Filosofi di Balik Ketupat dan Opor Ayam yang Identik Disantap Saat Lebaran. Ternyata Menarik, lo!

Makna ketupat opor ayam Lebaran

Perayaan lebaran selalu identik dengan makanan dan minuman yang beragam, sebut saja sambal goreng kentang, rendang, sampai aneka kue kering seperti nastar dan kastengel. Meski sebenarnya setiap daerah di Indonesia punya sajian khasnya masing-masing saat Hari Raya Idul Fitri, tapi ada makanan yang sepertinya nggak pernah absen disajikan di setiap meja makan kita semua. Apalagi kalau bukan ketupat dan opor ayam.

Advertisement

Nah, di balik popularitasnya, ternyata duo kombo ketupat dan opor ayam ini menyimpan filosofi yang menarik untuk dibahas bareng. Ini juga bakal menjawab kenapa keduanya identik sama perayaan Idul Fitri. Penasaran ulasan lengkapnya? Simak, yuk, artikel Hipwee kali ini~

Di balik bentuknya yang unik, ketupat dipercaya melambangkan empat macam nafsu yang dikalahkan manusia dengan berpuasa

Isi ketupat via www.qraved.com

Menurut masyarakat Jawa, bentuk ketupat mewujudkan kiblat papat limo pancer. Maksudnya adalah empat arah mata angin utama yaitu utara, timur, selatan, dan barat. Tetapi, hanya ada satu kiblat atau pusat. Keempat sisi ketupat juga diartikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki manusia dan dikalahkan dengan berpuasa. Jadi kalau makan ketupat, bisa dibilang kita mampu mengalahkan nafsu-nafsu tersebut.

Bentuk ketupat yang begitu sempurna melambangkan kemenangan umat Islam di hari Lebaran. Kemenangan itu dicapai setelah berpuasa selama sebulan dan mengalahkan segala hawa nafsu. Sedangkan bungkusan ketupat yang rumit mencerminkan berbagai kesalahan manusia. Saat bungkusan itu dibuka, tampak nasi putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian hati kita setelah memohon ampun. Ternyata keseluruhan maknanya seindah ini ya~

Advertisement

Kalau secara bahasa Jawa, ketupat adalah kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat yang melambangkan banyak makna

Sajian ketupat via nasional.kompas.com

Nggak nyangka, ternyata selama ini ketupat adalah kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Menurut masyarakat Jawa, Ngaku Lepat berarti mengakui kesalahan. Sebutan ini mewakili tradisi sungkeman yang menjadi kesempatan untuk mengakui kesalahan bagi orang-orang. Proses sungkeman dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua dan meminta ampun. Dari situlah kita belajar pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, dan memohon ampunan dari orang lain.

Bagaimana dengan Laku Papat? Istilah ini menandakan empat tindakan saat Idul Fitri yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan berarti ajakan bersedekah melalui zakat fitrah untuk kaum miskin. Sedangkan leburan menandakan leburnya dosa dan kesalahan kita saat Lebaran. Terakhir, laburan adalah harapan agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin.

Untuk melengkapi ketupat, ada opor ayam dari santan yang melambangkan permintaan maaf. Komplet!

Advertisement

Opor dan ketupat via www.liputan6.com

Sajian ketupat nggak lengkap rasanya tanpa opor ayam. Kedua hidangan ini mempunyai rasa yang lezat dan memang pantas menjadi primadona saat Lebaran. Opor ayam menggunakan santan sebagai bahan utama kuahnya. Dalam bahasa Jawa, santan disebut sebagai santen yang berarti pangapunten alias memohon maaf.

Kalau disajikan bersama, ketupat dan opor ayam melambangkan permintaan maaf yang tulus serta niat untuk memperbaiki diri dengan hati yang putih dan suci. Wah, komplet ya! Maknanya sesuai banget dengan budaya dan tradisi Lebaran. Setelah memahami filosofi ini, semoga kita semakin bersemangat dan bersyukur saat merayakan Idul Fitri.

Yuk, terus tambah kebaikanmu di bulan ramadan ini bersama Hipwee! Jangan lupa kunjungi halaman #RamadanDirumah ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

An amateur writer.

CLOSE