UNDP Luncurkan Indeks Kemiskinan Multidimensi, Indonesia Sebelum Pandemi Catat Kemajuan pada Dimensi Utama Kemiskinan

Indeks Kemiskinan Multidimensi Indonesia

Kemiskinan menjadi masalah serius yang hingga kini masih menjadi perhatian di Indonesia. Data tahun 2017 United Nations Development Programme (UNDP) mencatat sekitar 3,6 persen dari total penduduk Indonesia miskin secara multidimensi, dan 4,7 persen selebihnya rentan terhadap kemiskinan multidimensi. Pada tahun 2012, sekitar 6,9 persen dari total penduduk Indonesia tergolong miskin secara multidimensi.

Advertisement

Terbaru, Indonesia mencatat kemajuan pada dimensi utama kemiskinan sebelum pandemi. Hal ini terungkap dalam Indeks Kemiskinan Multidimensi/Multidimensional Poverty Index (MPI) global terbaru yang disusun UNDP bersama Oxford Poverty and Human Development Initiative, mencakup 109 negara berkembang.

Indeks yang diluncurkan pada Jumat lalu (8/10) ini dianalisis melalui 10 indikator dalam berbagai dimensi, di antaranya kesehatan dan pendidikan. Hasilnya, Indonesia mencatat kemajuan pada dimensi utama kemiskinan sebelum pandemi.

Nilai MPI  Indonesia menunjukkan perbaikan, tetapi perlu peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat rentan

Nilai MPI merupakan proporsi penduduk miskin secara multidimensi yang disesuaikan dengan intensitas kemiskinan. Indonesia memperoleh nilai MPI sebesar 0.014, yang mana lebih baik dari data tahun 2012 yakni sebesar 0,028. Meski mengalami kemajuan, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Norimasa Shimomura mengatakan peningkatan upaya untuk memberdayakan masyarakat rentan masih diperlukan.

Advertisement

“Meskipun laporan ini menunjukkan beberapa kemajuan di antara kelompok-kelompok paling rentan di Indonesia sebelum pandemi, lebih dari satu juta orang berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan upaya untuk menyiapkan lebih banyak sumber daya untuk memberdayakan masyarakat rentan yang terjerumus ke dalam kemiskinan,” kata Shimomura seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (8/10).

Studi UNDP Indonesia di puncak pandemi memberikan gambaran yang suram

| dok. UNDP Indonesia

Kemajuan seperti disampaikan di atas tercatat sebelum pandemi. Sementara pada puncak pandemi tahun 2020, studi yang dilakukan UNDP Indonesia menunjukkan yang sebaliknya. Melalui survei  yang bekerja sama dengan UNICEF, Kemitraan Australia Indonesia untuk Pembangunan Ekonomi (Prospera) dan lembaga Penelitian SMERU, UNDP Indonesia mencatat dampak pandemi telah menyebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan pengeluaran. Orang-orang yang berada di kelompok 40 persen terbawah menjadi lebih miskin dan rentan.

Advertisement

Catatan lainnya dari Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa pandemi telah menyebabkan kemunduran berbagai proses pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tingkat kemiskinan secara keseluruhan sampai di angka dua digit, yaitu 10,19 persen per Agustus 2020. Angka itu kemudian membaik menjadi 10,14 persen pada Maret 2021.

Dalam laporan Voluntary National Review 2020 yang diterbitkan oleh Kementerian PPN/Bappenas, dinyatakan bahwa pandemi juga semakin memperparah ketimpangan. Hal itu ditunjukan melalui Rasio Gini Indonesia yang meningkat menjadi 0,385 pada tahun 2020 dari sebelumnya 0,380 pada tahun 2019. Temuan ini menunjukkan bahwa pandemi memengaruhi tiga indikator pembangunan utama dalam kaitannya dengan kemiskinan multidimensi , yaitu perlindungan sosial, mata pencaharian, dan kemampuan untuk bersekolah.

Meskipun data lengkap tentang dampak pandemi terhadap MPI belum tersedia, tetapi beberapa temuan di atas mengungkap kekurangan dalam sistem perlindungan sosial, pendidikan, dan kerentanan pekerja di seluruh dunia. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kekurangan ini terutama terjadi di negara-negara dengan tingkat MPI yang lebih tinggi.

Semoga Indonesia segera bangkit dari segala dampak pandemi dan dapat mencatat kemajuan kembali ya, SoHip!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE