4 Tren Istri Virtual di Jepang Ini Makin Gila! Kok Cowok di Sana Males Banget Ya Cari Istri Asli?!

Namanya juga cinta. Kamu tak akan pernah bisa menebak kapan dan kepada siapa hatimu akan menaruh rasa. Kadang cinta datang pada sosok yang baru kamu kenal, namun cinta juga bisa saja datang pada temanmu yang sudah kamu kenal sejak lama. Bisa dengan sosok yang lebih muda, bisa juga dengan sosok yang usianya terpaut beberapa tahun lamanya. Yah, lagi-lagi namanya juga cinta. Cinta itu buta.

Advertisement

Tapi apakah segitu butanya cinta sampai-sampai bisa menaruh rasa pada makhluk yang hidup saja tidak?

Faktanya, di Jepang sana tren cinta sedang bergeser. Banyak diantara para pemudanya yang mengalihkan tujuannya cintanya kepada karakter animasi yang tidak nyata! Nggak cuma sekadar cinta doang loh ya, banyak pula di antara mereka yang sampai menikahi karakter fiksi favoritnya. Duh, ada-ada aja ya. Lihat deh ulasan News & Feature ini.

Budaya kencan Dating Simulator Jepang jauh lebih populer daripada kencan di dunia nyata. Yang animasi jauh lebih dicinta daripada yang nyata

Dating sims gini lagi marak di Jepang via winterwolves.co

Entah apa yang tengah terjadi di Jepang sana. Faktanya makin hari makin marak berita soal pemuda yang memilih untuk menjalin asmara dengan karakter anime atau video game daripada mencari pasangan dan hidup bahagia bersama dengan seorang wanita.

Advertisement

Berawal dari adanya game bergenre ‘dating simulator‘, para pemuda Jepang mulai diperkenalkan dengan keintiman menjalin hubungan asmara bersama dengan karakter animasi. Tak disangka, sejak saat itu mulai muncul pemuda Jepang yang orientasi asmaranya bukan lagi manusia, melainkan karakter animasi pujaannya.

Saking cintanya, makin banyak kasus pria Jepang yang justru memilih menikah dengan karakter anime atau game. Kamu pasti mikir, apa enaknya ya?

Pria Jepang ini menikahi karakter game Nintendo via imgur.com

Ya kalau mengidolakan saja sih nggak masalah ya. Kita pun sering mengidolakan karakter fiktif animasi karena sifat dan pelajaran yang kita dapat selama menonton filmnya. Mengidolakan Captain Tsubasa, misalnya. Hal tersebut wajar terjadi. Yang jadi masalah, beberapa pemuda di Jepang sana nggak cuma mengidolakan, namun bahkan ingin memiliki karakter animasi cewek idolanya sampai rela mengikat dirinya dalam status pernikahan!

Biasanya kelompok pemuda ini tertutup, lingkungan sosialnya sangat terbatas, bahkan sampai ada yang tidak pernah keluar rumah. Namun pada tahun 2009 ada yang berani ‘keluar’ mempublikasikan hubungan dan pernikahannya dengan tokoh game Nintendo DS. CNN melaporkan pria Jepang yang memilih dipanggil Sal 9000, mengaku menemukan cinta sejati dalam karakter game ‘Love Plus’ bernama Nene Anegasaki. Meski pernikahannya tidak diakui secara legal, pria ini ingin ikrarnya bisa disaksikan banyak orang.

Advertisement

Pria-pria yang ‘terhanyut’ dalam percintaan virtual ini makin banyak jumlahnya. Bahkan banyak perusahaan game atau IT yang berusaha mewujudkan fantasi mereka

‘Istri’ virtual terbaru berbentuk hologram yang bisa berinteraksi via techviral.net

Perkembangan tren percintaan atau istri virtual ini tentu tidak bisa dilepaskan dari budaya dan teknologi animasi Jepang. Mereka yang awkward atau canggung secara sosial seperti mendapatkan kenyamanan sendiri di dunia online atau karakter game. Bahkan saking banyaknya pemuda Jepang yang memilih percintaan virtual, sampai ada perusahaan yang muncul dengan istri virtual berbentuk hologram.

Perusahaan teknologi Vinclu Inc. mengembangkan tabung proyektor khusus yang berisi tokoh hologram bernama Azuma Hikari. Hikari bisa membangunkanmu di pagi hari, menyambutmu kalau pulang kerja, dan menemanimu ngobrol semalam suntuk. Meski harganya sangat mahal, edisi pertama Hikari ini langsung terjual habis.

Jika tren ini makin populer, masalah pertumbuhan populasi di Jepang bisa tambah gawat. Selain gila kerja, banyak juga yang memilih tidak menikah beneran karena cintanya tidak nyata

Menemukan cinta di dunia maya via japanpowered.com

Budaya semacam itu yang menyebabkan angka jomblo naik pesat di Jepang. 40% jomblo nggak peduli lagi sama cinta-cintaan
dengan lawan jenisnya. Mereka lebih memilih mengurung diri dalam kehidupan pribadinya. Ya kalau masih normal sih mungkin bukan masalah besar. Nah tapi kalau sudah berorientasi mencintai karakter animasi ini yang susah. Bagi para otaku yang hobinya menyendiri di kamar, pilihan asmara mereka jatuh pada karakter animasi yang mereka sebut dengan waifu (kata slang dari Jepang untuk menyebut wife / istri).

Fenomena jatuh cinta pada pacar virtual ini semakin memperburuk kondisi jepang yang tengah memiliki masalah dengan para jomblo dan lajang di negaranya. Pada 2016 silam, angka kelahiran di Jepang terjun bebas hingga di bawah angka satu juta jiwa. Kalau pemudanya terus-terusan tertarik pada pacar virtual dan enggan menikah sungguhan, lama-lama populasi Jepang akan semakin berkurang dan hilang.
Sedih ya? Jepang dan Indonesia memang beda. Di sini kita berusaha mati-matian biar nggak jomblo, di Jepang malah ogah punya pasangan. Di sini menikah adalah ibadah, di Jepang justru menikah dengan karakter maya. Duh, nggak habis pikir deh sama mereka.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

46 Comments

  1. Ayu Sarwendah berkata:

    Setidaknya istri virtual gak akan minta harta gono-gini kalau cerai ??

  2. Samsudin berkata:

    Di poligami juga gak bakal marah..:)

  3. Wiwii Sudarso berkata:

    biaya hidup istri asli lebih mahal jadinya milih yg firtual ??

  4. Bahaya. Bisa hancur dunia kalau kayak gitu.�

  5. don’t lose hope guys..
    Ichank Doankz Bom Ber Sri Hermanto Faiesal Sachrir Kanro

  6. Fahd berkata:

    Artikelnya ditulis tanpa ada riset dulu ini…

    Kenapa tingkat pernikahan di Jepang rendah?

    Salah satunya karena penghasilan pria di Jepang rata” di bawah ekspektasi wanita disana. Tidak seperti kebanyakan pasangan di Indonesia yang mikirin nikah dulu, masa depan mah gimana nanti. Di Jepang mau nikah selalu buat calculations and predictions terlebih dahulu. Salah satu faktor utamanya melibatkan pada faktor ekonomi.

    Bagaimana penghasilan sang pria, apakah bisa menafkahi sang istri nantinya? apakah bisa menafkahi juga sang anak nantinya?

    Jadi bukannya karena pria di Jepang banyak otaku lantas mereka tidak menikah. Melainkan karena mereka merasa belum cukup layak untuk menikah.

CLOSE