Menyebut Seseorang ‘Monyet’ Bisa Picu Pertikaian. Ahli Jelaskan Kenapa Sebutan ‘Monyet’ itu Menghina

Kenapa sebutan monyet menghina

Persatuan dan kesatuan Indonesia sedang diuji lewat serentetan peristiwa kerusuhan yang terjadi di sejumlah kota di Papua. Aksi massa besar-besaran itu berawal dari mahasiswa Papua di Surabaya yang diduga diteriaki “monyet” oleh beberapa oknum. Karena tidak terima, saudara-saudara mereka di tanah Papua melakukan protes sebagai wujud akumulasi emosi atas tindakan rasisme tersebut.

Advertisement

Sebutan ‘monyet’ memang sejak lama dianggap sebagai bentuk penghinaan. Siapapun yang dibilang monyet pasti tidak terima dan akan marah besar. Padahal kalau mau percaya teori Darwin, manusia itu merupakan kera yang berevolusi. Jadi, seharusnya ya kita nggak bakal marah meski disamakan dengan nenek moyang kita yang katanya Darwin adalah monyet.

Namun, kenyataannya kita tetap tersinggung kalau dikatain monyet atau hewan lain sekalipun. Untuk soal ini, para ahli punya jawabannya. Kita simak bareng, yuk!

Pada dasarnya, orang memang seringkali memakai nama hewan untuk merepresentasikan ekspresi atau simbol sifat manusia

Untuk mewakili sifat manusia via paknewulan.wordpress.com

Menurut Nick Haslam, Profesor Psikologi Universitas Melbourne dalam The Conversation, orang kerap menggunakan perbandingan hewan untuk berbagai ekspresi atau simbol sifat manusia. Mengambil contoh dalam cerita Animal Farm karya George Orwell, masing-masing hewan dalam cerita tersebut digambarkan mewakili simbol sifat manusia modern. Biri-biri untuk mereka yang selalu patuh, kuda untuk yang bijaksana, anjing untuk yang setia, dan babi untuk yang licik.

Advertisement

Tapi ternyata, nama-nama hewan ini nggak cuma dipakai buat mewakili ekspresi atau sifat manusia aja, melainkan juga sebagai bentuk umpatan atau penghinaan, seperti isu terkini yang melibatkan orang-orang di Papua

Monyet dianggap penghinaan via www.bbc.com

Menurut Nick Haslam dan rekan, ada dua alasan mengapa metafora hewan bisa bermakna sebagai penghinaan: Pertama, ketika orang-orang memanggil seseorang dengan jenis hewan yang cenderung dibenci seperti ular, lintah dan tikus, secara langsung orang tersebut sedang menunjukkan rasa benci atau jijik yang sama terhadap seseorang yang dituju. Orang yang disebut sama menjijikkannya dengan panggilan hewan yang digunakan.

Kedua, orang tidak terima ketika dirinya dipanggil dengan nama hewan tertentu karena merasa disejajarkan atau bahkan diposisikan lebih rendah derajatnya dari hewan tersebut. Dalam rantai keberadaan, manusia berada satu tingkat di atas hewan dan dua tingkat di bawah Tuhan dan malaikat. Ini karena manusia dianggap mempunyai kendali diri sendiri melalui akal, sementara hewan hanya mengandalkan insting dan cenderung tak terkendali. Maka menyebut manusia lain dengan sebutan hewan sama dengan menurunkan keberadaan mereka lebih rendah dan lebih primitif.

Maka, berbeda dengan penggunaan metafora ular, lintah atau tikus yang cenderung sebagai ekspresi jijik, jika seseorang menggunakan metafora hewan seperti, kera, monyet, babi, atau anjing, maka ini lebih bermakna emosial dan menekankan bahwa orang yang dituju lebih hina atau rendah derajatnya, bukan sekadar jijik.

Advertisement

Menggunakan nama hewan sebagai bentuk ketidaksukaan sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman kolonial lo. Artinya bukan baru-baru ini aja sebutan ‘monyet’ atau ‘anjing’ dianggap menghina

Sudah sejak zaman kolonial via kendawanganku.blogspot.com

Penggunaan metafora hewan ini sebenarnya sudah berlangsung sangat lama. Di nusantara setidaknya praktik penggunaan perbandingan hewan ini sudah dimulai sejak zaman kolonial. Sebagai satu contoh, Minke dalam roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer adalah sebutan dari seorang guru Belanda kepada pribumi dengan rujukan kata ‘monkey’. Belanda merasa lebih terpelajar, sedangkan pribumi dianggap sama hinanya dengan monyet.

Meskipun begitu, penggunaan metafora hewan juga bisa bermakna positif lo. Ya.. walaupun lebih banyak negatifnya sih…

Metafor “kucing” biasanya digunakan untuk makna yang positif

Selain digunakan sebagai ejekan atau penghinaan, penggunaan metafora hewan bisa saja bermakna positif, misalnya untuk menyebut orang yang disayang biasanya memakai perbandingan hewan yang menggemaskan yaitu kucing atau marmut.

Tapi, ya, meskipun begitu, hewan yang jadi perumpamaan negatif tetap lebih banyak sih. Jika dalam praktiknya hari ini kita bisa dengan gampang memanggil orang lain dengan sebutan hewan tertentu, apalagi dengan makna negatif tanpa memprosesnya terlebih dahulu di pikiran, lantas apa bedanya kita dengan hewan?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

Editor

An amateur writer.

CLOSE