Nasib Mereka yang Terlunta-lunta di Jalanan Karena Corona. Tak Sanggup Bayar Kos Akibat di-PHK

Nasib korban PHK karena corona

Nggak bisa dimungkiri, dampak corona tampaknya terus meluas ke berbagai sektor dan aspek kehidupan manusia. Mulai yang awalnya “cuma” berdampak ke kesehatan, sekarang imbasnya mulai bisa dirasakan di setiap bidang, ekonomi, sosial, budaya, dan banyak lainnya. Ribuan bisnis atau perusahaan tak sanggup lagi membayar karyawannya, akibat sepinya penjualan. Akibatnya mereka pun terpaksa mem-PHK para karyawan tersebut.

Advertisement

Imbas PHK massal itu juga tak kalah bikin miris. Sebelum Jokowi akhirnya menetapkan larangan mudik, banyak orang korban PHK yang akhirnya terpaksa pulang ke kampung halamannya karena udah nggak punya penghasilan di ibu kota. Tapi sebagian juga ada yang masih menetap di tanah rantaunya, entah karena masih berusaha cari kerjaan baru, atau memang tak ada lagi keluarga yang dituju. Kini, semakin hari, kondisi mereka makin memilukan. Karena tak punya penghasilan, mereka jadi nggak bisa lagi bayar kos-kosan. Alhasil, mereka terpaksa tidur di jalanan.

Emperan Tanah Abang kini jadi tempat tidur bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Mereka adalah korban dari PHK massal yang terpaksa dilakukan sebagai imbas dari corona

Sebuah video eksklusif dari Kompas TV menunjukkan betapa terpuruknya kehidupan para korban PHK corona. Mereka memenuhi jalanan atau emperan toko beralaskan seadanya hanya untuk tidur. Itu semua terpaksa dilakukan karena kini mereka tak lagi punya penghasilan. Alhasil, bayar kos pun juga tak mampu. Untuk makan, mereka cuma bisa mengandalkan bantuan dari relawan atau warga sekitar.

Advertisement

Potret di atas hanya sekelumit cerita dari para korban PHK. Yang senasib atau lebih parah sebetulnya juga banyak sekali. Di Jombang, ada korban PHK yang sampai bunuh diri karena depresi

Sampai ada yang bunuh diri 🙁 via www.tribuneindia.com

Seorang buruh di Jombang, Jawa Timur, mengakhiri hidupnya setelah sebulanan kena PHK dari tempatnya kerja. Anang Junaedi, pemuda 23 tahun, memutuskan gantung diri di dapur rumahnya menggunakan sebuah tali. Dugaan dari pihak kepolisian memang korban melakukan bunuh diri, karena dari hasil visum nggak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau pembunuhan. Dari penuturan keluarganya, Anang memang jadi lebih sering mengurung diri di kamar sejak di-PHK. Sedih banget 🙁

Sejauh ini berdasarkan data sudah ada sekitar 1,2 juta orang yang dirumahkan akibat imbas corona. Namun ternyata, seorang ekonom memprediksi kalau gelombang PHK ini justru baru memuncak pada bulan Juni

View this post on Instagram

Dampak pandemi virus corona (Covid-19), pusat perbelanjaan Ramayana di City Plaza (Ciplaz) Depok melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebanyak 87 karyawan Ramayana di-PHK karena alasan penjualan menurun drastis. Selain itu, sejak 6 April 2020 pihaknya memutuskan untuk tutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan. . “Kami mengalami penurunan di penjualan. Keputusan dari manajemen pusat untuk lakukan PHK sejak 5 April 2020 lalu,” ujar Store Manager City Plaza Depok, M Nukmal Amdar, di Kota Depok, Selasa (7/4). . Dia menambahkan, hingga saat ini kondisi toko masih tutup. Pihaknya belum bisa memastikan operasional toko. . “Tadinya kami melayani pembelian produk secara online. Masih diupayakan penjualan melalui live chat dan juga aplikasi member. Namun, hal itu tidak berjalan baik dan penjualan mengalami penurunan hingga 80 persen,” tutur Nukmal. Terkait nasib para karyawannya, Nukmal mengatakan, perusahaan tetap akan membayar uang pesangon sesuai aturan yang berlaku. . “Hak karyawan akan diberikan pesangon sesuai ketentuan. Prosesnya dalam tahap pemanggilan dengan kesepakatan bersama,” kata Nukmal. Nukmal tidak bisa memastikan, apakah pascapandemi Covid-19 ini, mal yang telah berdiri sejak 23 tahun di Kota Depok itu akan kembali beroperasi atau tidak. . “Kita tutup operasional, kita nggak tahu ke depan seperti apa dan arah manajemen bagaimana karena meski sudah selesai Covid ini, roda ekonomi belum tentu juga akan bangkit cepat kembali,” kata Nukmal. Sumber: Republika & Tempo #depok24jam

A post shared by MEMANTAU KOTA DEPOK 24 JAM (@depok24jam) on

Beberapa waktu lalu, media sosial sempat diramaikan dengan video para karyawan Ramayana di City Plaza, Depok, yang menangis berjamaah setelah pihak perusahaan mengumumkan penjualan yang menurun drastis. Akibatnya, sebanyak 87 orang pegawai terpaksa harus di-PHK. Mereka adalah sebagian kecil dari jutaan pegawai yang kena PHK akibat corona. Walaupun sudah sebanyak itu yang di-PHK, tapi ekonom dari Institute for Development, Economic and Finance (INDEF), Andry Satrio Nugroho justru memprediksi kalau puncak gelombang PHK bakal berlangsung Juni mendatang, dengan catatan jika nggak segera ditangani. Menurutnya, pekerja di sektor pariwisata dan jasa adalah yang paling terdampak.

Advertisement

Sedihnya lagi, nggak semua pekerja yang di-PHK itu dapat pesangon dari perusahaan. Ya bayangin aja yang awalnya punya penghasilan tetap, tiba-tiba jadi diputus begitu aja. Sakit banget pasti rasanya…

Tak semua beruntung dapat pesangon via megapolitan.kompas.com

Aryo, salah satu korban PHK dari perusahaan swasta di Jakarta, mengaku pada Kompas kalau ia nggak diberi pesangon atau kompensasi apapun. Aryo juga mengatakan kalau perusahaannya sempat meminta mereka yang diberhentikan untuk mengirim CV dan lamaran, untuk disalurkan ke badan usaha lain yang membutuhkan. Tapi Aryo skeptis karena di masa pandemi gini, pasti nggak banyak juga perusahaan yang berani buka lowongan.

Sedih sekali setiap mendengar atau membaca kisah orang saat harus berjuang di tengah wabah seperti ini. Buat kita yang punya rezeki lebih, bisa bantu mereka untuk menyambung hidup lo, bisa dengan membagi-bagikan makanan atau uang tunai. Yuk, sisihkan sedikit uangmu!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE