Duka mendalam masih menyelimuti para korban gempa 7,4 SR di Palu dan Donggala yang terjadi minggu lalu. Semua media sibuk memberitakan berbagai kondisi terkini di lokasi gempa. Selain keadaan para korban, hal lain yang banyak jadi bahan pembicaraan orang adalah fenomena ‘tersedot’nya bangunan-bangunan dan benda oleh lumpur misterius di beberapa wilayah di Palu. Mirisnya, nggak sedikit orang yang mengaitkan peristiwa ini sama klenik atau azab. Padahal kalau ditelaah lebih jauh, kejadian itu bisa dijelaskan lewat kacamata ilmiah kok.

Bahasa ilmiahnya, fenomena luluhnya rumah dan bangunan oleh lumpur ini disebut likuifaksi. Kali ini Hipwee News & Feature akan berusaha menjelaskan fenomena likuifaksi secara sederhana. Biar kita semua bisa paham bagaimana likuifaksi bisa terjadi, dan kenapa gempa sebelumnya bisa jadi alasan di baliknya. Daripada penasaran, yuk simak bareng!

Orang banyak yang mengaitkan kejadian ini sama azab atau klenik. Kalau dilihat dari video memang seolah-olah bangunan dan benda di atasnya tersedot ke dalam. Padahal memang ada alasannya

Advertisement

Kemunculan lumpur di beberapa wilayah di Palu kemarin banyak banget dikaitkan sama azab atau klenik. Mungkin karena tanah yang gembur itu memang kabarnya sampai ‘menyedot’ bangunan dan kendaraan di atasnya. Malah katanya ada 1 desa dengan ratusan penduduk yang sampai terkubur lumpur tersebut. Kejadian yang disebut likuifaksi ini terjadi bukan tanpa alasan.

Simpelnya, likuifaksi terjadi saat struktur tanah berubah jadi lumpur dan nggak mampu lagi menopang bangunan di atasnya. Gempa yang telah terjadi sebelumnya memicu munculnya likuifaksi ini. Getaran gempa membuat permukaan tanah mengencer jadi seperti lumpur. Karena ‘alas’nya nggak kuat, wajar kalau kemudian apa yang ada di atasnya bergeser, atau bahkan hancur lebur.

Dari hasil identifikasi, kemarin ada 4 titik di Palu yang tanahnya amblas setelah gempa. Benar-benar hancur, khawatirnya banyak orang tertimbun di sana dan jumlah korban makin bertambah

Likuifaksi terjadi di beberapa wilayah via www.bbc.com

Advertisement

Pascagempa kemarin, likuifaksi kabarnya terjadi di 4 titik di Palu; Jl Dewi Sartika Palu Selatan, Petobo, Biromaru (Sigi), dan Sidera (Sigi). Perumnas Balaroa disebut jadi wilayah terparah yang terdampak likuifaksi. Sekitar 900 rumah amblas hingga 20 meter. Kondisi topografi tanah yang curam membuat lumpur jadi longsor ke bawah, menimpa pemukiman di bawahnya. Tim Basarnas sampai saat ini masih terus mengevakuasi korban di balik kubangan dan reruntuhan yang diperkirakan jumlahnya cukup banyak.

Wilayah Palu memang berpotensi terjadi likuifaksi, soalnya tanah di sana banyak pasir dan rata-rata endapannya berumur masih muda. Jadi ketika ketemu air tanah dan goncangan ya bakal berubah jadi lumpur

Peta zona bahaya likuifaksi di Palu dan sekitarnya via www.bbc.com

Sebenarnya, Palu itu termasuk daerah yang memang berpotensi mengalami likuifaksi lho. Pada 2012, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pernah melakukan penelitian terkait hal ini. Hasilnya, kondisi tanah di kota Palu sendiri termasuk berpotensi mengalami likuifaksi. Di bagian tengah, rata-rata endapan masih berusia muda, kandungan pasirnya juga tinggi, sehingga ketika mengalami guncangan, air tanah akan membuatnya gembur.

Selain itu topografi tanah juga berpengaruh sama likuifaksi ini. Saat gempa Tasikmalaya 2009 lalu, likuifaksi juga muncul, tapi karena kondisi tanahnya datar, kemungkinannya cuma lumpur aja. Beda sama di Palu yang daerahnya lebih curam. Jadi potensi longsor lebih besar.

Wilayah yang rentan atau rawan likuifaksi seharusnya memang dibangun dengan sangat hati-hati. Bahkan mungkin sebaiknya tidak boleh dibangun

Bagaimana syarat bangunan di tanah yang berpotensi likuifaksi? via medan.tribunnews.com

Ibaratnya kita udah tahu nih kalau tanahnya nggak bagus. Logikanya ‘kan bakal takut buat tetap melanjutkan membangun rumah atau bangunan ya. Tapi kenapa kok di daerah Palu tetap dibangun pemukiman? Ya kalaupun mau dibangun, mestinya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Misalnya tiap bangunan harus memenuhi kaidah-kaidah tahan gempa. Atau maksimal gedung yang boleh berdiri maksimal sekian lantai. Kalau orang Jepang menyiasati hal ini dengan membangun rumah berbiaya murah, salah satunya pakai kayu. Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Rovicky Dwi Putrohari, menyarankan untuk mengeringkan dulu lapisan tanah berupa pasir sebelum mendirikan bangunan di atasnya, agar terhindar dari likuifaksi.

Sebenarnya Indonesia bisa lho mengambil langkah-langkah yang lebih konkret untuk meminimalisir kerugian dan korban jiwa akibat bencana. Soalnya kita ‘kan udah punya peta zonasi identifikasi berbagai bencana di wilayah Indonesia, mulai dari gempa, longsor, sampai likuifaksi ini. Harapannya sih data-data itu beneran bisa dipakai buat merumuskan langkah preventif agar bencana selanjutnya nggak memakan korban atau kerugian lebih banyak. Kalau menurutmu gimana nih?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya