Jalanan Macet dan Polusi Meningkat, Petisi Kembalikan WFH Ramai Ditandatangani Warganet

Sejak pandemi melanda, kebijakan pembatasan sosial diberlakukan, termasuk kegiatan pekerja kantoran yang beralih jadi Work From Home (WFH). Kebijakan WFH ini banyak diterapkan oleh berbagai instansi dan perusahaan baik pemerintah maupun swasta. Seiring pandemi yang kian melandai, kebijakan WFH pun mulai dikurangi, bahkan dihapuskan. Sehingga para pekerja mulai kembali bekerja di kantor.

Advertisement

Ternyata, kebijakan WFH yang selama ini diterapkan nggak hanya berdampak pada pengendalian pandemi tapi juga lalu lintas dan juga pencemaran lingkungan, loh. Nggak bisa dimungkiri bahwa aktivitas berangkat dan pulang kantor, serta pekerjaan yang dilakukan di kantor menyumbang kemacetan lalu lintas dan pencemara lingkungan.

Baru-baru ini, viral di media sosial Twitter sebuah petisi ‘kembalikan’ WFH’ karena permasalahan itu. Apalagi sejak PPKM resmi dicabut, dan WFH kian banyak dihapuskan.

Petisi kembalikan WFH telah didukung lebih dari 12.000 orang

Sekitar dua tahun menjalani WFH tentu banyak yang sudah bisa beradaptasi dengan sistem kerja ini. Kembalinya sistem kerja di kantor alias Work From Office (WFO) bikin karyawan membandingkan dengan sistem WFH. Hal ini membuat seorang warga bernama Riwaty Sidabutar membuat petisi online untuk mengembalikan aktivitas WFH di laman Change.org.

Advertisement

Riwaty mengungkap kondisi yang mengharuskan kembali WFO justru memunculkan beberapa masalah yang selama WFH kemarin bisa teratasi, yakni soal kemacetan dan polusi akibat aktivitas berangkat dan pulang kantor para pekerja.

“Jarak rumah dengan kantor kebanyakan orang tak jauh berbeda dengan saya. Saya, misalnya harus menempuk 20 km buat ke kantor yang berarti setiap hari untuk pulang pergi harus saya tempuh 40 km. Belum lagi kalau hujan. Bisa-bisa, saya terjebak kemacetan lama sekali, satu jam bahkan menggunakan sepeda motor,” tulis Riwaty dalam keterangan petisinya.

Advertisement

Riwanty juga menyinggung soal produktivitas, menurutnya WFO belum tentu bikin karyawan jadi produktif. Apalagi karena lama perjalanan berangkat dan pulang kantor sering kali memicu stres, dan kelelahan.

“WFO juga belum tentu membuat kita lebig produktif, karena lamanya perjalanan, saya malah jadi lelah dan hasil pekerjaan tidak sebagus ketika saya bekerja dari rumah,” kata Riwaty.

Nggak memungkiri bahwa bekerja dirumah seringkali membuat pekerja lebih merasa aman, nyaman, dan percaya diri. Bahkan, bisa lebih menghemat pengeluaran karena nggak perlu ongkos transportasi dan jajan di luar.

Kondisi yang Riwaty ungkap itu, tampaknya juga dirasakan oleh ribuan pekerja lainnya. Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang menandatangani petisi tersebut. Berdasarkan pantauan Hipwee saat artikel ini ditulis, dari target 15.000 tanda tangan, saat ini sudah ada 12.311 orang yang menandatangani petisi tersebut.

Riwaty dan ribuan pekerja lain ingin aturan wajib WFO 100 persen untuk dikaji kembali. Mereka ingin diberi pilihan untuk bisa bekerja dair rumah, seperti yang diterapkan di beberapa negara maju. Apalagi saat pandemi kemarin, sudah terbukti bahwa sistem WFH tetap bisa berjalan. Bahkan, minimal sistem hybrid atu campuran WFH dan WFO bisa diterapkan, sehingga nggak mewajibkan pekerja hadir 100 persen ke kantor.

Petisi kembalikan WFH ramai usai PPKM dicabut dan Kemenkes menganjurkan WFH dihapus

petisi kembalikan wfh

| Foto dari Pexels

Sebenarnya, petisi tersebut sudah diunggah sekitar 2 bulan yang lalu.  Saat kebijakan PPKM masih berlaku, tapi sudah banyak kelonggaran, bikin banyak perusahaan kembali menerapkan WFO. Namun petisi kembalikan WFH jadi ramai dibicarakan, usai kebijakan PPKM resmi dicabut pada Jumat (30/12) kemarin.

Pencabutan PPKM itu berarti sudah nggak ada aktivitas masyarakat yang dibatasi. Melansir dari Liputan 6, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Mohammad Syahril mengungkap bahwa pembatasan sudah nggak perlu dilakukan, termasuk soal WFH.

“Pencabutan PPKM harus ditandai, karena yang dicabut hanya pembatasannya. Seperti kita nggak perlu lagi WFH, pembatasan ke mal, atau aktivitas yang banyak orang lainnya,” ujar Syahril, dinukil dari Liputan6.

Imbauan-imbauan itu bikin banyak perusahaan dan instansi yang sebelumnya menerapkan sistem hybrid semakin banyak yang kembali menerapkan WFO keseluruhan. Tampaknya banyak pekerja yang nggak rela harus secara penuh kembali ke kantor. Mengingat banyak pertimbangan termasuk kembali terjebak kemacetan dan menghirup polusi udara.

Ramainya petisi kembalikan WFH ini bahkan sampai trending di Twitter. Banyak warganet yang mengungkap pendapatnya, dan mendukung sistem WFH daripada WFO. Meski, ada juga yang lebih memilih WFO karena kondisi pekerjaannya yang sulit jika harus dilakukan jarak jauh, tapi mereka tetap mendukung WFH supaya pekerja lain tetap kerja dari rumah, sehingga jalanan nggak macet di jam berangkat dan pulang kantor.

“WFH emang gampang jenuh, tapi gampang juga biar bikin nyaman. Yang penting sing, nggak capek di jalan, dan hemat ongkos transport dan jajan,” tulis seorang warganet.

“Pekerjaan saya lebih mudah kalau WFO, tapi semoga orang lain pada WFH aja, biar pas saya berangkat dan pulang kantor nggak macet,” tulis warganet lain.

Pandangan tipa orang soal mending WFH atau WFO mungkin berbeda, tapi kalau soal masalah macet dan polusi, tampaknya banyak yang setuju kalau WFH lebih oke, ya. Kalau kamu, juga mendukung WFH dan ingin ikut penandatangani petisi kembalikan WFH, silakan kunjungi petisi di sini.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE