Beberapa saat sebelum kedatangan Blackpink ke Indonesia weekend kemarin, mungkin ada di antara kamu yang sempat melihat tagar #RespectLisa berseliweran di media sosial. Memang tidak ada hubungannya dengan konser mereka kemarin sih, tapi tagar ini tampaknya masih cukup ramai dibicarakan. Tagar yang sempat viral di seluruh dunia itu, awalnya muncul sebagai respon atas kejamnya komentar-komentar netizen Korea atau K-netz terhadap penampilan Lisa, anggota Blackpink yang berasal dari Thailand. Bukan cuma kejam sih, tapi banyak komentarnya berbau rasis.

Ini komentar yang dipermasalahkan. Intinya, kalau tidak pakai makeup, Lisa akan terlihat seperti perempuan Thai biasa via netizenbuzz.blogspot.com

Banyak orang kaget dan seakan-akan bertanya, emang orang-orang Korea se-rasis itu yaDengan semakin banyaknya jumlah penggemar K-Pop atau K-drama yang berangan-angan bisa berkunjung atau bahkan tinggal di Korea Selatan, pertanyaan itu jelas meresahkan. Sebelum kita coba jawab pertanyaan itu, tetap penting untuk diingat bahwa rasisme itu sebenarnya ada di mana-mana dan pastinya tidak semua orang Korea Selatan itu rasis. Cuma memang menarik untuk membedah seperti apa realita rasisme di sana. Apalagi kalau kamu memang bermimpi untuk berkunjung atau bahkan menetap di Korea Selatan, mungkin sebaiknya baca dulu deh fakta-faktanya bareng Hipwee News & Feature. Biar nggak kaget gitu…

#RespectLisa trending di seluruh dunia karena fans internasional ingin Lisa dihargai dan tidak dihujat K-netz hanya karena dia berasal dari Thailand. Komentar-komentar menyebut ‘wajah Asia Tenggara’ memang sering muncul

Postingan tentang Lisa di portal online Nate/Pann* memang sering dibanjiri komentar merendahkan ‘SEA’ atau Asia Tenggara via netizenbuzz.blogspot.com

Advertisement

*) Tapi perlu kamu tahu kalau portal online semacam Nate/Pann di Korea Selatan itu penuh fans-fans ABG Korea yang hobinya memang menghujat satu sama lain. Jadi meskipun memang banyak komentar-komentar pedas, ofensif, seksis, dan bahkan rasis, tetapi pada saat bersamaan banyak juga postingan dan komentar lain yang menyanjung atau mengagumi kecantikan Lisa.

Meski komentar Nate/Pann jelas tidak bisa jadi acuan, sulit menyangkal adanya permasalahan rasisme yang cukup serius di Korea Selatan. Khususnya terhadap orang dari negara berkembang atau mereka yang kulitnya lebih gelap

Cuplikan dari video Asian Boss di mana Sam Okre menceritakan perilaku rasis yang pernah dia alami di Korsel via www.youtube.com

Dari data yang dihimpun Seoul Institute pada tahun 2015, 94,5% orang asing yang berada di Korea Selatan mengaku pernah mengalami rasisme. Baik dalam bentuk pandangan yang tidak ramah, dihindari di subway, atau terang-terangan dimaki di tengah jalan
Banyak juga klub malam yang jelas-jelas melarang orang asing atau yang berkewarganegaraan tertentu masuk, atau lowongan pekerjaan guru bahasa Inggris yang bertuliskan ‘white only’

Tidak menerima ‘tamu Afrika’, katanya sih karena ada virus Ebola via www.koreaherald.com

Pengaduan kasus kriminal pertama terkait rasisme, diajukan oleh seorang pria India yang dimaki-maki di dalam bus. Hanya karena ia duduk bersama temannya cewek Korea

Yang pertamakali membawa rasisme ke ranah hukum di Korsel via www.youtube.com

Bonojit Hussain jadi orang pertama yang mengajukan komplain kriminal berbasis rasisme ketika seorang ahjussi atau bapak-bapak Korea tiba-tiba memakinya dengan hujatan merendahkan dan rasis di dalam bus. Ahjussi itu tampaknya tidak setuju jika seorang cewek Korea terlihat ‘bersama’ dengan orang yang berkulit gelap. Cewek Korea-nya pun ikut terkena hujatan ahjussi yang sama. Peristiwa itu memperlihatkan minimnya kesadaran masyarakat dan perlindungan hukum terhadap korban rasisme di Korea Selatan. Bahkan PBB secara khusus meminta pemerintah Korsel bikin UU anti diskriminasi rasial pada tahun 2014 lalu.

Anehnya, banyak perilaku rasis di sana sebenarnya justru terasa ‘polos’ dan dilakukan atas ketidaktahuan. Seperti bagaimana anak kecil mungkin bertanya langsung kepada orang berkulit gelap, apakah kulitnya akan jadi putih jika disabuni

Jokes muka hitam masih ada di mana-mana, bahkan terang-terangan jadi nama restoran via nextshark.com

Homogenitas dan kurangnya kesempatan berinteraksi dengan orang asing sepanjang sejarah, ditengarai jadi faktor utama. Makanya perilaku seperti ini biasanya lebih sering dilakukan oleh generasi tua

Han Hyun-Min, model Korea-Nigeria saja masih sering mengalami diskriminasi di negaranya sendiri via www.dw.com

Paham ‘danil minjok‘ atau kemurnian etnis, dulu juga sempat diagung-agungkan untuk melawan penjajahan Jepang. Mungkin gara-gara paham ini, resistensi atau penolakan terhadap orang asing cukup tinggi

Mentalitas Korean-only karena  dulunya di-bully dan dan dijajah negara tetangganya via www.koreaobserver.com

Seiring banyaknya orang asing masuk ke Korsel dalam dekade terakhir, masalah rasisme juga makin sering menyeruak. Maka dari itu pemerintahnya kini mendorong prinsip ‘daemunhwa‘ atau multikulturalisme

Rally anti-rasisme di Seoul via www.vaticannews.va

Rasisme bukan hanya masalah Korea Selatan saja, tapi mungkin seluruh dunia. Orang Korsel sendiri pun masih sering mengalami rasisme seperti ini

Banyak orang juga tidak sadar kalau gestur ini dianggap merendahkan orang-orang Asia seperti Korea, Jepang, atau Cina via www.scmp.com

Perlu untuk selalu diingat, rasisme ada di mana-mana. Bukan cuma di Korea Selatan. Di Indonesia pun, mungkin permasalahan rasisme juga mungkin sama buruknya dengan apa yang terjadi di Korsel. Secara tidak sadar, kita masih seringkali merendahkan atau bahkan sebaliknya terlalu memuja-muja seseorang hanya karena dia berasal dari negara A atau B. Ya kayak nggak semua oppa-oppa dari Korsel itu ganteng kayak Lee Min-Ho dan bisa nge-dance kayak EXO. Penting banget deh untuk tidak terjebak stereotip dan selalu mencoba mengenal seseorang dengan sebenar-benarnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya