Gegap gempita Asian Games 2018 memang sudah berakhir. Di samping berhasil melampaui target peraihan medali, Indonesia juga dinilai sukses sebagai tuan rumah event olahraga terbesar di Asia ini. Tapi sayangnya kini beredar sebuah berita yang kurang mengenakkan seputar penyelenggaran Asian Games 2018 yang ditutup sekitar dua minggu lalu. Kabar kurang sedap ini datang dari para penari Ratoh Jaroe yang turut memeriahkan gelaran pembukaan ajang olahraga terbesar Asia tersebut. Katanya para penari, yang merupakan siswa-siswi beberapa SMA di Jakarta ini belum menerima honor yang harusnya jadi hak mereka. Tapi kalau melansir keterangan panitia pelaksana Asian Games 2018, INASGOC, honor itu justru sudah dibayarkan lewat pihak sekolah. Nah, lho?

Meski udah ada klarifikasi dari beberapa pihak terkait, tapi kalau dilihat-lihat malah pernyataannya saling berseberangan lho. Daripada penasaran, mending simak bareng yuk fakta-fakta perkembangan kasus ini. Mungkin bisa jadi pembelajaran bersama~

Polemik ini awalnya terkuak dari curhatan beberapa siswa SMA 23 Jakarta, yang mengeluh karena honor menarinya di Asian Games 2018 tak kunjung dibayarkan

Tarian Ratoh Jaroe yang jadi highlight acara pembukaan Asian Games 2018 via aceh.tribunnews.com

Advertisement

Tarian Ratoh Jaroe yang ditampilkan ribuan penari dari 18 SMA se-DKI Jakarta itu memang mengundang decak kagum penonton dari seluruh dunia. Tapi ternyata, di balik cantiknya peragaan tarian dari Aceh itu tersimpan fakta pahit yang dirasakan para penarinya. Seorang siswi SMA 23 Jakarta mengaku hingga kini ia dan 82 temannya belum memperoleh honor yang jadi hak mereka. Padahal sejak April, mereka sudah meluangkan waktu 2 hari dalam seminggu untuk berlatih selama 3 jam/harinya, tentu sembari tetap menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Nah, pada 24 Juni sampai menjelang pembukaan Asian Games, latihan mereka dipindah ke Lapangan B Senayan dan Stadion Utama GBK. Sejak pindah latihan inilah katanya mereka mulai mendapat honor $15/hari, atau sekitar Rp223 ribu. Kalau ditotal dari keseluruhan latihan yang jumlahnya 15 kali ini, harusnya per orang mendapat honor Rp3,3 jutaan. Tapi nyatanya sampai sekarang mereka belum menerima sepeser pun.

Pembicaraan soal honor ini diduga muncul karena ada interaksi antara murid dengan penari lain yang berasal dari non-sekolah.

Pengakuan yang sama diungkapkan salah satu siswa SMA 78, katanya ia dan teman-temannya cuma diberi pilihan mau bikin jaket atau jalan-jalan bareng. Padahal mereka maunya uang tunai…

Para penari Ratoh Jaroe via www.haloindonesia.co.id

Advertisement

Protes serupa juga dilakukan para penari dari SMA 78 Jakarta. Mereka terus mendesak pihak sekolah buat memberikan honornya. Bukannya dijanjikan akan dibayar secepatnya, mereka malah diberi pilihan, mau diberi jaket atau kaus, atau jalan-jalan bareng sekalian refreshing. Mereka pun merasa tidak tertarik dengan opsi yang ditawarkan pihak sekolah, ya soalnya pada maunya dikasih uang tunai aja…

INASGOC, selaku panitia pelaksana Asian Games 2018 tidak tinggal diam. Lewat salah satu direkturnya, mereka memberi klarifikasi

Herty Purba, Direktur Pembukaan dan Penutupan Asian Games 2018 via www.liputan6.com

Herty Purba, selaku Direktur Pembukaan dan Penutupan Asian Games 2018, mengungkapkan kalau honor sebesar $15 per orang itu memang benar adanya. Dan ia mengaku pihaknya telah menyelesaikan 3 termin pembayaran honor tersebut ke masing-masing sekolah yang anak didiknya terlibat. Semua pembayaran diakuinya sudah terdokumentasi dengan rapi. Sedangkan untuk pengelolaan dananya, diserahkan langsung ke pihak sekolah sesuai kebijakannya.

Sampai artikel ini ditulis, baru ada klarifikasi dari SMA 23 dan SMA 75 Jakarta. Keduanya sama-sama menampik adanya istilah “honor” untuk para penari dari sekolahnya

Edi Susilo, Wakil Kesiswaan SMA 23 via jatim.tribunnews.com

Edi Susilo,Wakil Kepala Sekolah SMAN 23 Jakarta, mengatakan kalau pihaknya menerima pembayaran dana untuk penari itu dari Lima Arus selaku event organizer yang menangani Asian Games kemarin. Bukan dari INASGOC langsung. Dalam kesepakatan yang dibuat dari awal, Edi mengaku kalau uang yang ditransfer ke pihak sekolah itu bukan honor, melainkan uang operasional, seperti yang tertulis dalam perjanjian. Kemudian oleh sekolah, uang itu digunakan untuk keperluan siswa-siswi selama latihan, mulai dari transportasi, makan, snack, dll.

Senada dengan apa yang diutarakan Wakil Kepala Sekolah SMAN 78 Jakarta, Zainuddin. Ia mengaku dari awal tidak pernah diberitahu soal honor untuk siswa. Menurutnya dana yang diperoleh dari Lima Arus EO itu merupakan dana operasional. Bahkan, ia juga mengaku kalau pihak sekolah sempat membiayai sendiri para siswanya saat latihan di lingkungan sekolah.

Isu soal honor siswa ini sampai juga ke telinga Kemenpora. Melalui sekretarisnya, mereka mengimbau agar pihak sekolah mengutamakan transparansi ke anak-anak didik

Gatot S. Dewa Broto, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga via m.liputan6.com

Terlepas dari kebijakan masing-masing sekolah mengelola dana dari INASGOC –yang tentunya diharapkan bisa seadil mungkin– Gatot S. Dewa Broto, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga mengimbau agar pihak sekolah mengutamakan transparansi dalam pengelolaannya. Ya emang sih, kalau dari awal sekolah udah mau jujur dan terbuka sama murid-muridnya soal dana ini, mungkin desas-desus macam ini tidak akan terjadi. Gatot juga menambahkan, transparansi di lembaga pendidikan itu penting dilakukan, karena secara tidak langsung juga bisa mengajarkan pentingnya transparansi ini ke anak-anak didik.

Memang tidak bisa dipungkiri kalau urusan soal duit ini hampir tidak pernah mulus. Apalagi kalau ada banyak lapis tangan yang terlibat. Yang jadi masalah di sini sebenarnya karena yang jadi ‘tangan’ terakhir penerima hak dana ini anak-anak yang masih SMA. Bisa jadi, pihak sekolah menganggap mereka masih kecil atau apa gitu, jadi terkesan agak meremehkan honor yang harusnya mereka terima. Padahal yang namanya hak tetap harus ditunaikan, ‘kan? Ini cuma spekulasi aja sih. Kalau menurutmu gimana guys?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya