“Saya lebih memilih mati di pantai, daripada di kantor saya.” – Jack Ma.

Siapa yang nggak kenal Jack Ma? CEO sekaligus pendiri perusahaan e-commerce raksasa Alibaba Group yang jumlah kekayaannya ditaksir mencapai 40 miliar dolar AS. Belum lama ini, Ma membuat keputusan besar yang bikin seluruh media menyorotnya habis-habisan. Yup, Jack Ma memutuskan pensiun dini dari perusahaan yang ia besarkan sejak 1999 silam itu. Katanya, ia ingin fokus di bidang pendidikan dan filantropi. Mengingat Alibaba sudah jadi perusahaan super besar, keputusan Ma jelas sangat disayangkan banyak orang.

Advertisement

Tapi kalau bicara pensiun dini, Ma bukan penguasa teknologi pertama yang memutuskan ‘resign‘ dari perusahaannya sendiri. Sebut saja Bill Gates, pendiri Microsoft yang juga memilih mundur saat usianya ‘masih’ 58 tahun. Kaum millennials ternyata juga banyak lho yang punya cita-cita bisa pensiun dini. Yang jelas pemikiran mereka udah jauh berbeda sama generasi atas, yang menganggap kerja itu ya harus ke kantor. Atau kalau nggak kerja ya nggak bakal bisa hidup, bla bla bla. Jadi, apakah pensiun dini memang cukup wajar dilakukan di era sekarang? Yuk, lah, kita kupas bareng Hipwee News & Feature~

Keputusan Jack Ma mundur dari jabatan krusial di perusahaannya itu bukannya bodoh, tapi justru jitu dan terbilang berani

Jack Ma mundur sebagai CEO Alibaba via www.washingtonpost.com

Kabar soal Jack Ma pensiun ini pertama kali diwartakan media besar The New York Times, pada Jumat (7/9) lalu, berdasarkan wawancaranya langsung dengan Ma. Di situ tertulis jelas kalau Ma memutuskan pensiun dini dari jabatannya sebagai CEO Alibaba Group karena ingin fokus pada dunia filantropi dan pendidikan. Surat kabar itu juga mengatakan kalau Ma memanfaatkan momen dirinya ulang tahun ke-54 untuk mengumumkan keputusannya itu.

Tapi ternyata, pernyataan The New York Times itu dinilai agak keluar konteks oleh Jack Ma. Sebagai klarifikasi, surat kabar milik Ma sendiri, South China Morning Post (SCMP), pada Senin (9/9), memberitakan kalau Ma bukannya pensiun, melainkan melakukan transisi, dimana ia masih akan memegang jabatan penting, yakni sebagai mentor atau penasihat perusahaan. Keputusan Ma ini bukannya bodoh, tapi justru jadi ‘angin’ segar bagi perusahaan, pun bagi Ma sendiri. Selain bisa lebih fokus pada strategi bisnis, ia juga jadi bisa melakukan hal lain di luar Alibaba, seperti keinginan terbesarnya kembali menjadi pengajar dan bergelut di dunia amal.

Orang sering dibuat terlena sama pekerjaan yang ‘merenggut’ lebih dari separuh waktu hidupnya di dunia, sampai-sampai nggak pernah terbesit keinginan buat pensiun dini

Terlalu nyaman dengan pekerjaannya via www.incarabia.com

Advertisement

Bagi orang zaman dulu, atau mungkin kita sendiri, kata ‘pensiun dini’ mungkin belum pernah muncul di pikiran. Ini karena kita seringkali terlena sama kesibukan pekerjaan kantoran dan apresiasi atas kerja keras tersebut (baca: gaji, bonus, atau tunjangan). Dalam persepsi kita kebanyakan, yang namanya kerja ya biar bisa dapat uang. Kalau punya uang tentu bakal bisa hidup. Tapi orang-orang pemikir idealis justru menganggap bekerja yang semata-mata biar dapat uang itu cuma pekerjaan rendahan. Sebaliknya, mereka yang biasanya merupakan millennials ini menganggap bekerja itu ya harus sesuai passion, yang bisa bikin bahagia, bukan terpaksa.

“Hidup bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup dan mengumpulkan harta untuk kebutuhan keluarga dan persiapan di hari tua.” – pemikir Yunani Kuno.

Pensiun dini nggak selamanya buruk, asal sebelum memutuskan keluar, sudah memikirkan matang-matang dan membekali diri dengan strategi-strategi tertentu

Pikirkan matang-matang via www.accountingweb.com

Sebenarnya, pensiun dini itu nggak buruk-buruk amat kok. Malah keputusan itu kalau dilakukan dengan benar dan matang justru bisa membuka peluang kita jauh lebih produktif. Meski cenderung penuh dengan risiko, tapi kalau sudah membekali diri dengan berbagai strategi dari tabungan hingga investasi, pensiun dini mungkin malah bisa jadi sebuah era baru bagi siapapun yang memutuskan.

Sebagai contoh, si A sudah belasan tahun bekerja di perusahaan X. Sepanjang weekdays dari pagi sampai malam ia bekerja tak kenal lelah. Saat weekend tiba, bukannya melepas penat dengan jalan-jalan, ia malah menghabiskan waktu buat bersantai akibat terlalu lelah bekerja sejak awal minggu. Mungkin dia memang jadi bisa beli ponsel keluaran terbaru, laptop mahal, atau ambil cicilan mobil dan rumah, tapi waktu yang dia miliki di dunia jadi habis buat kerja doang. Dia jadi susah meluangkan waktu buat hal lain.

Kalau sekiranya sudah cukup siap dengan segala risiko yang ada, pensiun dini memang bisa jadi awal dari segala peluang berharga di depan

Bisa jadi keputusan tepat via clubthrifty.com

Pensiun dini bisa jadi keputusan yang salah kalau orang yang melakukannya nggak siap dengan segala risiko di depan. Sebaliknya, pensiun dini bisa jadi ide cemerlang kalau seseorang sudah cukup matang memikirkan berbagai strategi. Jadi, apa aja yang mesti diperhatikan sebelum bertekad buat pensiun dini? Pertama dan yang terpenting adalah target. Kalau ujug-ujug pensiun tanpa punya plan, bisa-bisa malah luntang-luntung. Kedua, memperhitungkan biaya hidup dan hutang yang dimiliki. Jangan sampai perhitungannya meleset. Ketiga, membuat perencanaan pengelolaan pesangon.

Jadi ya meskipun pensiun dini bisa jadi langkah jitu dan berani untuk memulai sesuatu yang baru, jangan sampai salah perhitungan dan bikin hidup malah tak tentu arah. Orang kayak Jack Ma yang memilih mundur dari perusahaan miliknya, tentu sudah melalui sederet pertimbangan matang. Nggak mungkin ‘kan tiba-tiba dia pensiun dini~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya