Karyawan Twitter Boleh WFH Selamanya. Haruskah Perusahaan di Indonesia Terapkan Hal Serupa?

Karyawan Twitter WFH selamanya

Karyawan Twitter di seluruh dunia sedang gembira bukan kepalang. CEO Twitter Jack Dorsey baru aja mengumumkan kalau seluruh karyawannya boleh Work From Home (WFH) selamanya. Iya, selamanya! Kata Dorsey, perkara kantor bakal dibuka lagi atau nggak, itu keputusan manajemen. Tapi perkara karyawannya mau balik kerja di kantor lagi atau nggak, itu bakal diserahkan sepenuhnya ke mereka.

Advertisement

Twitter adalah satu dari sekian banyak perusahaan yang mesti banting stir mengambil kebijakan WFH di tengah pandemi. Perusahaanmu mungkin salah satunya. Mengenai sampai kapan WFH berlaku ini masih jadi pertanyaan besar bagi banyak perusahaan dunia. Twitter bukan satu-satunya yang berani memperpanjang masa WFH-nya. Meskipun nggak sampai ‘selamanya’, perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook juga baru-baru ini mengumumkan kalau karyawannya bakal kerja dari rumah sampai akhir tahun.

Ngomong-ngomong soal WFH, apakah sistem ini memang se-worth-it itu?

Lewat sejumlah riset, WFH terbukti bisa meningkatkan produktivitas karyawan dan menyeimbangan kehidupan personal dan karir

Manfaat WFH via rencanamu.id

Dalam sejumlah riset, WFH katanya bisa meningkatkan produktivitas karyawan, menyeimbangkan kehidupan personal dan karir, serta menumbuhkan kesehatan mental yang lebih baik lo. Berdasarkan pengalaman saya sejauh ini bekerja dari rumah, WFH memang bisa jadi solusi ketika saya merasa begitu bosan dengan suasana kantor dan atmosfer yang itu-itu aja. Apalagi kalau melihat pekerjaan saya yang selalu menatap layar komputer, sehingga butuh mencoba-coba suasana baru yang lebih sering.

Advertisement

Sayangnya, nggak semua karyawan punya privilege merasakan WFH. Banyak profesi yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan dari rumah

KRL yang tetap penuh walau sudah banyak yang WFH via today.line.me

Kalau mau disebutin, banyak banget ternyata profesi yang nggak memungkinkan buat WFH, seperti karyawan di swalayan, pramuniaga, ojek online, tukang bangunan, sampai tenaga medis. Mereka nggak punya privilege buat merasakan yang namanya WFH. Ada juga profesi yang bergerak di bidang pelayanan kayak teller bank. Saya punya teman yang bekerja di salah satu bank swasta dan tetap kerja dari Senin sampai Jumat ngurusin nasabah. Dia sempat sambat di Twitter gara-gara banyak yang ngira kalau dia nggak peduli sama anjuran ‘stay at home’. Padahal kantornya lah yang membuat ia tetap harus keluar rumah.

Lalu, apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia perlu mengikuti langkah Twitter, Google, dan Facebook memperpanjang masa WFH-nya?

Haruskah mengikuti Twitter? via startupmindset.com

Sepertinya sulit sih. Masalahnya, koneksi di Indonesia ini belum merata. Selain itu, nggak semua karyawan juga punya fasilitas yang menunjang pekerjaannya jika dilakukan di luar kantor. Mungkin selama ini mereka memakai fasilitas dari kantor yang mustahil untuk dibawa ke rumah. Bekerja dari rumah juga berarti kita mesti siap budget lebih buat beli kuota internet karena itu jadi kunci penting.

Dan lagi kalau berdasarkan riset, ternyata nggak semua pekerja itu seneng di suruh WFH lo. Dari laporan yang dikeluarkan Buffer.com, sekitar 19% pekerja yang WFH menghadapi yang namanya kesepian. Mereka juga kesulitan melakukan komunikasi dan kolaborasi. Banyak detail-detail yang memang nggak bisa kita peroleh ketika bekerja dengan jarak, kayak menangkap ekspresi-ekspresi tertentu saat rapat, bercanda dengan teman kantor, dan lain sebagainya.

Advertisement

WFH juga cukup menjadi tantangan tersendiri karena kaburnya batas antara waktu bekerja dengan waktu personal. Beda kan sama di kantor yang jam kerjanya jelas

Jadi tantangan tersendiri bagi mereka yang sudah berkeluarga via www.tamasia.co.id

“You are not working from home; you are at your home during a crisis trying to work.”

Saya menemukan kalimat menohok di atas di Twitter. Bagi saya cukup jadi pukulan telak karena memang selama WFH saya selalu menuntut diri saya untuk berlaku sama profesionalnya saat sebelum pandemi alias ketika masih ngantor. Yang tentu aja mustahil dilakukan. Bukan berarti saat WFH kita boleh berlaku seenaknya dan mengabaikan profesionalitas ya. Maksudnya yang beda di sini adalah levelnya. Karena saat WFH, kita seringkali dihadapkan pada situasi yang mungkin lebih darurat dibanding urusan pekerjaan, misalnya saat anak sakit, lebih rewel dari biasanya, atau ya masalah teknis kayak yang udah dibahas di atas tadi.

Bicara WFH juga mesti bicara soal lingkungan ideal buat kerja, sesimpel mikirin pakai kursi dan meja apa di rumah. Kita juga dituntut bikin borderline sendiri, biar waktu kerja sama waktu pribadi nggak tercampur. Dan kalau boleh jujur, justru itu yang sulit~

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE