Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius Anak Bermunculan, Kemenkes Bentuk Tim Investigasi

Publik Indonesia baru-baru ini dikejutkan dengan kasus gangguan ginjal akut misterius yang tiba-tiba meningkat pada tiga bulan terakhir. Dikatakan misterius karena Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sampai saat ini masih melakukan investigasi dan belum menemukan penyebab dari gangguan ginjal akut yang kasusnya tiba-tiba melonjak tersebut.

Advertisement

Meskipun masih diselidiki lebih lanjut, Kemenkes sempat menduga penyebab dari penyakit ini adalah konsumsi obat yang mengandung etilen glikol. Namun, dugaan itu masih perlu diteliti lagi karena nggak kandungan etilen glikol nggak terdeteksi dalam darah. Kemenkes juga memastikan kalau penyakit ini nggak berkaitan dengan Covid-19.

Sampai saat ini, Kementerian Kesehatan dan IDAI sejauh ini baru bisa menjelaskan kesamaan gejala yang dialami oleh setiap pasien, yakni penurunan drastis jumlah urin hingga nggak keluar sama sekali.

Berdasarkan data IDAI, kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak telah mencapai 152 kasus per 14 Oktober 2022 dan tersebar di 14 provinsi Indonesia

IDAI mencatat jumlah kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak per 14 Oktober 2022 sebanyak 152 kasus. Jumlah tersebut didapat setelah total 16 cabang IDAI seluruh Indonesia kembali melaporkan temuan kasusnya, kata Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso dalam acara meet the expert bertajuk “Kewaspadaan Dini Gangguan Ginjal Akut pada Anak” lewat Zoom, Jumat (14/10).

Advertisement

Kasus anak dengan gangguan ginjal akut sebelumnya memang tercatat sudah ada sejak Januari 2022 dengan jumlah dua kasus. Jumlah lonjakan tertinggi tercatat pada Agustus 2022 sebanyak 36 kasus hingga puncaknya pada September 2022 dengan jumlah 76 kasus.

Dilansir dari Tirto, Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI, dr. Eka Laksmi Hidayati melaporkan terdapat 131 kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak per 10 Oktober 2022. Sejauh ini udah ada 14 provinsi yang melaporkan temuan kasus serupa di wilayahnya. Provinsi tersebut antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Advertisement

Masih oleh Piprim, diungkap juga tren peningkatan jumlah kasus setiap bulannya per temuan Oktober 2022. Januari tahun 2022 diawali dengan 2 kasus, Februari nol, Maret 2 kasus, April nol, Mei 5 kasus, Juni 3 kasus, Juli 5 kasus, Agustus 36 kasus, dan Oktober 21 kasus.

Selain itu, usia penderita gangguan ginjal akut misterius pada anak ini pun beragam. Namun, mayoritas berasal dari anak berumur 1-5 tahun atau biasa disebut balita. Total ada 35 anak usia 0-1 tahun, 75 anak di usia 1-5 tahun, 24 anak di 5-10 tahun, dan 18 anak di atas 10 tahun.

Lalu, apa gejala yang dialami oleh anak-anak yang terkena gangguan ginjal akut misterius ini?

Pihak IDAI menemukan beberapa hal yang membuat penyakit ini menjadi misterius, selain belum ditemukannya penyebab pasti. Dokter Eka menjelaskan, biasanya AKI disebabkan oleh kekurangan cairan yang masuk ke ginjal dalam waktu singkat seperti saat diare, dehidrasi, pendarahan, atau fase shock saat terkena demam berdarah.

“Kondisi seperti itu, di mana terjadi kekurangan cairan yang masuk ke ginjal, itu akan menyebabkan AKI. Ada lagi yang infeksi berat, umumnya terjadi di rumah sakit, dalam perjalanannya, dia bisa mengalami AKI.

Tetapi kami lihat bahwa anak-anak ini, dalam wawancara dengan orang tuanya mengenai riwayat penyakitnya, itu tidak jelas ada episode penyakit yang seperti itu, tetapi dia tiba-tiba mengalami penurunan jumlah urine atau air seninya. Jadi itu kita masih belum bisa mendapatkan apa penyebabnya,” ujar Dokter Eka, dilansir dari BBC News Indonesia.

Selain itu, Piprim Basarah mengatakan biasanya anak-anak yang mengidap AKI punya masalah ginjal bawaan. Namun untuk kasus kali ini, ginjal anak-anak itu normal dan nggak punya kelainan bawaan.

Meskipun ada perbedaan gejala antara yang biasanya terjadi dengan kasus yang meledak baru-baru ini, orang tua tetap harus mewaspadai gejala-gejala yang ada secara keseluruhan. Gejala awalnya yaitu batuk, pilek, diare, muntah, dan demam.

Setelah 3-5 hari, kata Dokter Eka, IDAI mendapati anak-anak pasien ini jumlah urinenya makin sedikit. Bahkan, ada anak yang sampai nggak bisa buang air kecil karena air seninya nggak keluar. Ia menyebut gejala tersebut ditemui pada seluruh anak pasien AKI.

Soal kandungan etilen glikol pada obat yang diduga jadi penyebab penyakit ini, BPOM jelaskan begini

Kandungan etilen glikol sempat diduga sebagai penyebab ratusan anak Indonesia mengidap AKI. Dugaan itu berawal dari Gambia, Afrika Barat yang mengumumkan kematian 70 anak di wilayahnya setelah sebelumnya menderita AKI. Kematian itu diduga dipicu oleh produk obat sirup buatan India.

WHO kemudian menetapkan ada 4 merek obat sirup buatan India dari produsen Maiden Pharmaceutical Ltd, India yang bisa menyebabkan gangguan ginjal akut pada anak karena mengandung dietilen glikol dan etilen glikol.

Dalam siaran pers terbarunya, Senin (17/10), Badan Pengawas Obat dan Makanan menanggapi hal tersebut. BPOM menyebutkan keempat produk obat sirup tersebut nggak terdaftar di Indonesia. Hingga saat ini produk dari produsen Maiden Pharmaceutical Ltd, India juga nggak ada yang terdaftar di BPOM.

“Namun sebagai langkah kehati-hatian, BPOM juga sedang menelusuri kemungkinan kandungan DEG dan EG sebagai cemaran pada bahan lain yang digunakan sebagai zat pelarut tambahan,” ujar BPOM, dilansir dari BBC News Indonesia.

Ke depannya, Kemenkes pun mengimbau agar masyarakat nggak panik, melainkan tetap waspada. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes juga sudah menerbitkan Tata Laksana dan Manajemen Klinis Gangguan Ginjal Akut Progresif pada Anak di Fasilitas Kesehatan, agar faskes punya acuan untuk menangani anak dengan kasus ini.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE