Seorang nenek di Cina bernama Yang (92) telah dikurung dalam sebuah kandang babi oleh anak dan menantunya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya ‘dibebaskan’ minggu lalu. Berita ini pertama kali diungkap oleh seorang tetangga yang mem-posting video Yang sedang duduk di dekat pintu kurungan. Video yang sudah ditonton lebih dari 1,8 juta orang tersebut menimbulkan banyak reaksi geram dan kecaman.

Jangankan sebuah kamar yang nyaman untuk menghabiskan hari tua. Tidak ada kasur, bantal, atapun selimut di ‘kamar’ Yang. Hanya ada sebuah dipan dalam ruangan yang kotor dan tidak sehat. Dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan dan nyaris hanya tinggal tulang, kini Yang mendapat perawatan di rumah sakit setempat.

Kondisi Yang yang mengkhawatirkan via www.ngzb.com.cn

Seperti yang ditulis oleh BBC, sang anak beralasan ibunya dengan sukarela ingin tinggal dalam kandang babi karena takut tidak bisa mengontrol diri, sekaligus khawatir membuat rumah menjadi bau karena ‘penyakit orang tua’. Namun jikalau benar sang ibu sukarela, bagaimana sang anak tega memberikan tempat tinggal yang sedemikian tak manusiawinya? Dan bagaimana bisa kondisi sang ibu begitu menyedihkan?

Mirisnya, kasus penelantaran orangtua seperti Yang bukanlah berita baru di Cina. Yang masih bisa mendapatkan pertolongan, sebenarnya banyak juga lansia yang meninggal dalam kesendirian

Orang tua ditinggalkan anaknya di dekat tempat sampah via www.scmp.com

Advertisement

Tahun 2014 lalu, seorang perempuan berusia 90 tahun meninggal dalam kondisi yang sama seperti Yang. Lalu pada tahun 2016 lalu, seorang perempuan yang juga berusia 90 tahun ditemukan di samping tempat sampah dengan kondisi lutut terluka. Perempuan ini memiliki 4 anak yang seharusnya mengurus mereka di hari tua. Sang anak tertua yang usianya sudah 69 tahun, mengaku tidak sanggup mengurus ibunya dan meminta adik-adiknya untuk bergantian mengurus sang ibu. Namun ketika sang ibu terluka, si anak bungsu justru meninggalkannya di samping tempat sampah. Inilah yang membuat netizen geram dan bertanya-tanya di mana hati nurani mereka?

Di usia senja yang seharusnya perbanyak leha-leha, mereka justru menghadapi situasi yang menyedihkan di jalanan

Beginilah seharusnya orang tua menjalani hari-hari via www.nytimes.com

Lain lagi dengan kisah Li Shengli dari Provinsi Henan. Pria berusia 62 tahun ini terekam dalam sebuah video sedang mengais sampah dan makan makanan sisa restoran. Li Shengli mengakui bahwa ini pilihannya sendiri karena tak mau menjadi beban anak perempuannya di rumah. Lalu di Jinan, seorang nenek berusia 70 tahun menjual sayuran di pinggir jalan pada malam hari. Menurut pengakuannya, sang nenek ingin membantu anaknya untuk membeli rumah. Di usia senja yang seharusnya mereka lebih banyak bersantai di rumah, menemani cucu dan anak-anaknya, para orang tua ini justru menghadapi hidup yang berat dan pedih.

Tekanan hidup dan perasaan ditinggalkan oleh keluarga, membuat manula di Cina rentan bunuh diri. 30% dari orang tua mengakhiri hidupnya sendiri

Beban hidup orang tua di Cina berat via www.theglobeandmail.com

Nampaknya persoalan ‘orang tua’ ini menjadi masalah serius di Cina. Faktanya sama seperti Jepang, Cina sedang menghadapi masalah populasi yang menua. Parahnya di Cina para manula ini memiliki potensi bunuh diri yang besar. Bagi sebagian besar orang Cina, menjadi tua berarti menjadi beban. Mulai dari hidup yang penuh kesedihan dan kesengsaraan finansial, rasa tak ingin membebani anaknya, membuat tekanan mental semakin besar. Kebanyakan dari mereka juga tinggal sendiri dan kesepian, karena anaknya pergi ke kota dan sudah punya kehidupan sendiri. Meskipun jumlah orang bunuh diri di Cina dari tahun 1990 hingga 2013 turun lumayan signifikan, namun jumlah kasus bunuh diri pada manula justru meningkat.

Negara barangkali berperan dalam kondisi ini. One Child Policy membuat orang tua hanya punya satu tumpuan di hari tua

Cuma satu anak yang jadi tumpuan via eaglenews.org

Mengapa orang tua bisa terlunta-lunta tanpa ada yang mengurusnya? Ke mana anak-anaknya?

Hal itu yang menjadi pertanyaan bersama. Menduga-duga sedikit, barangkali kondisi ini dipengaruhi pula oleh ‘one child policy yang sudah berlaku bertahun-tahun di Cina untuk menekan populasi. Saat ini kebijakan tersebut memang sudah dicabut, tapi efeknya mungkin baru terasa. Para orang tua hanya punya satu anak untuk menjadi tumpuan di hari tua. Bila sang anak tidak mau atau tidak memungkinkan untuk menemani hari tuanya, mereka harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri sampai mati.

Berangkat dari kondisi ini, panti asuhan Cina bukan hanya untuk anak yang tak punya orang tua. Melainkan juga orang tua yang tak punya anak

Dua kakak beradik yang tinggal di Ji Xiang karena diabaikan anak-anaknya via www.bbc.com

Tingginya pertumbuhan usia di Cina dan minimnya fasilitas dan solusi yang diberikan oleh pemerintah inilah yang memaksa banyak pihak bergerak. Menjadi rumah bagi orang tua yang ‘tidak punya’ anak, adalah visi dan misi dari kuil Ji Xiang. Terletak di pegunungan di Provinsi Fujian, Ji Xiang menjadi tempat yang nyaman sekaligus meditasi untuk penganut Buddha. Puluhan orang tua menghabiskan hidup mereka di sana. Ada yang terlalu miskin untuk pergi ke tempat lain, ada yang tidak punya anak yang bisa mengurus, tapi sebagian besar mereka diabaikan oleh keluarga.

Sebuah kisah menyedihkan dituturkan oleh Neng Qing, kepala biara, tentang seorang kakek di desa tetangga yang punya 8 anak. Setiap pagi, sang kakek mendatangi satu persatu anaknya, namun tak satupun dari mereka yang mengundangnya untuk makan. Ketika perangkat desa menghubungi kuil Ji Xiang, semuanya sudah terlambat. Sang kakek sudah tewas karena bunuh diri. Di tempat ini, orang-orang tua yang diabaikan diberikan kehidupan yang layak dan tenang untuk hari-hari tua mereka.

Tak perlu jauh-jauh, di Indonesia pedagang lanjut usia bisa ditemukan di jalan-jalan. Antara tak ingin berdiam di rumah atau memang tak ada yang memperhatikan

Seorang kakek berjualan mainan

Namun kita tentu tak perlu jauh-jauh ke Cina. Di Indonesia sendiri banyak orang-orang usia senja yang masih bersemangat mencari nafkah. Berjualan dari jalan ke jalan karena pantang meminta-minta. Untungnya pun tak seberapa, karena terkadang ada pembeli yang tega menawar sampai semurah-murahnya. Ada banyak faktor mengapa orang tua yang seharusnya tinggal bersantai di rumah ini masih berjuang mencari uang. Sebagian untuk mencari kegiatan karena enggan berdiam diri di rumah, ada juga yang memang harus memenuhi kebutuhannya sendiri karena tak ada anak yang memberi sokongan.

Bagaimanapun caranya, orang tua adalah tanggung jawab kita. Tak ada alasan untuk mengabaikan orang tua, seburuk apapun kondisi kita. Bahkan sejatinya, tidak ada materi sebesar apapun yang dapat membalas jasa orangtua yang telah mengorbankan segalanya demi membesarkan kita. Sekalipun kita kekurangan materi, tak sepatutnya kita mengurangi niat untuk menjaga orangtua sampai hari akhir. Disamping inisitif pribadi yang makin terkikis dalam dunia individualis ini, pemerintah juga harus memiliki program kesejahteraan yang baik untuk populasi manula. Dari penyediaan infrastruktur seperti panti jompo, sampai program-program pemberdayaan supaya kalangan lansia tidak merasa seperti golongan terbuang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya