Kamu yang lahir di generasi 90-an awal pasti paham betul bahwa waktu libur adalah waktu yang tepat untuk bermain bersama teman-teman di luar. Saat kecil dulu, main petak umpet, bersepeda hingga main bola adalah aktivitas wajib anak-anak 90-an saat liburan tiba. Tapi tidak begitu halnya dengan anak-anak zaman sekarang. Adik-adik kita lebih memilih untuk berkutat dengan gadget terbarunya. Sedari bangun sampai menjelang tidur, tangannya tak bisa jauh dari smartphone. Entah itu browsing internet atau main game, kegiatan adek-adek tak jauh dari gadget-nya.

Majalah parenting ternama di Asia Tenggara, theAsianparent mengadakan survei tentang penggunaan gadget oleh anak berusia 3 sampai 8 tahun. Hasil survei dari wawancara orangtua di Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filipina menunujukkan fakta yang mengejutkan dan cukup ironis. Ternyata sebesar 98% dari anak kelompok usia tersebut, sudah aktif menggunakan gadget. 

1. Umur 1-6 tahun adalah masa perkembangan otak anak. Jangan hambat perkembangannya dengan memberinya gadget

Terlalu kecil buat main gadget via cultofmac.com

Peneliti dari Wahington University mengatakan bahwa anak kecil butuh interaksi langsung dengan orang lain untuk mengembangkan fungsi otaknya dengan sempurna. Kalau dicekoki gadget sejak dini, kesempatan untuk berinteraksinya akan berkurang. Akibatnya, proses belajarnya pun akan terganggu. Yah, lagian anak usia segitu mana paham dengan gadget. Alih-alih menggunakannya sebagai media belajar seperti yang diinginkan orangtua, paling anak-anak akan menggunakannya untuk bermain doang.

2. Bahkan saat kumpul dengan teman pun semuanya nggak ngobrol. Anak-anak asik sendiri dengan gadget-nya, kurang tertarik berinteraksi dengan yang lain

Bisa jadi generasi ansos nantinya via latimes.com

Advertisement

Ya, gadget membuat pola pikir orang berubah jadi lebih cuek. Efek ini pun juga terjadi pada anak-anak. Keasyikan bermain gadget, anak-anak bisa berubah cuek. Bahkan, ada banyak cerita di mana anak-anak lebih fokus ke gadget-nya daripada bermain dengan teman sebaya. Kalau sudah begitu, bibit-bibit jiwa anti sosial bisa jadi akan berkembang pada diri adik-adik kita.

3. Sedih sih melihat anak seusia ini sudah memakai kacamata. Sejak kecil dibiasakan dengan smartphone sih

Masih kecil udah pake kacamata via nytimes.com

Efek lain adalah penggunaan kacamata yang terlalu dini. Ya bagaimana tidak. Kalau sejak kecil matanya terbiasa melihat layar gadget. Pada 2014 lalu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari pernah berkata bahwa “sekitar 80% anak yang berkacamata adalah akibat penggunaan teknologi informasi”. Masih kecil sudah berkacamata, kasihan adik-adik kita matanya sudah terganggu sedari kecil.

4. Jam tidur mereka pun akan terganggu. Kalau ada gadget, anak-anak bisa semalaman nggak tidur gara-gara otaknya tak berhenti terstimulasi dengan terangnya cahaya layar

Susah tidur via www.familyfirst.org.nz

Anak-anak yang kecanduan gadget cenderung mengalami gangguan tidur. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian dari Boston College yang mengatakan bahwa 75% anak usia 9-10 tahun yang aktif menggunakan gadget akan mengalami kesulitan tidur. Ya bagaimana nggak mau susah tidur. Selain karena radiasi dari gadget-nya, anak-anak juga cenderung ingin terus main gadget jika tak dijauhkan. Kalau begitu sih jelas saja anak-anak susah tidur saat malam. Dampaknya, esok hari anak akan merasa kelelahan dan nggak bisa fokus saat di sekolah.

5. Antara buku atau gadget, kebanyakan anak kecil akan memilih gadget. Ini sih yang bikin sedih

Lebih memilih gadget daripada buku via freemake.com

Tanya saja kepada adik di rumah. Kalau diminta memilih gadget atau buku, kebanyakan anak pasti lebih memilih gadget daripada buku untuk dibaca. Penelitian the Joan Ganz Cooney Center menguatkan hal tersebut. Mereka bilang bahwa anak-anak cenderung memilih tablet dan membaca e-book daripada membaca buku cetak. Padahal kalau menggunakan gadget, godaan untuk bermain daripada membaca jauh lebih besar. Hal ini dibuktikan penelitian theAsianparent yang mengatakan bahwa cuma 14% anak yang menggunakan gadget untuk membaca dan belajar. Sedih kan…

6. Ujung-ujungnya, kepekaan mereka akan tumpul. Diam saja melihat orangtuanya capek beresin rumah

Tuh, fokus gadget dan lupa orang tuanya beres-beres rumah via www.thesun.co.uk

Jika dibiarkan bermain sepuasnya dengan gadget, lambat laun kepekaan anak-anak akan lingkungan sekitar jadi tumpul. Mereka akan cuek dengan keadaan sekitar dan cenderung cuma fokus dengan gadget-nya. Sebuah video eksperimen dari Dolmio membuktikannya. Bagaimana seorang anak tak sadar apa yang tengah terjadi di sekitarnya karena terlalu fokus bermain dengan gadget-nya. Mereka baru ‘ngeh’ ketika sinyal wifi dimatikan. Jika dibiarkan lebih lama lagi, anak-anak akan kehilangan empati dan simpatinya. Mereka akan diam saja ketika orangtua sibuk beresin rumah. Mau anak-anak kita nantinya jadi seperti itu?

7. Padahal, anak-anak petinggi Apple saja minim pengenalan terhadap gadget. Sedih kalau adek-adek kita sedari kecil udah diberi smartphone

Kasihan kalau sejak kecil fokusnya gadget via www.thesun.co.uk

Masih ingat mendiang Steve Jobs? Ia adalah salah satu orangtua yang peduli dengan perkembangan anaknya. Karena itu ia melarang sang anak untuk menggunakan gadget di usia dini. Bahkan media menyebutnya sebagai “Low-Tech Parent” — sosok orangtua yang tak mengenalkan teknologi kepada anaknya. Tujuannya adalah agar anak-anak menikmati masa kecilnya dengan bermain dan berinteraksi. Nggak cuma duduk dan diam menghadap game dari iPad saja. Nah kalau anak salah satu orang top di dunia teknologi saja tak dibiarkan bermain gadget, kan sedih kalau adik-adik kita malah asik dengan gadget-nya…

Sejujurnya, bukan berarti penggunaan gadget bagi anak itu harus benar-benar dilarang. Boleh kok mengenalkan teknologi dan gadget dari kecil. Hanya saja penggunaannya harus benar-benar diawasi. Jangan biarkan anak-anak terlalu bebas dan terlalu lama main sama gadget-nya. Kalau belum yakin bisa mengawasi, ya lebih baik sekalian jangan kenalkan gadget dulu… 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya