Bisa Terjadi Kapan Saja, Kematian Internet Bukan Isapan Jempol Belaka. Siap Menghadapinya?

kematian internet

Di zaman yang dikit-dikit online, kebutuhan sehari-hari bisa kita penuhi hanya dengan membuka gawai.  Belanja bulanan, bayar listrik, isi pulsa, bayar air PDAM, sampai urusan kerja dan pendidikan, semua bisa dilakukan secara daring. Tanpa disadari, muncul ketergantungan manusia pada internet. Anggapan kalau internet sudah jadi kebutuhan primer kayaknya nggak berlebihan. Bukankah kita sering kelimpungan kalau paket data habis?

Saking bergantungnya kita dengan internet, apa jadinya kalau internet mati? Ini bukan mengada-ada, ya. Kematian internet itu nyata lo. Jangan anggap hal yang satu ini bakal ada selamanya karena teknologi buatan manusia pun ada batasnya. Bayangkan bila mendadak media sosial nggak bisa dibuka, Google nggak bisa diakses, online store gulung tikar, dan semua hal yang biasa dilakukan di internet tinggal kenangan saja.

Jangan ngomongin internet mati dulu deh, gangguan internet aja sudah bikin hidup kita berantakan. Kejadian pekan lalu, Minggu (19/9) adalah bukti bahwa hidup kita bakal ‘kelar’ hanya karena gangguan internet. Gara-gara jaringan kabel bawah laut di perairan Batam terganggu, internet jadi lemot. Padahal, gangguan internet itu baru dialami oleh satu provider aja lo. Kita yang ada di pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Riau-Pontianak sudah panik setengah mati.

Lantas, jika kematian internet bukan isapan jempol belaka, apa aja sih yang jadi penyebabnya?

Meski satelit mulai digunakan, sebagian besar koneksi internet masih memakai fiber-optik. Kalau kabelnya rusak, ya jaringan internetnya rusak juga

Ilustrasi fiber-optik | Credit: Wikimedia

Penyebab kematian internet ini persis dengan kejadian seminggu lalu. Jadi, selain satelit, koneksi internet di seluruh dunia tersambung melalui kabel-kabel optik di bawah laut. Saat kabel ada yang putus, sudah pasti koneksi terganggu. Banyak hal yang bisa menyebabkan kabel optik ini putus. Pertama, kesalahan teknis seperti tersangkut jangkar kapal atau digigit binatang laut seperti ikan hiu. Kedua, lagi-lagi karena perang yang mungkin merusak infrastruktur tidak hanya di permukaan tanah, tapi juga bawah laut.

Pada tahun 2008, kecelakaan-kecelakaan kabel optik ini silih berganti mengganggu jaringan internet di seluruh dunia, terutama di Timur Tengah. Selama bulan Januari dan Februari 2008, gangguan itu menyebabkan 70% internet Mesir sampai 60% penggunaan internet di India turun. Bahkan, kabel antara Singapura dan Jakarta juga terputus pada akhir bulan Februari.

Penyelidikan besar-besaran dilakukan guna bisa merumuskan sistem pengamanan yang lebih baik, supaya peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi. Ada indikasi kuat terjadi sabotase yang menyebabkan kabel-kabel yang banyak melintasi daerah konflik tersebut terputus. Wah, berarti kita harus siap-siap nih kalau kejadian kayak begini terulang lagi.

Ancaman solar flare bisa menyebabkan kematian internet, benar-benar pernah terjadi tahun 1998 lalu!

Solar flare bisa menyebabkan kematian internet| Credit: Wikimedia

Pernahkah mendengar tentang solar flare? Itu lo, ledakan-ledakan kecil di permukaan matahari. Biasanya, fenomena ini terjadi saat aktivitas matahari meningkat. Peristiwa tahun 1998 lalu menjadi contoh kalau kematian internet memang bisa terjadi. Diduga karena aktivitas solar flare, satelit-satelit terlempar dari posisi dan gagal beroperasi. Akibatnya 80% pager mati, website dan internet PC semuanya down.

Selain itu, solar flare juga bisa mengakibatkan badai geomagnetik di bumi. Badai geomagnetik terdahsyat terjadi di tahun 1859 yang berhasil mengacaukan komunikasi telegraf dan mengubah kerangka teknologi dunia sejak saat itu. Secara teoritis, aktivitas matahari ini memang bisa menghancurkan seluruh jaringan internet dengan mudah. Nah, meski jarak matahari dengan bumi sangat jauh, tapi efeknya tetap bisa terasa juga.

Perang digital alias cyberwarfare juga bisa menimbulkan kematian internet dengan cara mengirimkan virus-virus berbahaya

Cyberwarfare bisa bikin internet mati | Photo by Fort George G. Meade Public Affairs Office on Flickr

Seiring majunya teknologi komunikasi, muncul konflik baru yang dinamakan cyberwarfare (perang digital). Manusia disebut-sebut bisa berperang tanpa memakai senapan. Dengan virus-virus berbahaya seperti Strom Worms, Code Red, dan myDoom yang bisa menghancurkan jaringan komputer, perang bisa dilakukan.

Sistem internet negara lain adalah sasaran utamanya. Target biasanya adalah sistem militer yang menjadi tulang punggung keamanan. Selain itu, target empuk lain adalah korporasi yang menjadi tulang punggung urusan ekonomi. Kerugiannya jelas lebih besar daripada kehilangan pasukan di medan perang. Isu cyberwarfare sempat mencuat saat pemilihan Trump jadi presiden beberapa waktu lalu. Keterlibatan Vladimir Putin yang dituding meretas Partai Demokrat, disinyalir jadi penyebab kemenangan Trump. Kalau dugaan itu benar, maka Putin membuktikan kalau cyberwar yang bisa berujung kematian internet bukan hal yang mustahil, `kan?

Tahu ‘kan kalau pemerintah punya akses untuk mematikan internet? Sekarang sih cuma situs-situs dewasa saja. Siapa tahu di masa depan pemerintah ingin seluruh sistem internet dimatikan~

Pemerintah juga bisa menyebabkan kematian internet | Photo by Gerd Altmann on Pixabay

Jangan lupakan peranan pemerintah. Sejauh ini, di Indonesia, beberapa website sudah diblokir karena mengandung adegan dewasa ataupun konten provokatif. Artinya, pemerintah punya akses untuk mengendalikan aktivitas internet kita. Bukan nggak mungkin suatu saat nanti banyak pemerintahan dunia menilai internet hanya memberikan dampak negatif; merusak generasi muda dan membahayakan negara. Akhirnya mereka mungkin saja mengambil langkah ekstrem, seperti Kim Jong Un di Korea Utara yang hanya memperbolehkan warganya akses 8 website saja.

Itu bukan skenario gila. Buktinya hal tersebut pernah dilakukan oleh pemerintah Iran semasa kerusuhan tahun 2010. Selama 45 menit, internet dimatikan total. Pemerintah Indonesia juga punya rekam jejak pernah memblokir internet. Bulan akhir tahun 2019, saat terjadi kerusuhan Papua di Surabaya yang berujung kerusuhan di beberapa daerah, pemerintah Indonesia terbukti memblokir internet di Papua dan Papua Barat. Bahkan, vonis tersebut ditetapkan oleh pengadilan.

Dalam kondisi seperti itu mungkin hanya orang dengan kemampuan hacker tingkat tinggi yang tetap bisa akses internet secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, rakyat biasa yang bisanya cuma buka Twitter, Instagram, dan Facebook seperti kita ini, bisa apa?

Ternyata ada  organisasi yang mengontrol internet di seluruh dunia, 14 orang di antaranya adalah pemegang kunci utama. Kalau mereka mau menutup internet, kita cuma bisa pasrah aja 🥲

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi