Nggak bisa dimungkiri kalau jumlah kasus pelecehan seksual di Indonesia mungkin udah tergolong sangat mengkhawatirkan. Mau melancarkan aksi di tempat sepi atau ramai, rasanya si pelaku seakan-akan nggak akan peduli. Yang penting kebutuhan seksualnya terpenuhi. Lihat aja belakangan ini, banyak cerita beredar soal pelecehan yang terjadi di jalan raya, pusat perbelanjaan, bahkan transportasi umum.

Kayak yang baru saja diceritakan oleh salah satu penumpang KRL di Facebook. Seorang pria diduga melakukan pelecehan seksual di atas kereta dan diusir ramai-ramai oleh ibu-ibu yang menjadi saksi di sana. Pengguna Facebook itu juga menyertakan video saat pelaku berusaha menyangkal. Kasus seperti ini semakin hari semakin meresahkan. Kita jelas nggak bisa tinggal diam tapi nyatanya butuh keberanian besar untuk bertindak atau sekadar mengakui dirinya adalah korban pelecehan. Simak deh ulasan Hipwee News & Feature kali ini.

Video yang menunjukkan geramnya sejumlah ibu-ibu karena ulah predator ini diabadikan dan diunggah ke Facebook oleh akun Nur Aina Putri

Advertisement

Reminder untuk selalu hati-hati dan care dengan keadaan sekitar. Krl relasi jak.kota-bekasi ada penumpang yg ketahuan melakukan sexual harassment. Kejadian sekitar pukul 18.07 di stasiun klender baru. Pelaku memakai topi (lihat foto). Mohon maaf bila ada wajah-wajah selain pelaku yg terekam di video ini.” – tutur Nur Aina Putri, seperti dilansir Detik.

Kejadian ini terjadi di atas kereta KRL Commuter Line jurusan Jakarta-Bekasi, Jumat (8/12) kemarin sekitar pukul 18.07 WIB. Di dalam video tampak sejumlah wanita marah dan geram dengan pria yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada seorang wanita. Ibu-ibu itu mengatakan kalau mereka melihat sendiri kelakuan bejat pria tersebut. Mereka mempertanyakan resleting pria yang terbuka saat posisinya tepat berada di belakang seorang wanita. Ditambah kondisi kereta saat itu sedang padat. Tak hanya marah, ibu-ibu itu juga melapor ke PKD (Petugas Keamanan Dalam) dan kompak memerintahkan pria itu untuk segera turun dari kereta.

Pelecehan di atas kereta yang melaju ini nggak cuma sekali aja terjadi. Banyak banget orang yang ikut bikin pengakuan kalau pernah jadi saksi, bahkan korbannya

Advertisement

Kondisi kereta terutama KRL yang selalu penuh di jam-jam berangkat dan pulang kantor, menjadi situasi ‘favorit’ pelaku pelecehan seksual. Sebenarnya nggak cuma KRL, kejadian macam ini juga sering terjadi di bus. Sesak dan padatnya penumpang dimanfaatkan pelaku buat menutupi kelakuan amoralnya. Nggak jarang saking ramainya kondisi kereta, korban pelecehan nggak sadar dirinya sudah dilecehkan. Tapi beberapa kejadian malah disadari oleh orang lain, seperti kasus yang diceritakan Virginia lewat Instagram Story-nya. Ia jadi saksi pelecehan seksual di KRL dan sempat dikejar pelaku, sebelum akhirnya ia berhasil melapor ke petugas stasiun terdekat.

Sedihnya, banyak juga orang yang belum paham sepenuhnya dan lebih pilih diam setiap ada kejadian serupa

Banyak yang belum paham, atau lebih pilih diam saja meski merasa jadi korban via www.eveyo.com

Meski ada beberapa yang mulai berani mengaku, tapi masih banyak banget mereka di luar sana yang sebenarnya pernah atau masih jadi korban pelecehan seksual, tapi nggak berani melapor. Alasannya cukup beragam, mulai dari malu, takut disalahkan, sampai takut nggak dipercaya. Ya, gimana, lah wong mindset masyarakat soal kasus ini masih tabu. Jadi para korban juga akhirnya cuma memilih diam. Nggak jarang juga mereka para korban belum paham kalau apa yang mereka alami itu sebenarnya bentuk pelecehan. Kayak siulan di jalan, godaan verbal, dan lain-lain.

Padahal pelaku pelecehan bisa diberantas kalau korbannya berani bicara. Para predator ini sudah sangat meresahkan!

Salah satu korban yang berani mengaku lewat media sosial. Seharusnya dibarengi dengan melapor ke pihak berwajib sih via medan.tribunnews.com

Salah satu faktor yang bikin pelaku pelecehan seksual nggak berhenti adalah karena kebanyakan korbannya nggak berani bicara. Kalau itu yang terjadi, sama aja dong kita memberi mereka ruang buat berlaku lebih liar lagi? Pencegahan kasus ini bisa dilakukan kalau semua korban bersatu dan berani melapor ke pihak berwajib. Jangan segan atau takut duluan setiap mau melapor. Karena kalau dibiarkan, para pelaku akan semakin gencar melancarkan aksinya. Nggak heran kalau suatu saat tempat atau transportasi publik yang seharusnya berguna buat beraktivitas mungkin malah jadi ‘momok’ bagi banyak orang.

Percayalah, pelecehan seksual bukan masalah yang harus disimpan sendiri dan cuma menunggu pelakunya sadar dengan sendirinya lho. Sebaliknya, ini bisa teratasi kalau para korban nggak ragu buat bicara dan melapor. Lihat aja gerakan global #MeToo atau #SayaJuga, bagaimana pengakuan satu orang bisa memberi inspirasi bagi korban pelecehan seksual lain untuk berani mengaku dan menghukum pelakunya. Yuk, perangi kejahatan seksual di sekitar kita!

Artikel ini merupakan rangkaian dari Hipwee Sexual Education. #JanganNgeresDulu, karena buta soal seksualitas justru akan mengaburkan langkahmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya