Tujuan menjalin hubungan pasti bukan karena ingin putus dong. Buat apa mengikat tali komitmen kalau pada akhirnya harus saling melepaskan satu sama lain? Putus seharusnya jadi hal terakhir yang diharapkan dua sejoli yang masih ada dalam tali hubungan asmara. Terlebih saat ada masalah pelik yang menghadang dan tak bisa ditemukan penyelesaiannya, mengakhiri hubungan pun jadi sebuah opsi yang nggak bisa dihindari.

Layaknya manusia pada umumnya yang menginginkan keadaan berjalan baik-baik saja. Saat hendak memutuskan tali asmara pun kebanyakan orang ingin menyelesaikan baik-baik, sebisa mungkin tanpa menyinggung pasangannya. Tapi baru-baru ini, Vice membagikan sebuah penelitian yang mengejutkan. Katanya, putus secara baik-baik itu justru nggak disarankan. Nah lho, kok bisa sih? Ternyata ada argumen masuk akal juga dibalik penelitian ini. Yuk, makanya disimak uraian Hipwee News and Feature berikut ini!

Kata orang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Meskipun aslinya sama-sama sakit, putus cinta itu pasti traumatis, makanya semua ingin putus secara baik-baik

Jadi aa mau putusin neng? via gurl.com

Advertisement

Nggak bisa dimungkiri kalau putus cinta itu menyakitkan. Jadi wajar saja kalau bikin sakit hati. Secara psikologis pun hal ini ada penjelasannya. Hasil penelitian dari seorang psikolog Arthur Aron menjelaskan bahwa ketika menjalin sebuah hubungan dekat, seseorang berusaha mengikatkan jiwanya dengan jiwa orang lain. Dengan kata lain, kita mulai memikirkan pasangan kita layaknya diri kita sendiri. Membuat memori bersama, kesulitan pun ditanggung bersama, dan identitas pun seolah-olah sama. Jika pasangan terluka kita ikut terluka, pun sebaliknya, jika pasangan bahagia kita ikut bahagia.

Sehingga ketika tiba saatnya berpisah dan mengurai ikatan yang pernah terjalin, semua jadi serba sulit. Kita seperti sedang menghadapi diri sendiri. Karena itulah banyak dari kita menginginkan keadaan yang lebih baik dengan putus secara manusiawi, tanpa emosi, dan tanpa ada masalah besar. Ini bikin cewek atau cowok yang minta putus sering mengawali keputusan berpisahnya dengan kalimat pembuka dan memulainya dengan kalimat bertele-tele.

“Ada yang perlu aku omongin nih!”

Padahal bertele-tele saat mau bilang putus itu nggak baik lho. Begini nih penelitian ilmiahnya

Brigham Young University via www.lds.org

Advertisement

Lebih mending putus nggak baik-baik ketimbang putus baik-baik, yang justru berkemungkinan meninggalkan luka mengganjal. Penelitian oleh Brigham Young University ini menunjukkan kalau saat menerima berita buruk, termasuk keinginan putus dari pasangan, mayoritas orang justru ingin semua dikatakan to the point.

Penelitian ini melibatkan 145 responden yang masing-masing diberi kasus skenario buruk, salah satunya adalah gimana kalau pasangannya minta putus. Di setiap skenario mereka diberi pilihan, pertama berita buruk itu disampaikan secara bertele-tele, sedangkan kedua, penyampaiannya lebih to the point. Hasilnya 74% partisipan memilih penyampaian tanpa basa-basi.

Secara umum penelitian ini juga mengungkapkan, semakin buruk berita yang ingin disampaikan, semakin minim kalimat-kalimat pengantar yang sebaiknya kamu sampaikan sebelum menyampaikan inti informasi tersebut. Misalnya, kalau rumah kamu kebakaran, tentu kamu ingin orang langsung memberitahumu, alih-alih pakai kalimat basa-basi: “Eh, anu, jadi tadi aku lewat rumahmu, terus aku curiga kok ada asap…” bla bla bla. Ya, nggak?

Intinya nggak usah basa-basi untuk mengakhiri hubungan, karena justru bahaya dan berpotensi jadi masalah jangka panjang. Mulai gagal move on, sampai terus menerus ingin balikan

Kembali menjalani hidup sendiri via markmanson.ne

Logikanya begini, jika kamu didiagnosa mengidap kanker, maka kamu ingin segera dokter menyembuhkannya daripada memedulikan bagaimana penjelasan ilmiah tentang kanker yang berkembang di tubuhmu. Intinya makin to the point dalam penyelesaiannya justru makin baik. Sayangnya anggapan ini kadang berbeda dengan anggapan orang kebanyakan. Seperti pendapat dari beberapa responden Hipwee yang tetap menganggap putus secara baik-baik itu lebih mudah dilalui.

“Aku lebih memilih putus baik-baik dong. Meski sebenernya nggak ada orang yang baik-baik aja saat putus. Pasti ada aja berantemnya. Tapi sebaiknya keduanya saling nerima dan menganggap kisahnya sudah masa lalu.” Yulia, 24th.

Namun ada juga yang menganggap putus secara baik-baik itu meninggalkan suatu rasa yang masih mengganjal. Mungkin saja karena masalah yang menimpa pasangan ini datang tidak secara sporadis dan salah satu pasangan memprediksikan bahwa menjalani hidup masing-masing akan lebih baik.

“Pernah si putus baik-baik. Tapi masih ngerasa ada yang ngeganjel kayak ada sesuatu yg menurut kita belum terselesaikan sih jujur aja aku mengalaminya.” Tami, 24th.

Jadi, kamu masih ingin putus baik-baik tapi sakit hatinya awet atau percaya dengan penelitian ini?

Tapi coba jangan terlalu brutal begini putusnya via www.datedevonsingles.co.uk

Penelitian secara ilmiah memang menggunakan prosedur-prosedur tertentu sesuai dengan standar ilmu yang berlaku agar hasilnya bisa valid. Kalau dari hasil penelitian yang pernah dilakukan sih putus secara baik-baik justru nggak sehat. Tetapi kalau menurut kalian gimana nih? Apakah putus secara baik-baik merupakan solusi dari bagaimana kita mengakhiri hubungan asmara? Sebenarnya kalau baik-baik sih nggak mungkin putus.

Kalau kamu sedang atau dalam perencanaan mengakhiri hubungan dengan pasanganmu, coba pikirkan lagi. Apakah masalahnya memang cukup besar dan cukup kuat untuk membuatmu berpisah dengannya? Kalau kamu memilih putus baik-baik dan meninggalkan tanda tanya, nggak menutup kemungkinan salah satu dari kalian justru bakalan gagal move on. Makanya, coba pertimbangkan dengan kepala dingin deh!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya