Mungkin memang banyak yang belum tahu, hanya tiga hari setelah dirilis, Black Panther sebenarnya telah memecahkan banyak rekor dunia. Film terbaru Marvel ini langsung menjadi salah satu film terpenting dalam perfilman internasional. Meraup lebih dari USD 387 juta, Black Panther langsung jadi film dengan sutradara dan mayoritas cast kulit hitam, tersukses sepanjang sejarah. Di samping pencapaian itu, film ini tampaknya sukses besar mengenalkan betapa kaya, unik, dan indahnya kekayaan daratan Afrika.

Latar belakang tempat, musik pengiring, karakter, hingga detail-detail baju yang dipertontonkan dalam film Black Panther, tentunya sangat memukau. Referensi budaya Afrika diperkenalkan dengan sangat baik. Bahkan beberapa hal yang kelihatan aneh dan tampak seperti seperti mengada-ada, sebenarnya justru beneran ada dan mengandung makna yang sangat mendalam. Makanya kamu perlu lebih tahu esensi budaya di film ini dengan membaca uraian Hipwee News & Feature berikut!

ip plates yang dipakai karakter ini bukanlah sebuah aksesoris biasa. Ada suku di Afrika yang menganggapnya sebagai emblem kebanggaan

Ketika dilepas, bibir yang mengenakan lip plates ini akan mengendur dan menggantung di mulut via www.flickriver.com

Advertisement

Banyak orang yang merasa ‘terganggu’ melihat pemandangan suku di Afrika yang seolah mengemut piring. Lebih-lebih, piring ini membuat bibir bawah mereka melebar. Membayangkan bagaimana piring ini disematkan di bibir saja rasanya sudah perih. Tapi jangan salah, tradisi lip plate atau dalam bahasa lokal disebut dhebi a tugoin ini sudah mendarah daging di suku Mursi dan Surma di Afrika. Piring yang disematkan biasanya terbuat dari bahan keramik atau tanah liat.

Penyematan ini menandakan sebuah kebanggaan bagi yang mengenakan, seringnya seorang pria yang dianggap senior dalam suku atau perempuan yang sudah mengandung akan mengenakan piring di bibirnya. Cara memakainya pun nggak sesulit yang kamu bayangkan, tapi akan lebih sakit dari yang kamu kira. Lempengan kecil awalnya disematkan di bibir hingga bibir melebar dan terluka. Ketika lukanya sembuh, lempengan lebih besar disematkan. Begitu terus sampai lempengan dengan ukuran ‘normal’ benar-benar bisa muat di bibir bawah.

Aksesoris di kepala Ramonda bukan hanya pemanis biar kelihatan lebih cantik. Tradisi mengenakan aksesoris kepala dari Zulu ini, menandakan status perempuan yang telah menikah

Itu bukan mangkok bakso lho guys! via www.pinterest.es

Semua perempuan di Zulu melindungi kepalanya di hadapan publik ketika menikah. Aksesoris kepala ini adalah Isicholo, tudung berbentuk kerucut dan berwarna merah yang dikenakan layaknya sebuah mahkota bagi perempuan Zulu. Meskipun Ramonda, ibu dari T’Challa di Black Panther nggak mengenakan isicholo yang persis seperti tradisi Zulu, tapi keidentikan aksesoris ini pastinya terinspirasi dari budaya asli di Afrika.

W’Kabi, sahabat dari Raja T’Challa terlihat selalu mengenakan kain yang dilingkarkan ke badannya. Ternyata ini inspirasi dari tradisi masyarakat Lesotho

Rumahnya juga sama persis ya! via www.aranda.co.za

Advertisement

Selimut Basotho sebutan untuk selimut yang melingkar di leher tokoh W’Kabi ternyata bukan hanya senjata perisai yang menurut cerita disulam dengan vibranium. Selimut ini terinspirasi dari masyarakat Lesotho yang seringkali mengenakannya dengan cara dilingkarkan di leher. Namun desain motif pada selimut W’Kabi terinspirasi dari kain tradisional masyarakat Sesotho. Sebuah perkawinan budaya yang apik dan epik, bukan? Apalagi ketika menonton final battle film Black Panther dan mengetahui, “ooh jadi selimut ini perisai toh!”

Jenderal Okoye yang pemberani ini, memakai kalung berlapis yang ternyata terinspirasi dari masyarakat Zimbabwe lho. Sama banget!

Gaya rambutnya juga mirip via www.emaze.com

Dalam tradisi Afrika Selatan, khususnya masyarakat Zimbabwe, kalung unik adalah adalah simbol kekayaan dan status. Masyarakat Ndebele Selatan adalah suku yang sering banget mengenakan kalung berwarna emas ini. Perempuan yang mengenakan kalung ini nggak akan melepaskannya seumur hidup hingga mereka meninggal dunia.

Sementara penampilan karakter ini di Black Panther terinspirasi langsung dari tradisi orang di Namibia. Orang-orang di negara itu suka pakai semacam lulur yang berwarna merah bata

Pemilihan tone warna di ritual khas Afrika juga nggak sembarangan via www.imgrum.org

Kostum dan makeup yang diaplikasikan di film ini kebanyakan terinspirasi dari tradisi warga di Barat Laut Namibia. Mereka seringkali memulas kulit mereka dengan semacam lulur dari lemak susu dan pigmen berwarna merah bata yang mereka sebut “otjize”. Tujuannya adalah buat melindungi kulit mereka dari iklim panas Afrika yang sangat menyengat.

Jadi viral di Indonesia gara-gara mirip baju koko, pakaian T’Challa dan Zuri ternyata disebut Agbada. Pakaian tradisional ini sering dipakai di berbagai negara Afrika

Sekilas memang mirip banget baju koko via blog.jiji.ng

Sekilas memang mirip banget baju kokoDetail pakaian yang dikenakan para tokoh juga nggak luput dari referensi Afrika. Jubah dengan ornamen di bagian depannya yang tampak seperti baju koko ini ternyata pakaian adat yang sering dikenakan oleh pria-pria di Afrika Selatan dan Afrika Utara. Mereka menyebut pakaian ini sebagai Agbada.

Ingat waktu Killmonger memamerkan badannya yang kekar dan penuh dengan tato? Eits itu bukan tato lho, melainkan bekas luka layaknya pemuda Afrika ketika mencapai kedewasaan

Nggak kalah kekar ‘kan bapak ini? via twitter.com

Berbagai suku di Afrika seringkali mengadakan ritual kedewasaan dengan melukai bagian tubuh. Salah satunya crocodile scars persis seperti yang dimiliki Erik Killmonger. Bukan sekadar luka aja, tapi luka ini sengaja diukirkan di tubuh hingga perut seorang pria Afrika ketika mereka beranjak dewasa. Luka sayatan yang berdarah-darah kemudian diberi lilin dan minyak herbal agar bekasnya menonjol seperti sisik buaya. Erik Killmonger dalam Black Panther mereferensikan bekas luka tersebut ia buat ketika berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

Selama ini kita mengenal Afrika sebagai hamparan gurun yang kering dan penuh dengan rakyat kelaparan. Tapi kalau melihat sisi lain dari Afrika, benua tersebut sebenarnya penuh nilai budaya unik yang seharusnya mulai diperkenalkan kepada dunia. Film ini akhirnya bisa membawa nilai-nilai Afrika yang belum cukup dikenal kepada masyarakat secara luas. Sehingga sebagai penonton kita pun berdecak kagum dan bergumam, “Seru juga ya kalau liburan ke Afrika!”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya