Seorang ninja pencuri tertangkap di Jepang, setelah lebih dari delapan tahun aparat setempat dibuat keder akhirnya wajahnya tertangkap CCTV kamera keamanan.  Dilansir dari BBC, ninja pencuri yang sempat dikira masih berusia muda tersebut akhirnya tertangkap bulan Juli lalu dan betapa mengejutkan ternyata ninja itu adalah seorang kakek berusia 74 tahun. Diperkirakan ninja lansia itu sudah berhasil melakukan pencurian sebanyak 250 kali dan memecahkan mitos “Ninja Heisei” yang memiliki catatan kriminal yang sama. Total sekitar 30 juta Yen (3,5 miliar Rupiah) berhasil dia dapatkan selama melakukan operasi.

Perwira Polisi Osaka yang melakukan pengintaian mengaku kakek tersebut selalu berpenampilan serba hitam layaknya ninja. Sebelum melancarkan aksinya di malam hari, kakek itu menyelinap ke dalam ruangan gelap untuk menunggu malam dan berganti pakaian. Kemampuan fisiknya jelas nggak sebanding dengan usianya, di umurnya yang tua dia terlihat menjaga kesehatan fisiknya. Mungkin karena kemampuannya sebagai ninja membuat si kakek memiliki fisik prima. Emang gimana kabarnya ya ninja-ninja Jepang zaman sekarang?! Apa banyak yang justru beralih profesi dengan menyalahgunakan kemampuannya semacam kakek ini?! Yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

1. Awal kemunculan ninja ditandai dengan suatu praktik keagamaan dari para pendeta bernama seni ‘Nonuse‘ atau bertindak diam-diam

Dikelilingi pegunungan, desa-desa di dataran Iga adalah tempat untuk melatih para ninja. via en.wikipedia.org

Advertisement

Ninja atau yang sering juga disebut Shinobi ini secara bahasa bisa diartikan sebagai seseorang yang bergerak secara diam-diam. Ninja adalah mata-mata feodal di zaman Jepang yang menguasasi ninjutsu (ilmu bela diri pergerakan sunyi). Awal kemunculannya ditandai dengan masuknya seni ‘Nonuse‘ yang dilakukan oleh para pendeta untuk menyampaikan informasi kepada pejabat pemerintahan. Pada tahun 645 akhirnya seni nonuse berkembang dan dimulai dengan penyempurnaan ilmu beladiri. Pada tahun 794 sampai 3 abad setelahnya berkembang politik kekuasaan dari masyarakat sehingga keluarga yang mapan memiliki banyak kekuasaan. Sejak saat itu, peran ninja semakin dibutuhkan untuk melayani para raja dari berbagai klan.

2. Kemampuan utama seorang ninja adalah soal penyusupan dan mata-mata. Skill semacam ini emang rentan untuk disalahgunakan

Kemampuan penyusupan jadi hal utama yang harus dipelajari. via akibanation.com%20

Penyusupan dan mengintai adalah kemampuan seorang shinobi yang harus dimiliki. Ilmu yang harus dipelajari seorang shinobi salah satunya adalah ninjutsu yang sebenarnya digunakan untuk pertarungan jarak jauh. Itulah mengapa senjata dan kemampuan bela diri ninjutsu banyak membahas tentang teknik lontar, tembak, lontar dan penyamaran. Selain itu para ninja juga mempelajari teknik untuk melakukan sabotase, spionase, menjatuhkan mental lawan dan melumpuhkan lawan. Semuanya dipraktikan diam-diam dengan atau tanpa suara. Bukan hanya soal kemampuan fisik dan spionase, mempelajari ninjutsu juga berarti memiliki tujuan untuk mengaktifkan indera keenam.

3. Shinobi shozoko, bukan sembarang kostum ninja. Tiga warna mewakili tujuan dan fungsi sesuai kondisi dan misi

Ninja berwarna putih kok kayaknya cuma di film ya … via bigbadtoystore.com

Ninja memakai pakaian yang menutupi sekujur tubuh kecuali mata dan telapak tangan. Pakaian tersebut bernama shinobi shozoko yang memiliki banyak kantong di dalamnya. Kantong ini akan diisi dengan peralatan ninja seperti senjata sampai peralatan P3K. Selain itu para ninja juga memakai tabi layaknya sepatu boot.

Advertisement

Shinobi shozoko sendiri dibagi menjadi tiga warna, warna hitam umumnya dipakai saat malam hari untuk menyatu dengan gelap karena warnanya yang nggak mencolok. Warna putih digunakan saat misi dalam kondisi bersalju dan warna hijau untuk menyelinap dalam hutan. Ninja wanita atau kunoichi menjalankan misi berdekatan dengan musuh menggunakan kefemininannya, dari racun hingga pembunuhan yang penuh dengan penyamaran.

4. Ternyata ninja sejak zaman Edo (1603-1868) sudah dapat gaji dan kontrak kerja. Ninja zaman now mungkin kehilangan kerjaan ya?

Sekarang mungkin banyak ninja tak dibayar untuk melakukan misi. via akibanation.com

Gaji para ninja di zaman Edo didapatkan setelah dikontrak beberapa tahun oleh keluarga kerajaan-kerajaan di Jepang. Kontrak rata-rata senilai 3 juta yen atau sekitar 350 juta rupiah per tahun. Beda saat zaman Sengoku (1467–1603) para ninja belum menerima kejelasan kerja karena tak jelas keberadaan kelasnya ketimbang para samurai. Pekerjaan para ninja dibayar dengan upah karena melakukan misi yang diperintahkan oleh bangsawan atau penguasa pada zamannya. Kalau ternyata tak ada pekerjaan atau tak ada misi yang dilakukan, mereka menghidupi dirinya dengan mengolah pertanian dan mengolah kreatifitas membuat sesuatu untuk dijual.

Kasus penangkapan ninja di Jepang bertolak belakang dengan pernyataan yang diungkapkan oleh seorang Professor bernama Yuji Yamada bahwa tidak ada lagi ninja di Jepang. Yamada berkata bahwa, “Saat ini tidak ada ninja dan kalau ada keturunan ninja terakhir saat ini hanya dosen universitas Mie, Jinichi Kawakami (68) saja.” Namun Yamada juga mengungkapkan bahwa masih ada klan ninja Iga dan klan Koga yang masih bertahan sampai sekarang. Mungkin ditimbang dari kuantitas mereka untuk menjalankan misi sudah banyak berkurang sehingga menjadi ninja di era millennial ini banyak orang menganggapnya kurang relevan. Tapi apapun kendalanya Jepang dan kekhasan budayanya telah menjadi bagian banyak negara terbukti dari sekian banyak tradisi Jepang seperti manga dan anime yang ada di banyak negara.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya