Di Indonesia, kucing jadi binatang liar yang sering kita temui sehari-hari. Hampir di setiap sudut perkampungan atau perumahan, pasti ada kucing. Memelihara kucing di negara kita juga terbilang mudah. Siapa saja bisa memiliki kucing, nggak peduli gimana latar belakangnya, atau kondisi ekonominya saat itu. Lain halnya di Amerika, yang kalau mau pelihara kucing aja harus memenuhi sederet persyaratan buat menunjukkan kalau kita memang mampu merawatnya.

Kita seringkali tidak sadar, kalau keberadaan kucing liar yang kurang dikontrol ternyata malah bisa membawa dampak buruk bagi lingkungan. Setidaknya alasan itulah yang membuat pemerintah sebuah kota di Selandia Baru, Omaui, menggodok kebijakan untuk melarang keberadaan kucing selama-lamanya. Meskipun aturan ini masih belum resmi disahkan, tapi sepertinya menarik buat membahas perkara kucing ini lebih lanjut. Hipwee News & Feature sudah merangkum info spesialnya buat kamu. Simak, yuk!

Dinas Lingkungan Southland berencana mengeluarkan kebijakan pelarangan kucing di Kota Omaui, New Zealand

Kucing bakal dilarang keberadaannya via www.msn.com

Advertisement

Di Omaui, Southland, Selandia Baru, beredar desas-desus soal pelarangan kucing oleh Dinas Lingkungan Southland. Kebijakan ini baru berupa rencana dan belum diresmikan. Kalau aturan ini benar-benar berlaku, penduduk di Omaui tidak bisa lagi memelihara kucing. Begitupun kucing-kucing liar yang tak akan lagi terlihat berkeliaran di jalanan. Mungkin sekilas terlihat ‘jahat’. Tapi tunggu sampai kamu mengetahui alasannya. Karena mungkin ada benarnya juga…

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Katanya kucing seringkali tertangkap melakukan perusakan di semak-semak, atau bahkan memangsa burung dan hewan reptil

Kucing memang diciptakan buat jadi predator via saleonlinevn.com

Pada dasarnya, kucing memang diciptakan sebagai predator. Sifat asli dari kucing ini mau gimanapun tidak akan bisa diubah. Sedangkan Omaui, adalah rumah bagi berbagai spesies fauna langka, termasuk burung unik seperti the kiwi birds. Sebuah CCTV di daerah terpencil Southland, pernah menangkap momen ketika kucing-kucing merusak semak-semak, memakan serangga, dan memangsa reptil.

Seorang penduduk bernama John Collins, yang juga ketua Omaui Landcare Charitable Trust, mengaku pernah melihat sendiri seekor kucing membunuh burung di halaman rumahnya. Menurutnya, kalau Omaui benar-benar ingin melestarikan keanekaragaman hayati, mau tidak mau kebijakan pelarangan kucing ya harus segera disahkan.

Peraturan ini jelas tidak lepas dari kontroversi. Meski belum disahkan, banyak orang yang tidak setuju dan mengecam pemerintah, terutama pecinta kucing garis keras

Dikecam oleh banyak pecinta kucing via www.nytimes.com

Advertisement

Pecinta kucing di dunia ini tidak terhitung jumlahnya. Aturan pelarangan kucing tentu membuat cat lovers di Omaui panas dingin. Menurut beberapa orang, terutama yang memang sudah memelihara kucing sejak lama, peliharaannya itu bisa membawa faedah tersendiri, seperti menangkap tikus-tikus yang bersembunyi di rumahnya. Soalnya tikus-tikus itu suka merusak barang. Meski sudah diberi racun tikus atau perangkap, mereka tahu gimana caranya tetap bertahan di sana.

Bagi yang sudah terlanjur punya kucing, mereka diberi waktu buat mendaftarkan kucingnya ke dinas setempat dan dikebiri biar tak bisa berkembang biak lagi

Harus dikebiri biar tidak bisa lagi berkembang biak via nose4news.net

Kalau jadi diterapkan, pemerintah tidak akan memusnahkan begitu saja kucing-kucing yang ada dengan cara yang keji. Bisa-bisa didemo gede-gedean sama aktivis binatang. Jadi bagi siapapun yang sudah punya kucing, tetap bisa memeliharanya sampai kucing itu mati. Asalkan, mereka segera mendaftarkan peliharaannya ke dinas setempat dan bersedia mengebirinya, biar tidak bisa berkembang biak lagi. Bahkan pemerintah juga berencana memasang mikrocip, mungkin biar bisa dipantau gerak-geriknya?

Bagi kita yang sehari-hari hidup berdampingan dengan kucing, mungkin tidak pernah sedikitpun kepikiran kalau pertumbuhan kucing yang tidak dikontrol bisa merusak keseimbangan hayati. Tapi bisa jadi karena kawasan konservasi di negeri kita kebanyakan jauh dari pemukiman, jadi kucing-kucing liar perkampungan juga tidak punya akses ke sana. Kalaupun ada kucing hutan, ya mereka hidup di tempat yang memang mendukung mereka buat mengembangkan skill berburunya. Di sana sih tidak perlu diatur ya udah seimbang sendiri, ‘kan ada hukum alam yang otomatis berlaku~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya