Sebagai remaja tanggung yang kadang juga ingin berbuat nakal, wajar saja jika ada beberapa hal nyeleneh yang sengaja kita lakukan diam-diam. Bahkan setiap orang sepertinya punya rahasia dan hal memalukan dalam hidupnya yang nggak ingin orang lain tahu. Kecerobohan masa muda, hingga perbuatan kecil yang memalukan memang kadang nggak sebaiknya diumbar. Tapi tiga tahun lagi di Cina, hal ini bakal jadi konsumsi publik buat menentukan skor sosialmu.

Sejak 2015 lalu Cina berencana menerapkan sistem kredit semester sosial. Nggak beda dengan sistem ranking di sekolah dan penilaian IPK, sistem ini akan memberikan penilaian pada setiap individu mengenai kehidupan sosialnya. Tujuannya pun nggak main-main, yaitu untuk memberikan sebuah gambaran apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak. Dengan segala kecanggihan internet Cina yang independen, kontrol sosial ini bakal dilakukan pada 1,3 miliar penduduknya. Hmmm, gimana sih skenario dari sistem yang lebih mirip seperti di film-film sci-fi ini? Simak sampai habis uraian Hipwee News & Feature berikut ini ya!

“Sistem Kredit Sosial”. Kalau bayanganmu rencana ini mirip salah satu episode serial sci-fi 

‘Nilai’-mu sebagai manusia akan terpampang untuk publik via www.techly.com.au

Advertisement

Udah pernah nonton episode Nosedive di Serial Netflix Blackmirror? Film ini kurang lebih sama dengan konsep Sistem Kredit Sosial yang akan diterapkan di Cina. Bagi kamu yang belum nonton, serial ini menceritakan seorang tokoh wanita bernama Lacie yang terobsesi untuk dapat reputasi bagus di masyarakat. Nilai yang paling sempurna adalah nilai 5, Lacie terobsesi mendapatkan nilai 4.5 demi mendapat diskon dan harga terbaik dari apartemen yang ia inginkan. Ia pun selalu memasang wajah ceria dan berusaha baik pada orang lain, meskipun dalam hati ia tak menyukainya.

Sistem Kredit Sosial Cina seperti kisah film atau serial sci-fi yang berubah jadi nyata. Meskipun saat ini kita sebenarnya juga sudah punya ‘penyakit sosial’ untuk men-judge orang lain hanya berdasarkan postingan atau status di medsos, tapi nggak terbayangkan kalau pemerintah

Setiap orang dinilai kehidupan sosialnya secara langsung. Bahkan bukan hanya bagaimana dia bersikap di depan orang-orang, tapi bagaimana jejak dan sepak terjangnya di dunia maya. Perilaku belanja online, apa saja yang dicari di mesin pencarian, hingga bagaimana reputasinya di media sosial sangat mempengaruhi skor dirinya. Bisa jadi jika sistem ini diterapkan, nggak menutup kemungkinan dunia bakal ceria dan penuh tawa, tetapi semua hanya kepalsuan untuk dapat skor bagus layaknya di Nosedive.

Nggak heran, mereka bisa mengontrol perilaku online warganya, dan punya sistem internet yg berbeda

Mungkin begini gambaran rapor kehidupan mereka nantinya via e27.co

Advertisement

Cina berbeda dengan negara kebanyakan soal kebiasaan berinternetnya. Mereka lebih sering menggunakan aplikasi buatan lokal yang digunakan secara merata di Cina. Aturan akses internet di Cina terbilang sangat ketat, mereka bahkan sudah memblokir WhatsApp, Facebook, dan aplikasi lain yang lazim digunakan di banyak negara dunia. Sebagai gantinya warga disana menggunakan WeChat. Tentu saja kebijakan ini didasari oleh motif ekonomi untuk membiarkan produk lokal negaranya makin maju. Karena internet di Cina yang lingkupnya lokal, pemerintah bisa dengan mudah mengakses big data dan rekam jejak warganya di dunia maya. Big data inilah yang bakal jadi takaran penilain seseorang. Sudah kebayang belum nih, ngeri atau justru canggih?!

Kalau skormu jelek, kamu bisa nggak diperbolehkan rental mobil dan nggak akan dapat diskonan

Mungkin setiap orang berhak saling menilai nantinya via www.wired.co.uk

Bukan hanya sekadar angka, nilai ini digunakan untuk perizinan pengajuan kredit, akses pada pengadaan dan fasilitas publik, sampai karier dan boleh tidaknya seseorang mendapatkan diskonan hotel. Mirip seperti Nosedive, orang dengan penilaian buruk sulit mendapatkan promosi dan kepercayaan. Bukan nggak mungkin kamu gagal mendapatkan tiket berlibur hanya karena catatan perilakumu buruk. Sebenarnya tujuan pemerintah Cina memberlakukan hal ini adalah untuk mengukur tingkat kepercayaan setiap orang dan mengontol perilaku sosial. Namun kalau dampaknya sudah meluas dan kelewatan, bukan nggak mungkin kebaikan dan nilai-nilai baik dalam bermasyarakat hanyalah kepalsuan agar dapat penilaian baik.

Kira-kira bakal mengerikan atau membantu ya? Ketika semua manusia terpacu sama angka, aspek kehidupan akan berubah

Bayangkan jika semua tawa dan kebahagiaan hanyalah kepalsuan via www.linkedin.com

Meski baru rancangan, namun konsep Sistem Kredit Sosial ini sudah disahkan bahkan Tencen dan Alibaba sebagai perusahaan raksasa Cina sudah menyetujui untuk terlibat dan turut andil. Sistem Kredit Sosial akan benar-benar dijalankan pada 2020 nanti, masyarakat Cina pun hingga saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan.

Berbeda dengan kondisi internal di Cina, masyarakat dunia justru skeptis dan mempertanyakan konsep yang nampak kelewatan ini. Menilai kehidupan sosial seseorang tak bisa selamanya dengan angka atau patokan tertentu. Terkadang kehidupan sosial memang harus dinilai relatif dan apa adanya. Yang ditakutkan, orang-orang akan saling terpacu dan berlomba-lomba dapat skor bagus dan menghalalkan segala cara. Bukan nggak mungkin akan banyak kriminalitas yang makin tak terkontrol dari diberlakukannya sistem ini..

Untungnya Indonesia masih jauh ke arah menilai kehidupan sosial seseorang dengan angka ya. Lha wong sistem ranking sekolah dan IPK saja bikin kita membabi buta, sampai lupa mana teman mana lawan. Kalau kehidupan sosial ikut di ranking, nggak kebayang deh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya