Menurut Laporan CIA, Ada Indikasi Putin Mendalangi Kemenangan Trump. Ini 5 Bukti Kemesraan Mereka

Berita mengejutkan lagi-lagi datang dari Presiden Terpilih Amerika Serikat, Donald Trump. Kali ini terkait ‘hubungan spesial’-nya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang makin hari makin terlihat jelas. Bukan sekadar pujian yang terlempar secara ambigu atau ucapan selamat pertama kali ketika terpilih jadi Presiden, bukti kedekatan Trump dan Putin yang jadi headline media kemarin adalah laporan khusus Badan Intelijen AS, CIA. Sebagaimana dilansir NBC News, CIA menemukan bukti kuat bahwa dalang kebocoran email Hillary Clinton dan staf partainya, yang akhirnya jadi pukulan telak bagi peluangnya sebagai Presiden, merupakan petinggi dari pemerintah Rusia.

Dua negara yang telah jadi musuh bebuyutan sejak zaman Perang Dunia ini, memiliki ideologi dan kepentingan yang saling berlawanan. Mungkin memang dibutuhkan figur se-spektakuler Trump untuk bisa mengubah dinamika hubungan AS dan Rusia. Bagi kamu yang tidak punya waktu atau malas baca koran, Hipwee bakal merangkum momen ‘kemesraan’ pemimpin AS dan Rusia ini. Sebuah fenomena luar biasa yang mungkin bakal hanya terjadi sekali dalam 100 tahun.

ADVERTISEMENTS

1. Meski Putin terkenal dengan ‘tangan dingin’ dan catatan pelanggaran HAM-nya di Ukraina dan Suriah, secara tersirat dan tersurat Trump sering melontarkan pujian akan kepemimpinannya

whatsapp-image-2016-12-16-at-17-31-59

‘Dia (Putin) punya otoritas di negaranya, setidaknya dia memimpin selayaknya pemimpin. Tidak seperti apa yang kita punya di negara ini.

Begitulah Trump menggambarkan kepemimpinan Putin dalam interview di acara Morning Joe di saluran TV MSNBC pada bulan Desember 2015. Memasuki masa kampanye Presiden sekalipun, komentar senada juga sering terlontar. Padahal biasanya politisi apalagi kandidat Presiden AS, tidak ada yang mau diasosiasikan dekat ataupun punya pandangan positif terhadap Rusia atau pemimpinnya. Tapi lagi-lagi yang kita bicarakan di sini adalah Donald Trump, orang yang hidup dengan aturannya sendiri.

ADVERTISEMENTS

2. Sejak awal masa pencalonan Presiden AS, Putin juga sudah menunjukkan keberpihakannya terhadap Trump

whatsapp-image-2016-12-16-at-17-32-23

Putin yakin Trump bakal menang pemilihan Presiden via www.slate.com

Putin yang terkenal sebagai pria yang tak banyak berkata-kata, tiba-tiba melontarkan pujian ke calon kandidat Presiden AS. Anomali yang hampir tak pernah terjadi dalam konstelasi politik internasional, tentunya tak luput dari perhatian media dan khayalak luas. Pujian yang dilontarkan dalam salah satu interview Putin yang juga berlangsung di bulan Desember 2015 inilah yang menimbulkan kecurigaan akan hubungan spesial antara keduanya.

ADVERTISEMENTS

3. Seperti pasangan backstreet-an belum dapat restu orangtua atau takut dihakimi massa, dua ‘sejoli’ ini masih suka malu dan menyangkal kedekatan yang tumbuh antara mereka berdua

whatsapp-image-2016-12-16-at-17-32-09

Masih backstreet-an (ini gambar suntingan lho ya) via www.dailysquat.com

Setelah momen-momen manis di akhir tahun 2015 yang membuat orang bertanya-tanya, Trump menegaskan bahwa dia sama sekali tak memiliki hubungan dengan Putin selain dipuji jenius. Kata-kata Putin sebenarnya bukanlah ‘jenius’, tapi mungkin di telinga Trump begitulah yang terdengar. Namun pernyataan Trump bahwa dia tidak punya hubungan apapun atau tidak pernah bertemu Putin itu, sangat mudah dipatahkan. Baik dengan interview-interview Trump zaman dulu ketika berkunjung ke Rusia seperti ini atau kedekatan putrinya Ivanka Trump dengan ‘pacar’ Putin, Wendi Deng.

ADVERTISEMENTS

4. Setelah terpilih jadi Presiden AS, Trump mulai berani menunjukkan ‘kedekatan’-nya dengan Putin melalui pilihan anggota kabinetnya

Ini nih Menteri Luar Negeri baru AS

Ini nih Menteri Luar Negeri baru AS via washingtonpost.com

Trump memang pribadi yang tidak bisa ditebak. Karena itu pula, semua warga AS dan masyarakat dunia seakan-akan menahan napas menunggu dan mengantipasi gerak-geriknya. Sebagai pemimpin negara adidaya, semua keputusan dan perilakunya akan punya dampak yang sangat luas. Salah satunya adalah siapa yang dia pilih mengisi susunan kabinetnya. Meski sudah terkenal tak bisa ditebak, ternyata pilihan Trump untuk Secretary of State atau Menteri Luar Negeri jauh lebih mencengangkan dari perkiraan orang.

Pilihan Trump jatuh pada miliuner perusahaan minyak yakni CEO ExxonMobil, Rex Tillerson yang tampaknya punya ikatan kuat dengan Rusia. Selain memiliki banyak proyek pengilangan di Rusia, Tillerson juga secara langsung pernah dianugerahi Order of Friendship oleh Putin.

ADVERTISEMENTS

5. Insiden hacking yang jadi titik hancurnya peluang Hillary Clinton dalam pemilihan Presiden AS. Ternyata menurut CIA, kejadian itu didalangi otoritas tertinggi di pemerintah Rusia

Tuduhan mengarah ke Putin

Tuduhan mengarah ke Putin via www.slate.com

Setelah mempelajari lebih dalam sistem pemerintahan Russia, badan intelijen menyimpulkan bahwa hanya otoritas tertinggi yang bisa memberikan perintah peretasan semacam itu. Dan dalam kasus ini, jelas otoritas tertinggi Russia ada di tangan Putin. Meskipun masih dugaan tapi pejabat CIA bersangkutan berani memakai kata “high confidence”, yang isyaratkan kesimpulan ini “nyaris” tak terbantah.

“Itu bisa dipastikan bahwa pasti dengan Putin-lah yang dia lihat dan biasa bekerja sama ketika saya menjadi duta besar dan di pemerintahan.” kata Michael McFaul, Duta Besar Amerika untuk Rusia 2012-2014, kepada NBC News.

Meski ada spekulasi lain yang menyebut bahwa tujuan Putin memerintahkan peretasan itu adalah sebagai aksi balas dendam kepada Hillary Clinton, tapi tak bisa dipungkiri Putin memang terlihat bahagia ketika Donald Trump akhirnya terpilih. Di samping jadi salah satu pemimpin negara yang paling awal memberikan ucapan selamat, Putin juga terus berujar bagaimana dia optimis terhadap normalisasi serta perbaikan hubungan AS dan Rusia ke depan dengan Trump sebagai Presiden.

Dalam konteks lain, normalisasi atau bahkan harmonisnya hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia adalah pencapaian luar biasa yang selama ini hanya berani dimimpikan dengan judul besar sebagai ‘perdamaian dunia’. Tapi jika mengingat dua figur yang berada di tampuk kekuasaan, masyarakat dunia layak menaruh kewaspadaan dan tanda tanya. Karena mungkin romantisme ini justru bakal menimbulkan lebih banyak konflik dan perpecahan di dunia. Yah berdoa sajalah semuanya akan baik-baik saja.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE