Work From Home: Dulu Wacana, Kini Terpaksa. Begini Dilema Percobaan Terbesar WFH di Seluruh Dunia

Dilema work from home

Seiring berkembangnya teknologi, cara kerja di perusahaan pun berubah. Dulu pegawai harus datang setiap hari ke kantor untuk koordinasi langsung dengan atasannya. Namun sekarang, ada begitu banyak aplikasi dan program canggih yang mendukung pekerjaan jarak jauh. Jadi para pegawai bisa bekerja dari rumah masing-masing.

Advertisement

Konsep itu sekilas terdengar menarik, sayangnya belum semua perusahaan bisa menerapkan. Namun dengan merebaknya virus corona akhir-akhir ini, banyak perusahaan “terpaksa” mengimbau para pegawai untuk work from home (WFH) alias bekerja dari rumah supaya tidak tertular. Pertanyaan besarnya, bisakah WFH sedunia ini berjalan dengan baik? Mari kita simak penjelasannya.

Wacana untuk mencoba work from home atau bekerja dari rumah, sebenarnya sudah cukup lama diperdebatkan. Namun karena berbagai alasan, baru sebagian perusahaan yang bisa menerapkannya

Bekerja dengan serius dari rumah / Credit: Manny Pantoja via unsplash.com

Supaya bisa melakukan WFH dengan baik, para pegawai harus bisa saling berhubungan melalui internet. Maka mereka membutuhkan keahlian untuk menggunakan surel, aplikasi pengirim pesan, program video call, dan sebagainya. Namun belum semua pegawai menguasai hal tersebut, terutama mereka yang berada di wilayah kurang terpapar teknologi.

Advertisement

Terlepas dari masalah teknis itu, perusahaan mempunyai pertimbangan lain untuk tidak memberlakukan WFH. Mereka cemas seandainya pegawai menjadi kurang produktif kalau tidak diawasi secara langsung. Padahal masalah produktivitas juga ditentukan oleh sistem perusahaan, jenis pekerjaan, bahkan sifat para pegawainya. Jadi tak semata-semata dipengaruhi oleh lokasi pegawai bekerja.

Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stanford University pada 2015. Mereka menganalisis cara kerja para pegawai call-center di perusahaan agensi perjalanan China. Ternyata, produktivitas mereka meningkat 13% saat bekerja dari rumah karena waktu istirahat lebih sedikit dan lingkungan kerja lebih nyaman.

Advertisement

Bisa atau tidaknya penerapan WFH juga dipengaruhi oleh kultur negara yang bersangkutan. Misalnya saja di Indonesia, WFH lebih sering diterapkan di start-up karena kultur kerjanya lebih luwes. Sedangkan perusahaan atau lembaga yang sudah lama berdiri, terutama milik pemerintah, cenderung mengikuti pola kerja tradisional. Buktinya saat muncul wacana WFH untuk PNS, respons masyarakat justru pesimis. Namun kondisi ini mau tak mau harus berubah karena muncul musibah berupa virus corona yang mematikan.

Namun sekarang untuk menghindari virus corona, semua orang diimbau untuk sebisa mungkin bekerja dari rumah. Fenomena ini disebut sebagai percobaan work from home terbesar di dunia

Kondisi kantor yang kosong / Credit: David L. Ryan via www.gettyimages.com

Social distancing atau menjaga jarak perlu dilakukan supaya virus corona berhenti menyebar. Social distancing dalam konteks dunia kerja? Ya para pegawai diimbau untuk sebisa mungkin bekerja dari rumah masing-masing, untuk meminimalisir kontak banyak orang dalam satu ruangan berjam-jam lamanya. Imbauan yang sudah digencarkan oleh banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Di Italia yang sekarang jadi pusat penyebaran corona terbesar, bahkan sempat diberlakukan sanksi bagi perusahaan yang tidak memberlakukan WFH.

Momen ini pun disebut sebagai percobaan work from home terbesar di dunia. Para perusahaan yang tadinya enggan melakukan WFH, mau tak mau harus mengikuti. Di samping krisis dalam sistem kesehatan, pandemi ini sekaligus jadi ujian yang menentukan bentuk dan arah dunia kerja di masa depan.

Sejumlah perusahaan dan lembaga di Indonesia juga menerapkan WFH untuk melindungi pegawainya dari virus corona. Masing-masing mempunyai prosedur yang berbeda

Bekerja sendirian / Credit: Creative Lab via www.shutterstock.com

“Saatnya kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” kata Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor pada Minggu (15/3).

Imbauan terbuka dari Presiden Jokowi menekankan pentingnya WFH untuk sementara waktu. Sejumlah perusahaan pun menerapkan kebijakan tersebut. Sebagian di antaranya adalah Unilever, Grab Indonesia, Gojek, Kemenkominfo, Kemenhan, KKP, Kemenpan-RB, dan lain-lain.

Setiap perusahaan atau lembaga mempunyai kebijakan WFH yang berbeda tergantung kondisi dan kebutuhan. Dilansir dari Kumparan, Bank DBS Indonesia memperbolehkan WFH dengan sistem dibagi-bagi tiap minggunya. Sedangkan Kementerian BUMN mengutamakan WFH bagi pegawai yang rutin menggunakan transportasi publik dan karyawan yang berusia lebih dari 50 tahun.

Namun sebenarnya, sudah siapkah kita melakukan WFH? Sekilas mungkin kelihatan nyaman, tetapi ada sejumlah kekurangan yang perlu diperhatikan

Sibuk bekerja / Credit: Thought Catalog via unsplash.com

Saat bekerja dari rumah, jadwal kita menjadi lebih fleksibel karena tak perlu mengikuti orang lain. Namun kalau tak pandai mengatur waktu, produktivitas justru menurun karena terlalu banyak distraksi. Lantas bagaimana cara mengatasinya? Buatlah jadwal kerja yang jelas dan patuhilah. Kalau bisa, pilih ruangan yang tenang supaya tak terganggu.

Kekurangan lain dari WFH adalah munculnya rasa kesepian karena tidak berinteraksi langsung dengan rekan kerja. Untuk mengatasinya, gunakan aplikasi dan program komunikasi online semaksimal mungkin. Ini dibutuhkan untuk menjaga semangat kerja dan menghindari terjadinya miskomunikasi.

Dengan adanya kebijakan WFH, semoga kita bisa tetap bekerja dengan baik. Usahakan untuk jangan keluar rumah dulu supaya terhindar dari penyakit. Mari kita menghadapi virus corona dengan tetap tenang dan produktif. Selamat bekerja!

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE