Artikel ini adalah bagian dari kampanye KadoPahlawan Hipwee Community. Tergerak mewujudkan laptop untuk Mbak Hayu? Kamu bisa berdonasi lewat kadopahlawan.hipwee.com dan KitaBisa untuk Mbak Hayu. 

Mbak Hayu, begitulah kami memanggilnya. Ibu muda berusia 33 tahun ini begitu ramah pada siapa saja. Tapi siapa sangka di balik keramahannya terdapat sepenggal kisah hidup yang begitu inspiratif?

Mbak Hayu adalah pengidap Schizophrenia yang tetap berusaha berdaya. Di tengah keterbatasannya semangatnya menginspirasi orang lain tidak menguap begitu saja.

Advertisement

Sudah 14 tahun Mbak Hayu bersahabat dengan Schizophrenia. Penyakit yang membuatnya akrab dengan Rumah Sakit Jiwa

Schizophrenia membuat Mbak Hayu harus akrab dengan Rumah Sakit Jiwa

Schizophrenia membuat Mbak Hayu harus akrab dengan Rumah Sakit Jiwa via hipwee.com

Kisah itu dimulai pada tahun 2001, ketika mbak Hayu mengenal Rumah Sakit Jiwa dan Syaraf Puri Waluyo. Kejadian tersebut bermula ketika teman laki- lakinya berkunjung ke rumah mbak Hayu. Teman tersebut membawa apel merah dan mbak Hayu di minta makan apel tersebut. Setelah ia makan, tiba- tiba ia tidak ingat apapun, tidak ingat hari, tanggal, lagi dimana, dan sebagainya. Setelah makan apel tersebut, ia kehilangan memorinya dan sampai sekarang ia tidak mampu mengingat- ingat kejadian masa itu.

Banyak tetangga yang beranggapan Mbak Hayu sakit karena di guna- guna oleh orang lain. Namun ternyata setelah pemeriksaan lebih lanjut Mbak Hayu mengidap Schizophrenia, penyakit yang mempengaruhi memori dan ingatannya. Sejak saat itu, ia harus menjalani EST atau setrum otak sebagai usaha mengembalikan memori otaknya. Ia harus merasakan sakitnya di setrum otak di Rumah Sakit Jiwa dan Syaraf Puri Waluyo.

Advertisement

Tapi Mbak Hayu ini pejuang. Schizophrenia tidak membuatnya berhenti berkembang

Schizophrenia tidak membuat Mbak Hayu berhenti berkembang

Schizophrenia tidak membuat Mbak Hayu berhenti berkembang via hipwee.com

Schizophrenia tidak menghalangi langkah Mbak Hayu untuk berkembang. Ia sempat meneruskan kuliahnya yang tertunda pada salah satu Sekolah Tinggi swasta di Solo. Semasa kuliah, Schizophrenia-nya kembali kambuh. Ketika itu ia dan temannya berboncengan menuju kampus, mbak hayu yang mengendarai motornya. Tiba- tiba ia tidak tahu arah dan jalanan menuju kampus, tiba- tiba memorinya hilang dengan sendirinya.

Selepas kuliah Mbak Hayu pernah bekerja sebagai guru honorer yang mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Ia mengajar di lima sekolah dasar yang ada di Solo. Namun ia hanya bertahan satu tahun untuk mengajar, karena tidak memiliki ijazah guru.

Sekarang Mbak Hayu berjanji tak perlu masuk Rumah Sakit Jiwa lagi. Tulisan, jadi upayanya berdamai dengan penyakit ini. Sembari berharap bisa mewujudkan impian memiliki Pabrik Al-Qur’an yang membawa kemanfaatan

Mbak Hayu tetap bermimpi punya pabrik Al-Quran

Mbak Hayu tetap bermimpi punya pabrik Al-Quran via hipwee.com

Terakhir kali masuk RSJ pada 6 Desember 2014 sampai 27 Januari 2015, mbak Hayu berjanji untuk tidak akan masuk lagi ke rumah sakit jiwa. Hal itu ia buktikan dengan ia rela mengayuh sepeda selama 1 jam sekedar mengambil obat dari Griya PMI Peduli. Setelah dipulangkan dari Griya PMI mbak Hayu masih menyempatkan diri untuk membantu merawat rekannya di Griya PMI. Ia menyukai kerja yang bersifat sosial dan kemanusiaan. Mbak Hayu bersyukur berada ditengah-tengah mereka, karena baginya ketika bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya.

Mbak Hayu memiliki bakat menulis, ketika ia di Griya maupun luar griya ia sering menulis di buku diarynya. Buku diary ini menjadi bahan bacaan anak-anaknya. Ketika tulisannya di baca anaknya ada harap dari mbak Hayu agar kelak anaknya dapat mengikutinya menulis buku diary. Ia ingin setiap momen dapat diabadikan dengan tulisan agar tidak terlupakan. Mbak Hayu sangat ingin mengembangkan bakat menulisnya, selain itu mbak Hayu bercita-cita memiliki pabrik Al-qur’an. Keuntungan dari usaha itu ia rencanakan untuk disumbangakn kepada anak-anak di Gaza.

Seluruh donasi yang terkumpul akan digunakan untuk:

Membeli laptop bagi Mbak Hayu. Agar impiannya mewujudkan Pabrik Al-Qur’an dari menulis bisa benar-benar terlaksana. Supaya Mbak Hayu tetap semangat hidup berdampingan Schizophrenia.

Laptop sederhana jelas harganya tidak seberapa. Namun mewujudkan impian Mbak Hayu akan membuatnya percaya bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia.

Hidup dengan Schizophrenia sudah berat. Keinginan Mbak Hayu agar tetap bisa bermanfaat bagi sesama menunjukkan bahwa ia orang hebat. Tergerakkah kamu untuk ikut berbagi? Donasimu bisa disalurkan lewat microsite ini. Atau KitaBisa untuk Mbak Hayu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya