Kronologi Pemotongan Nisan Salib di Pemakaman Muslim Yogyakarta. Komnas HAM: Ini Menodai Toleransi

Kronologi pemotongan nisan salib di Yogyakarta

Toleransi antar umat beragama di Indonesia kembali ternodai, kali ini terjadi di Kotagede, Yogyakarta. Nisan salib di makam jenazah beragama Katolik dipotong warga dengan alasan pemakaman itu khusus buat muslim. Foto-foto salib yang dipotong bagian atasnya dan sudah jadi huruf “T” itu tersebar di dunia maya. Kejadian ini pun viral dan jadi perbincangan dimana-mana. Sebagian besar warganet sangat menyayangkan adanya peristiwa itu.

Advertisement

Sebelum kamu ikut-ikutan berdebat, cari tahu dulu kronologinya gimana yuk. Kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkum informasinya buat kamu. Mari simak bersama!

Albertus Slamet Sugiardi meninggal dua hari lalu. Awalnya, keluarga sempat ingin menguburkan jenazah di komplek makam depan Gereja Santo Paulus Pringgolan, tapi ditolak pengurus gereja

Makam Jambon di Kotagede, Yogyakarta via www.bbc.com

Albertus adalah warga Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. Dua hari lalu, tepatnya Hari Senin 17 Desember, ia meninggal dunia. Albertus yang juga merupakan jemaat Gereja Santo Paulus Pringgolayan Kotagede awalnya mau dimakamkan di komplek makam depan gereja itu atas permintaan keluarganya. Tapi pihak gereja menolak karena Albertus bukan warga setempat.

Dikutip dari Tempo, akhirnya keluarga diwakili pengurus gereja, Agustinus Sunarto, minta izin ke tokoh masyarakat Purbayan, Bedjo Mulyono, agar Albertus dimakamkan di Makam Jambon, yang notabene tidak jauh dari rumah almarhum. Setelah diskusi, akhirnya Bedjo memperbolehkan Albertus dimakamkan di sana, dengan syarat letak makam harus di pinggir, tidak boleh di tengah. Keluarga pun menyanggupi.

Advertisement

Selain lokasi makam harus di pinggir, warga setempat juga melarang adanya doa dan upacara jenazah, baik di areal pemakaman maupun di rumahnya sendiri. Waktu menancapkan nisan salib pun, masyarakat menolak, lalu dipotong

Nisan salib yang dipotong via tirto.id

Setelah dicapai kesepakatan, Agustinus mengaku mendapat pesan singkat kalau ternyata warga Purbayan juga melarang adanya doa dan upacara jenazah di makam maupun rumah almarhum. Nisan salib yang sudah terlanjur disiapkan keluarga pun harus dipotong bagian atasnya, katanya biar tidak ada simbol-simbol Kristen di pemakaman yang akan dijadikan khusus muslim itu. Alhasil, nisan salib berubah jadi bentuk “T”, dan dipasang agak dalam supaya yang terlihat cuma bagian horizontalnya saja.

Dari keterangan Ketua RT setempat, Soleh Rahmad Hidayat, seperti dilansir BBC, sejumlah kesepakatan di atas sudah disetujui keluarga. Tapi entah gimana ceritanya malah jadi viral. Karena viral ini kemudian istri almarhum diminta membuat surat keterangan tertulis bermaterai, yang isinya menerima dengan ikhlas kalau nisan suaminya dipotong.

Surat pernyataan istri Albertus Slamet via twitter.com

Keluarga Albertus adalah 1 dari 3 KK pemeluk Kristen/Katolik yang tinggal di kampung yang mayoritas muslim itu, sedangkan 147 KK lainnya beragama Islam

Tokoh masyarakat, Bedjo Mulyono, saat menunjukkan surat pernyataan dari istri Albertus via nasional.tempo.co

Dari sekitar 150 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di RW 13 Purbayan, memang diketahui cuma ada 3 KK yang memeluk agama Kristen atau Katolik, salah satunya keluarga almarhum Albertus itu. Selama tinggal di sana, ternyata warga juga keberatan kalau keluarga selain muslim menggelar ibadah dan doa rutin di rumah, apalagi kalau ada nyanyian-nyanyian. Fakta ini disampaikan Wiwik Jati, Ketua Lingkungan Gregorius Agung Sanjaya (GAS). GAS selama ini mengurus Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan, tempat Albertus dan keluarganya biasa beribadah.

Advertisement

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menyayangkan adanya kejadian ini, karena menurutnya sama saja menodai toleransi

Beka Ulung Hapsara via nasional.kompas.com

Dikutip dari Tirto, Beka Ulung Hapsara, Komisioner Komisi Nasional HAM, menilai kejadian di Kotagede, Yogyakarta itu sudah menodai norma sosial dan toleransi di Indonesia. Menurutnya, terlepas dari gimanapun latar belakang seseorang yang sudah meninggal, kita harus memperlakukannya dengan layak dan bermartabat. Apalagi kalau dilihat dari kasusnya, almarhum itu merupakan warga setempat, bukan warga kampung lain yang tiba-tiba ingin dimakamkan di sana. Ditambah Indonesia, meski mayoritas muslim, tapi juga ada 5 agama lain yang turut diakui dan mereka hidup saling berdampingan.

Di samping itu, Beka juga menyoroti minimnya lahan pemakaman di Yogyakarta. Mungkin kalau pemerintah bisa menyediakan pemakaman umum, dimana semua orang dari semua golongan bisa dimakamkan di sana, kejadian seperti di atas tidak akan terulang.

Berbeda dengan pendapat Bedjo, menurutnya warga kampungnya sudah cukup toleran dengan keluarga Albertus, dengan mengizinkan almarhum dimakamkan di Makam Jambon. Lebih jelas lagi, bentuk toleransi yang dimaksud Bedjo seperti warga membantu menyiapkan proses pemakaman, pemandian jenazah, sampai meminjamkan ambulans untuk membawa jenazah dari RS PKU Muhammadiyah ke rumah almarhum.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

CLOSE