebagai individu, atau pun pemangku kebijakan untuk memerhatikan hal-hal yang membuat generasi muda sebagai penerus bangsa bisa mempertahankan optimismenya, sekaligus menepis pesimisme dan menjawab sikap kritis mereka demi perkembangan Indonesia.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

colour my life with the chaos of trouble

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE