Tindak anarki suporter bola di Indonesia sudah jadi semacam budaya yang begitu sulit dihindari. Hampir di setiap pertandingan, terutama yang mempertemukan 2 klub rival, selalu disertai tawuran antar suporternya. Yang belum lama ini terjadi adalah pengeroyokan suporter Persija, Haringga Sirla, oleh sekelompok bobotoh hingga berujung kematian tragis. Kasus ini sangat menyita perhatian publik. Tidak sedikit pihak yang terus mendesak federasi sepak bola Indonesia PSSI, untuk memikirkan solusi agar kejadian semacam ini bisa dihentikan.

Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, dihubungi Kompas TV, menanggapi peristiwa biadab ini dengan jawaban-jawaban yang malah bikin geregetan dan jauh dari kata solutif. Ia terus berdalih kalau pihaknya dan kepolisian selama ini sudah melakukan yang terbaik. Ketika ditanya rencana ke depan PSSI terkait kejadian yang terus berulang ini, ia tidak menjawab secara spesifik dan malah cenderung mengkritik pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Aiman Witjaksono selaku host program. Di bagian lain, Edy juga menyebut urusan suporter itu bukan kewenangannya, melainkan kewenangan klub bersangkutan. Berbagai tanggapan Edy ini dinilai sangat tidak profesional mengingat jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI sekaligus Gubernur Sumut.

Advertisement

Daripada terus geregetan mikirin Pak Edy, mending kita langsung bahas bareng yuk, kira-kira apa aja sih hal-hal yang mungkin bisa diseriusi oleh PSSI demi menghentikan kultur kekerasan dalam sepak bola?

1. Beberapa pihak sepakat kalau klub sepak bola yang suporternya barbar itu lebih baik dibekukan selama beberapa tahun. Sekalian aja biar tidak bisa nonton idolanya lagi

Sekalian aja klubnya dibekukan via bola.okezone.com

Pembekuan klub sepak bola yang suporternya bermasalah mungkin memang bisa jadi salah satu solusi memerangi tindak anarki dalam dunia bola. Soalnya, sebenarnya klub yang menaungi tim bola itu punya kewenangan mengatur suporternya, biar tetap berada di jalur yang benar. Kalau kejadian biadab itu masih terus menerus dilakukan, berarti ‘kan klub bolanya juga yang patut dipertanyakan. Sekalian aja PSSI membekukan klub-klub yang suporternya barbar. Jangan cuma 1-2 bulan, kalau perlu hitungan tahun sekalian.

2. Selama ini Komisi Disiplin PSSI memang sudah menerapkan denda bagi klub hingga larangan pertandingan tanpa penonton. Tapi faktanya hukuman ini belum sanggup hentikan tindakan barbar suporter

Tindakan Komdis PSSI belum mampu redam fanatisme akut via www.satupedia.com

Advertisement

Seperti dilansir Vice, manajer Persija Ardhi Tjahjoko mengatakan kalau pihak Komisi Disiplin PSSI selama ini sudah memberlakukan denda pada klub yang dinilai tidak mampu membina suporternya dengan baik. Bahkan mereka juga ada yang disuruh bertanding tanpa penonton. Seperti yang pernah dilakukan PSSI kepada Arema FC Malang. Klub Singo Edan itu didenda Rp300 juta setelah suporternya terlibat kericuhan saat menjamu Persib Bandung. Tidak cuma itu, PSSI juga melakukan penutupan tribun timur stadion saat laga pertandingan setelahnya, demi mengurangi jumlah penonton yang hadir.

Tapi kenyataannya, keputusan Komdis PSSI di atas belum cukup mampu menghentikan kultur kekerasan dalam pertandingan bola di Indonesia.

3. Ada juga yang menyarankan untuk memperbaiki manajemen pertandingan, dari sesimpel pembelian tiket. Sistem ticketing yang terintegrasi ternyata bisa lho mengerem tindak anarki suporter

Masih banyak calo beredar via www.tribunnews.com

Mungkin memang masalah terbesarnya ada di manajemen pertandingan. Sesimpel sistem ticketing, yang masih aja diwarnai tindak kecurangan oknum calo. Inggris termasuk negara yang juga punya sejarah kelam soal fanatisme akut suporter bolanya. Tapi itu dulu, tahun 1970-1980an. Saat ini sepak bola mereka sudah jauh lebih baik setelah menerapkan sistem tiket terintegrasi. Setiap penonton cuma bisa membeli tiket secara online. Saat akan masuk stadion, identitas serta histori para penonton akan diperiksa lewat komputer.

Wisnu, seorang pengamat media yang sedang studi di Inggris, mengaku pernah dilarang masuk stadion The Den di Bermondsey, London (kandang Millwall FC) saat akan menonton laga tuan rumah vs Leeds United, hanya karena ia terdeteksi beberapa kali menonton Leeds. Saat itu ia benar-benar tidak boleh masuk karena dikira suporter Leeds.

4. Buat meminimalisir pengeroyokan, harusnya juga ada penerapan jumlah suporter yang hadir di kandang lawan. Kalau kurang atau melebihi kuota ya sekalian tidak boleh hadir semua

Harusnya ada kuota jumlah suporter lawan yang boleh hadir via bola.tempo.co

Wisnu juga menambahkan, kalau di Inggris jumlah suporter klub rival yang hadir di kandang musuh harus memenuhi target jumlah suporter yang sudah ditentukan panitia pertandingan. Jadi misalnya yang datang harus 500 orang. Tidak boleh kurang atau lebih. Kalau tidak sesuai ya tidak boleh masuk. Hal ini sepertinya juga bisa diterapkan di Indonesia, untuk meminimalisir tindak pengeroyokan seperti yang dialami Haringga kemarin.

5. Pemisahan tribun penonton juga dinilai efektif meredam kerusuhan antar suporter. Iya sih ya, selama ini ‘kan dicampur gitu

Pemisahan tribun penonton dan pengawalan tim keamanan khusus via sputniknews.com

Tidak hanya perlu ditentukan kuotanya, tapi juga disertai dengan pemisahan penonton pendukung masing-masing klub. Misalnya kalau kasusnya The Jak yang menonton di Stadion GBLA, harusnya mereka diberi space khusus. Begitupun sebaliknya, kalau bobotoh yang datang ke Jakarta ya tribun mereka juga harus dipisah dari The Jak. Selain itu, suporter dari tim yang main di kandang musuh itu mestinya juga perlu dikawal tim keamanan khusus. Biar suporter rivalnya tidak bisa sembarangan bertindak barbar.

Mungkin cara-cara di atas memang tidak bisa instan dilakukan, mengingat negara macam Inggris aja perlu waktu puluhan tahun buat membenahi struktur amburadul persepakbolaannya. Tapi meski begitu kita semua tidak boleh pesimis. Tapi ya gimana-gimana kalau bicara liga sepak bola sudah pasti bicara soal induknya juga, which is PSSI. Jadi ya salah juga kalau Pak Edy bilang urusan suporter cuma tanggung jawab klub, bukan PSSI. Apalagi PSSI juga punya tanggung jawab ke organisasi sepak bola internasional, FIFA. Meski selama ini FIFA belum pernah memberi sanksi terkait kerusuhan penonton ini, tapi harusnya PSSI sadar akan beban tanggung jawab tersebut. Biar citra sepak bola Indonesia juga positif di mata dunia~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya