“Mama kok share berita beginian sih?!”

“Kan mama cuma forward, Mbak~”

Saat vaksin sedang ramai dibicarakan kemarin, beredar kabar kalau ada vaksin yang mengandung zat campuran dari darah pelacur, darah babi, sari pati monyet, dan darah napi! Vaksin berbahaya itu dipercaya sebagai siasat yahudi melemahkan otak anak demi menghancurkan generasi umat Islam. Informasi yang diambil dari tangkapan layar komentar orang di media sosial itu tersebar secara masif di berbagai grup WhatsApp dan jejaring sosial lain. Tidak sedikit orang percaya sama informasi ngawur itu –terutama orang tua– dan meneruskannya ke grup-grup lain!

Hoax soal vaksin via www.ibrita.id

Advertisement

Siapa hayo yang sering gemas sendiri setiap membaca grup keluarga gara-gara sering ada yang menyebarkan berita hoax? Tenang, kamu tidak sendiri. Kita boleh jadi kesal dengan mudahnya bapak ibu, om tante, bude pakde, atau simbah-simbah kita, dalam menyebarkan informasi keliru. Tapi ternyata menurut penelitian, generasi baby boomer seperti mereka memang dinilai paling rajin bagikan hoax! Kira-kira kenapa ya? Yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Berdasarkan penelitian di Amerika, orang berusia 65 tahun ke atas adalah kelompok usia yang paling sering membagikan hoax. Meski berpendidikan sekalipun, orang di kelompok umur ini rentan sebar hoax

Semakin tua, kecenderungan tertipu dan ikut menyebar hoax semakin tinggi via gadgetren.com

Riset yang dilakukan peneliti dari universitas ternama Princeton University dan New York University ini, melibatkan 3.500 responden dengan usia beragam di Amerika Serikat. Mereka menganalisis unggahan Facebook para responden itu sebelum dan sesudah Pilpres AS 2016 lalu. Setelah data terkumpul, seperti dikutip dari Vice, peneliti menemukan kalau ternyata orang tua usia 65 tahun ke atas gemar membagi hoax dua kali lebih sering dibanding kelompok usia 45-65 tahun. Sedangkan kalau dibandingkan sama umur termuda 18-29 tahun, bedanya mencapai tujuh kali lipat!

Dari penelitian itu juga disimpulkan kalau penyebaran hoax lewat Facebook itu tidak terkait sama latar belakang pendidikan, jenis kelamin, dan pandangan politiknya. Mau dulunya lulus cumlaude, selama ia tergolong generasi baby boomer, ya tetap saja lebih mudah termakan hoax.

Para peneliti itu menawarkan dua teori untuk menjelaskan fenomena di atas. Yang satu berhubungan dengan literasi digital dan yang lainnya seputar kemampuan kognitif manusia yang terus menurun seiring bertambahnya usia

Alasan ortu gemar sebar hoax via www.rtbf.be

Advertisement

Sayangnya riset di atas tidak mengungkap alasan kenapa para orang tua itu gampang banget menyebarkan berita hoax. Meski begitu, penelitinya berusaha mengungkap teori mengenai hal tersebut –yang mana masih bersifat argumentatif dan butuh riset lanjutan. Jadi menurut mereka, masih dilansir dari Vice, ada dua alasan utama:

  1. Orang tua tidak memiliki literasi digital yang levelnya setara dengan generasi yang lebih muda. Orang tua lahir sebelum internet ada. Beda sama kita yang tumbuh bersama internet. Jadi secara teknis dan kegunaan, kita jauh lebih paham dan lebih adaptif dibanding orang tua. Bisa dibilang mereka ini masih gagap lah soal teknologi.
  2. Secara biologis, orang tua mengalami penurunan kognitif, termasuk proses berpikir di dalam otaknya. Mereka lebih rentan tertipu informasi yang belum pasti kebenarannya.

Walaupun dilakukan di Amerika, tapi penelitian di atas tampaknya cukup relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Menkominfo dan sejumlah pengamat sepakat dengan hal itu

Relevan dengan kondisi di Indonesia via www.kimsendangpotro.or.id

Memang sih, penelitian di atas baru dilakukan di Amerika saja. Tapi melihat betapa maraknya penyebaran hoax di kalangan orang tua Indonesia, kemungkinan besar riset itu relevan juga dengan kondisi di sini. Seperti dikutip Detik, Menkominfo Rudiantara –menukil informasi dari pegiat media sosial Alm. Nukman Luthfi– mengatakan kalau milenial itu tidak suka hoax, justru generasi tua lah yang suka.

Pengamat Sosial Vokasi Dewi Rahmawati, dilansir Tirto, berpendapat kalau kita dan ortu kita cenderung punya pola pikir berbeda. Saat kita lebih fokus pada ketepatan, orang tua justru lebih berpaku pada kecepatan. Yang penting di-share dulu, benar atau tidaknya belakangan, mungkin begitu pikir mereka. Kalau Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho, menyebut para ortu ini dengan istilah ‘digital immigrant’. ‘Imigran’ ini tumbuh saat informasi masih berbentuk cetak. Sedangkan sekarang situasinya sudah jauh berbeda, informasi berseliweran tanpa saringan, mereka pun akhirnya gelagapan.

Berkaca dari situasi ini, mungkin sudah jadi tanggung jawab generasi muda yang lebih ‘fasih’ ber-media sosial untuk mengurangi kecenderungan bapak, ibu, om, tante, atau eyangnya untuk menyebar hoax.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya