Meet The Expert #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee Bahas Cara Optimalkan Potensi Anak dengan Memperkenalkan Teknologi dan Coding

Pengajar sekaligus penulis buku #sayabisacoding Maria Sumakul menjelaskan serba-serbi coding dan manfaatnya bagi anak

Hipwee sebagai media yang fokus memproduksi konten-konten positif bagi anak muda, berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi serta Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) menggelar serangkaian kegiatan literasi digital Meet The Expert #MakinCakapDigital untuk menjawab tantangan literasi digital di Tanah Air. 

Mengusung topik-topik yang relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda kiwari, kegiatan ini menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan literasi digital. Harapan dari kegiatan ini adalah menghasilkan talenta digital baru Indonesia yang lebih berkualitas dan siap membantu mewujudkan Indonesia Digital Nation. 

Seperti pada Senin 24 Oktober 2022, Meet The Expert #MakinCakapDigital yang digelar secara virtual menghadirkan pengajar informatika untuk siswa SMP sekaligus penulis buku coding #sayabisacoding Maria Sumakul untuk membahas tentang “Optimalkan Potensi Anak dengan Memperkenalkan Teknologi dan Coding”.

Melek teknologi menjadi salah satu tantangan pendidikan masa kini

Meet The Expert #MakinCakapDigital “Optimalkan Potensi Anak dengan Memperkenalkan Teknologi dan Coding” bersama Maria Sumakul (kanan), Senin 24 Oktober 2022

Pada kesempatan ini Maria mengupas pembahasan mengenai peran ibu dalam mengembangkan potensi anak dengan mengenalkan teknologi dan coding. Mengingat saat ini penggunakan teknologi sudah sangat erat dengan kehidupan sehari-hari anak, pembahasan tersebut penting terasa penting.

Seperti diketahui, saat ini aktivitas anak di rumah hingga kegiatan di sekolah pun kerap bersinggungan dengan teknologi. Sejalan dengan hal tersebut, Maria menilai keterampilan dalam mengoperasikan teknologi menjadi salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh anak.

Dalam penjelasannya Maria mengutip daftar lima tantangan pendidikan abad ke-21 menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam daftar tersebut, melek teknologi menempati urutan pertama sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak.

“Keterampilan yang pertama adalah keterampilan melek TIK dan literasi media. Jadi, anak-anak itu dituntut untuk mengerti tentang media informasi, baik itu tentang gadget, robot, atau apapun,” kata Maria.

PBB sendiri menyatakan bahwa menuntun anak agar memiliki keterampilan dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah salah satu tantangan dunia pendidikan kiwari. Ini karena melek teknologi juga harus dibarengi dengan kemampuan literasi media agar penggunaan teknologi bisa mengarah ke hal-hal positif.

Selain itu, anak juga harus dipersiapkan untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, membangun komunikasi efektif dengan orang-orang di sekitarnya, serta dapat bekerja sama satu sama lain lewat kolaborasi. 

Tantangan selanjutnya yang dihadapi dunia pendidikan adalah mengajarkan anak untuk bisa fokus mengerjakan tugas yang diberikan. Maria mengatakan bahwa kemampuan ini diharapkan dapat membuat anak tidak sekadar menyelesaikan tugas, tapi juga mampu menggunakan seluruh usahanya untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas.

Berbagai tantangan pendidikan di atas, lanjut Maria, bisa disikapi dengan menggabungkan unsur TIK dalam sistem pembelajaran anak. Cakupan TIK itu sangat luas, maka dari itu Maria memfokuskan materi coding atau pemrograman untuk diperkenalkan kepada anak.

“Di abad ke-21 ini, lima keterampilan ini sangat diperlukan. Ini dapat dibangun dengan mengintegrasikan dalam proses pembelajaran. TIK itu luas, yang lebih spesifik lagi yaitu dengan coding,” ujar Maria.

Mengenalkan coding kepada anak sejak dini memiliki sejumlah manfaat

Meet The Expert #MakinCakapDigital “Optimalkan Potensi Anak dengan Memperkenalkan Teknologi dan Coding” bersama Maria Sumakul (kanan), Senin 24 Oktober 2022

Secara sederhana, coding bisa diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk memberitahukan komputer apa yang harus ia kerjakan. Caranya adalah dengan mengetikkan kode atau skrip bahasa pemrograman. Komputer kemudian akan menerima perintah itu dan menjalankan operasi sesuai kode yang telah diketikkan.

Meski sederhana secara pengertian, kata coding bagi sebagian besar orang merujuk pada disiplin ilmu yang rumit dan sulit untuk dipelajari. Maria pun tidak menampik fakta bahwa belajar coding memang butuh banyak usaha dan ketelitian.

“Kalau kita menyebut pemrograman, itu pasti anak-anak udah pusing duluan. Karena ketika saya kuliah di komputer, kalau melihat pemrograman lumayan panjang sekali dan harus mengetik, sudah terbayang sangat sulit. Tapi kalau kita belajar sebetulnya tidak sulit,” ujarnya

Meski demikian, menurut Maria tantangan dalam belajar coding itulah yang nantinya memberikan manfaat kepada anak. Maria pun menerangkan beberapa manfaat yang akan didapatkan apabila mulai mengenalkan coding kepada anak sejak dini. 

Pertama, mengenalkan coding kepada diketahui dapat membentuk pondasi dasar serta mengasah otaknya untuk bisa menguasai teknologi di masa depan.

Manfaat kedua yaitu anak akan memiliki kemampuan computational thinking atau berpikir seperti komputer. Artinya, anak akan terbiasa mencari beragam solusi untuk menyelesaikan satu masalah. 

Coding mengajarkan anak-anak untuk memilah satu masalah besar menjadi beberapa bagian kecil sehingga lebih mudah untuk diselesaikan. Dengan demikian, anak pun jadi tidak mudah putus asa.

Selanjutnya, Maria menjelaskan bahwa coding tidak hanya berkutat pada teknologi komputer, karena di dalamnya juga terdapat sains, teknik, seni, dan matematika. Dengan kata lain, melalui coding anak akan belajar banyak disiplin ilmu.

Manfaat positif lainnya yang juga akan didapatkan anak yaitu mereka dilatih untuk kreatif dan inovatif. Maria mencontohkan saat ia menugaskan para siswa ajarannya untuk membuat animasi atau games.

“Bagaimana mereka menciptakan animasi dan games yang menarik menurut mereka. Biasanya saya memberi contoh dan setelah itu mereka harus membuat sesuai kreativitas mereka,” kata Maria.

Dalam proses pembuatan animasi atau games tersebut, secara tidak langsung anak diajarkan untuk sabar dan ulet. Sebab, menciptakan sebuah program tentu harus mengikuti langkah-langkah yang ajeg demi hasil akhir sesuai rencana. Dalam hal ini anak tidak bisa mengambil jalan pintas agar cepat selesai sehingga mereka belajar untuk fokus pada setiap prosesnya.

Belajar coding juga terbukti memberi pengaruh positif terhadap perkembangan otak anak. Dalam penelitian yang dikutip Maria, diungkap bahwa coding dapat meningkatkan kemampuan memori pada anak.

“Coding mendorong neuron baru untuk tumbuh dan menghubungkan ke area otak yang bertanggung jawab untuk membentuk memori, orientasi spasial, dan perencanaan strategis,” kata Maria.

Artinya, proses coding membuat otak anak mengalami pertumbuhan tiga kali lipat lebih cepat dan mempertajam memorinya sekitar 65 persen. 

Orang tua tidak harus mahir coding, yang diperlukan hanyalah mendukung potensi anak dengan menyediakan sarana 

Meet The Expert #MakinCakapDigital “Optimalkan Potensi Anak dengan Memperkenalkan Teknologi dan Coding” bersama Maria Sumakul (kanan), Senin 24 Oktober 2022

Untuk mendukung potensi anak dalam bidang ini, Maria menjelaskan bahwa orang tua tidak harus bisa atau mahir tentang coding. Meskipun orang tua paham coding tentu lebih bisa mendampingi anak dalam memahami materi yang sedang ia kerjakan.

“Jadi nggak perlu khawatir Moms harus benar-benar tahu coding. Sebetulnya ada buku panduannya untuk sekadar tahu sedikit dan memahami, itu sudah cukup. Dukungan yang sangat dibutuhkan anak adalah sarana dan prasarana untuk belajar coding,” jelas Maria.

Dalam hal ini Maria mengatakan para orang tua bisa menyediakan sarana dan prasarana seperti komputer atau laptop, buku panduan coding, serta menyediakan tempat belajar coding seperti lembaga kursus atau sekolah.

Menurut Maria, menyekolahkan anak di sekolah yang mengajarkan coding atau mendaftarkannya untuk kursus coding sangat berpengaruh untuk mengarahkan kemampuan anak lebih lanjut dan meningkatkan prestasinya dalam bidang ini. Bimbingan guru di tempat tersebut akan membantu anak untuk belajar lebih serius dan terarah.

Selain itu, Maria juga menyarankan agar orang tua mendorong anak untuk mengikuti kompetisi coding untuk melatih kemampuan kompetisi si anak dan kreativitasnya dalam menghasilkan program yang lebih ciamik.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mulai mengajarkan anak tentang teknologi coding? Maria mengutip pendapat dari pakar pendidikan dari Eduspec Indra Charismiadji untuk menjawab pertanyaan ini. Anak bisa diajarkan coding sejak usia dini. Alasannya, anak usia dini masih memiliki kemampuan menyerap ilmu pengetahuan dengan lebih cepat.

Edukasi teknologi dunia digital sejak dini juga memberi anak waktu lebih panjang untuk mengeksplorasi kemampuannya. Mungkin saja berawal dari membuat program animasi sederhana kemudian berkembang dengan menciptakan aplikasi yang berguna bagi banyak orang di masa depan.

Topik bahasan tentang “Optimalkan Potensi Anak dengan Memperkenalkan Teknologi dan Coding” dalam Meet The Expert #MakinCakapDigital bersama Maria Sumakul kali ini diharapkan bisa memberikan panduan bagi para orang tua tentang cara memperkenalkan coding pada anak dan mendukung kemampuannya agar semakin berprestasi dalam bidang ini.

Ke depannya akan ada banyak topik-topik menarik dan relevan terkait dunia digital yang akan dibahas dalam kegiatan #MakinCakapDigital. Untuk itu, jangan lupa follow akun Instagram @siberkreasi untuk mendapatkan update kegiatan #MakinCakapDigital selanjutnya.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor