Jam Kerja Bukan Alat Kelamin: Kenapa sih Pengennya Panjang-Panjang?

Masalah jam kerja

Komedian asal London, Ross Smith pernah melempar sebuah lawakan brilian, “Tidur adalah hal favoritku di dunia. Itu alasanku untuk bangun di pagi hari”. (Tidak usah diforward ke grup keluarga, nggak akan dianggap lucu sama Pakdemu)  

Seharusnya jadi aktivitas dasar manusia, tidur kian hari terasa makin mewah bagi kita. Buku self help tentang cara tidur pulas laris terjual, industri jasa teman tidur di Jepang beneran eksis, anggota DPR tidur berjamaah di rapat (ini udah dari dulu sih), polisi tidur tiba-tiba begadang, sementara 19 persen dari umat manusia online lebih dari 40 jam per minggu, astaga, sungguh kita punya masalah.

Di kala generasi-generasi lalu berjibaku dengan perang, kelaparan (hari ini lebih banyak orang yang mati karena obesitas daripada kelaparan), wabah penyakit (Korona belum semematikan wabah-wabah lalu), masalah kita apa  gaes?

Kurang tidur.

Kok bisa? Ya karena KERJA-lah, memangnya KPR bisa dicicil pakai budi pekerti???

ADVERTISEMENTS

ADVERTISEMENTS

Lain dengan orangtua kita, hidup generasi so called millenial hanya tersusun dari dua hal: kerja dan sambat. Eh, yang nggak kerja pun sambat juga.

Pekerjaan bahkan tak hanya menelan jam-jam produktif kita, namun semua jam bangun kita. Mulai dari terbangun menguap menyiapkan mental untuk menjalani hari, sampai jam-jam pillow talk membicarakan kekhawatiran urusan kerjaan di esok hari. Sudah beruntung jika pas kamu mimpi basah isinya bukan cuddling sama kalender kantor.

Faktanya, jam kerja tak benar-benar berakhir di akhir jam kerja.

Saat kita menengok ke belakang di masa awal industri, buruh bisa menghabiskan 16 jam per hari di lantai pabrik. Kini, aturannya membatasi menjadi 8 jam.  Tapi sebenarnya di manapun kita bekerja, pekerjaan secara natural memang self-exploitative, lalu menyelinap ke hobi, urusan domestik, dan waktu senggang kita.

Kita tak pernah lepas seutuhnya dari pekerjaan kita. Posesif. Terbayang proposal budget ketika kita makan, terdengar teriakan bos ketika kita mandi, teringat target penjualan ketika kita buang air, lalu tertukar wajah pacar dengan teman kantor saat videocall….. eh ini sih memang selingkuh.

Sejumlah media-media karier seperti Forbes menyarankan bahwa menyiapkan mental sebelum bekerja adalah hal yang penting. “Memulai dengan baik hari di mana kamu memiliki kontrol lebih baik adalah penting dalam mendapatkan pencapaian yang lebih baik, dan karier yang jauh lebih sukses,” ujar Lynn Taylor, yang menyebut dirinya “pakar lingkungan kerja”. Owpooooh

Lalu Business Insider menulis, “Secara produktif menggunakan waktu senggang dapat membantumu bekerja lebih baik dan meningkatkan laju kariermu.”

Nah, lu gila lu.

“Secara produktif menggunakan waktu senggang“??? Lah, muram sekali hidup ini tatkala waktu senggang ternyata tak lebih dari persiapan untuk waktu kerja. Kita tak lagi memiliki waktu luang yang bebas dari industri. Pekerjaan menyusup ke waktu privat, membuat waktu terasa dingin dan jemu.

 

ADVERTISEMENTS

Namun, lantaran terbiasa, kita tak menyadari itu adalah masalah, kendati sudah di tahap burnout

Sebuah artikel dari Buzzfeed sempat viral, judulnya “How Millenial Became The Burnout Generation”. Bermula dari keluhan seorang penulis yang kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan profesionalnya, misalnya memasak, menyapu, menanak nasi, membayar zakat, melempar jumrah, dll. Urusan-urusan pribadi tak tersentuh, atau setidaknya tertunda-tunda, karena konsentrasi selalu di atas meja kerja.

Istilah “burnout” pertama kali dimaknai sebagai sebuah diagnosis psikologis pada 1974, oleh Herbert Freudenberg sebagai kasus “kolaps fisik dan mental karena kebanyakan kerja atau stress”. Burnout berbeda dengan exhaustion atau kelelahan, meski berhubungan satu sama lain. Exhaustion berarti mencapai poin di mana kamu tak lagi dapat melaju lagi, sementara burnout berarti mencapai sebuah poin tapi tetap menekan diri sendiri untuk terus melaju.

Exhaustion adalah kamu yang mengejar-ngejar si Dia. Capek, lalu berhenti sejenak.

Burnout adalah kamu yang mengejar-ngejar si Dia, tapi tak tahu diri, terus berharap, bahkan sampai si Dia sudah menikah dengan pengusaha batubara.

Perasaan mencapai sesuatu setelah kelelahan—seperti menyelesaikan bab 1 di skripsi, atau dapat match tinder —tak akan datang pada kasus burnout. Yang ada hanya perasaan bersalah karena tak bisa menyelesaikannya. Kamu merasa burnout saat kepayahan lantaran tak dapat membebaskan diri dari tekanan untuk terus maju.

Ingat, burnout tak hanya menerpa karyawan-karyawan akar rumput, namun membabi buta ke arah kita semua, termasuk kamu yang kerja di startup ternama, manajer toserba, bahkan seorang Raffi Ahmad saja mungkin sering mengeluh manja ke Nagita Slavina (kok tidak terdengar bikin iba, ya???). Semua berjuang mendapatkan pekerjaan yang passionated lagi berlimpah harta.

Apalagi ini era kompetisi di media sosial. Semua memamerkan hasil kerjanya, sementara pengorbanan di balik layarnya tak pernah mendapat panggung. Iya kan?? Setahu saya, tak ada yang pernah menaruh foto tulang ekor yang cedera karena kebanyakan duduk di feed Instagramnya, dengan caption, “Hidup cuma sekali, nikmati aja” #nocaptionneeded

Kita sadar akan sistem petaka ini, tapi tak pernah bermaksud mengubahnya, melainkan hanya berupaya memenangkannya. Menjadi bagian darinya. Kita tahu daftar pekerjaan to-do-list yang tak pernah habis, namun yang kita lakukan adalah membuatnya tampak normal. Kita bertahan hidup di hari ke hari, membuat kekacauan ekspektasi dan tuntutan yang ada tampak biasa saja.

ADVERTISEMENTS

ADVERTISEMENTS

Bila mau bergerak, salah satu solusi yang bisa diperjuangkan adalah mengurangi waktu kerja 

Jam kerja yang lebih pendek bukan privilese, melainkan kebutuhan eksistensial.

Tengok ke belakang, mungkin salah satu hal paling kontributif yang pernah diberikan aktivis sosialisme kepada manusia modern adalah rumusan 40 jam kerja per minggu. Gagasan ini pada dasarnya adalah perpanjangan dari pemahaman mendasar kebebasan dan pengembangan potensi manusia.

Karl Marx,  orang pintar yang bukan dukun (in case u dont know), pernah menulis bahwa alam kebebasan dimulai hanya ketika pekerjaan dari tiap pekerja ditentukan oleh kebutuhannya. Dan mengurangi jam kerja adalah prasyarat basisnya.

Makin sedikit waktu kerja kita untuk membiayai hidup, akan lebih banyak waktu yang tersedia untuk mengisi kebutuhan personal kita.

Tak hanya demi insan manusia. Teruntuk kepentingan lingkungan pun produktivitas berlebih juga berjasa pada kehancuran planet kita. Banjir ini dan banjir itu bukan cuma salah Anies Baswedan saja kok, (tapi juga salah orang yang milih dia jadi gubernur, wkwkwkwk #canda). Bumi akan berterimakasih andai kita punya distribusi kerja harian yang lebih memanusiakan.

ADVERTISEMENTS

Lantas, sebagai “negara maju” dengan jargon “kerja, kerja, kerja“, maka Indonesia pun menjawab segalanya dengan……

Salah satu draf undang-undang yang termasuk dalam rancangan kontroversial Omnibus Law adalah RUU Cipta Kerja. Simak pasal 77 yang mengatur durasi waktu kerja yang akan ditetapkan selama 8 jam per hari atau 40 jam dalam satu pekan.  Aturan tentang durasi tersebut kemudian diikuti dengan pengaturan waktu istirahat sebagaimana dalam pasal 79 yang berbunyi istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Aturan baru ini berpotensi membuat pekerja hanya mendapatkan 1 hari libur mengingat pasal 77 tersebut hanya mencantumkan waktu tanpa menyebutkan jumlah hari. Apalagi, diperkuat dengan adanya pasal 79 yang membuka ruang 6 hari kerja untuk diberlakukan secara umum.

Ini membuat perusahaan lebih leluasa dan asyik-asyik. Karena tidak ada batasan hari, bisa saja pekerja dipekerjakan 10 jam dalam sehari selama 4 hari. Asalkan totalnya 40 jam. Atau karena menggunakan frasa paling lama 8 jam 1 hari. Bisa saja hanya dipekerjakan 4 jam dalam sehari (kurang dari 8 jam), tapi upahnya dibayar per jam atau berdasarkan satuan waktu.

Lalu bagaimana, dong? Lha mboh.

Tanyakan pada rumput duo serigala  yang bergoyang. Artikel ini memang sengaja dibuat penulis berakhir sad ending. Menikah dengan penulis, itu baru hepi ending~ #haaaash #nocaptionneeded

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Ecrasez I'infame

CLOSE