Kisah Orang-Orang Keturunan Jawa yang ‘Terjebak’ di Suriname, Negara Kecil di Amerika Selatan

Keturunan Jawa di Suriname

Beberapa waktu lalu ada seorang pengguna Twitter yang mencuitkan cerita orang di Quora soal pengalamannya punya suami orang Suriname. Begini tweet-nya:

Advertisement

Nama negara Suriname makin ramai dibahas setelah kabar kematian seniman Didi Kempot beberapa waktu lalu menyeruak di media massa. Soalnya Lord Didi dikabarkan sering banget manggung di Suriname. Penyanyi yang meninggal di usia 53 tahun itu bahkan jadi kesayangan masyarakat keturunan Jawa di Suriname. Setiap konsernya selalu ditunggu-tunggu. Lagu-lagunya banyak dihafal. Mungkin karena berasal dari tanah yang sama, jadi semacam ada ikatan batin gitu. Tapi ngomong-ngomong, kok bisa sih banyak keturunan Jawa yang ‘nyasar’ di Suriname? Bagaimana awal mulanya ya? Buat kamu yang penasaran sama negara serumpun kita ini, yuk, simak ulasan Hipwee berikut ini~

1. Suriname terletak di benua Amerika tepatnya di Amerika bagian selatan. Ia termasuk negara kecil, tapi jadi salah satu negara ‘kaya’ karena nggak punya utang luar negeri

Lokasi Suriname di peta via www.britannica.com

2. Suriname dan Indonesia sama-sama negara bekas jajahan Belanda. Bedanya, Indonesia lebih dulu merdeka, sedangkan Suriname baru merdeka tahun 1975

Masih ada bangunan dengan aksen Belanda via semestafakta.wordpress.com

Advertisement

3. Kesamaan histori inilah yang jadi awal mula kenapa banyak banget orang keturunan Jawa di Suriname. Tahun 1880-an, Belanda banyak membawa orang-orang dari Jawa, Indonesia, ke Suriname (dulu namanya Guyana Belanda) untuk dipekerjakan di perkebunan gula atau perkayuan

Suriname menjadi lokasi salah satu perkebunan pusat gula Belanda via id.quora.com

4. Kebanyakan dari mereka adalah kuli kontrak buta huruf yang nggak punya pilihan lain selain ikut ke Suriname. Dalam kurun waktu 1890-1939, ada 33 ribu orang Jawa yang dikirim pakai kapal ke negara itu. Mereka menggantikan kuli asal India yang dianggap banyak ulah

Dahulu, mereka nggak punya pilihan lain via id.quora.com

5. Dari migrasi besar-besaran itulah akhirnya orang-orang keturunan Jawa di sana beranak-pinak dan tetap membawa budaya Jawa sampai sekarang. Uniknya, kebanyakan mereka malah nggak bisa bahasa Indonesia dan justru fasih berbahasa Jawa

Karena dulu nggak ada teknologi, mereka pun jadi putus komunikasi sama keluarga-keluarga di Jawa via id.quora.com

Advertisement

6. Etnis Jawa di Suriname menempati posisi ke-4 sebagai penduduk terbanyak di Suriname. Posisi pertama adalah keturunan Indo-Pakistani (Hindustani)

Etnis di Suriname via www.britannica.com

7. Waktu Indonesia merdeka, banyak orang Jawa di Suriname yang pengin pulang ke Indonesia. Sebanyak 7 ribu orang sempat menginjakkan kaki lagi ke tanah air. Tapi waktu itu pemerintah malah “melempar” mereka ke Tongar, Sumatera Barat. Alasannya karena Jawa sudah penuh

Sempat kembali ke Indonesia via kumparan.com

8. Sayang, fasilitas hidup di Tongar tidak lebih baik dari Suriname. Akhirnya sebagian dari mereka memilih kembali ke Suriname yang masih “Jawa”. Pilihan itu dianggap lebih baik daripada pulang ke Indonesia tapi tidak di Jawa

Akhirnya banyak yang menetap di Suriname sampai sekarang via nakita.grid.id

9. Saat ini, banyak orang Jawa Suriname yang berharap bisa ketemu saudara atau kerabatnya di Jawa. Beberapa ada yang sudah berkirim pesan lewat surat elektronik. Di Facebook bahkan ada lo grup Sambung Roso Java Suriname-Indonesia yang anggotanya udah puluhan ribu

Penampilannya “njawani” banget ya via id.quora.com

10. Nggak kayak yang kita duga sebelumnya, orang-orang Jawa Suriname banyak yang hidupnya makmur. Beberapa bahkan menduduki kursi-kursi parlemen di sana lo. Tak sedikit juga yang berprofesi sebagai dokter, polisi, pengusaha, seniman, sampai olahragawan

Beberapa keturunan Jawa di Suriname yang menduduki kursi pemerintahan via tirto.id

Menarik ya, negara yang “saudaraan” sama Indonesia ini. Walaupun terpisah samudera, tapi “penampakan”nya nggak jauh beda sama tanah Jawa. Salut juga sama orang-orang Jawa Suriname itu, sebab di tengah gempuran modernisasi dan budaya-budaya pop ini, mereka masih bersikukuh mempertahankan budaya tanah sendiri. Kita yang orang Jawa dan masih beruntung bisa tinggal di kampung halaman sendiri, jangan sampai kalah sama mereka ya~

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE