Ramai-ramai Soal Privilege, Ini 4 Hak Istimewa yang Sering Tak Disadari. Harus Banyak Bersyukur Lagi

Privilege yang sering tak disadari

Belakangan ini ‘privilege‘ –atau kalau diserap ke Bahasa Indonesia jadi ‘privilese’– lagi sering banget disinggung orang di media sosial. Entah sejak kapan pastinya, tapi jika merunut peristiwa yang melatarbelakanginya, sepertinya semua bahasan soal privilese ini bermula saat artis Maudy Ayunda diterima di dua universitas bergengsi Amerika Serikat. Tak sedikit orang menghubungkan kemujurannya itu dengan privilese yang dimilikinya: terlahir di keluarga kaya dan beradab.

Advertisement

Hal yang sama juga dialami Putri Tanjung belum lama ini. Anak dari seorang pengusaha sukses Chairul Tanjung itu baru saja didapuk jadi salah satu staf khusus kepresidenan di usianya yang masih 23 tahun. Sudah bisa ditebak, apa respon warganet sesudahnya. Banyak yang menganggap posisi penting Putri Tanjung itu tak lepas dari nama besar ayahnya yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Lagi-lagi soal privilese, hak istimewa.

Kita nggak tahu pasti kebenaran dua kisah kesuksesan di atas, apakah benar-benar murni diperoleh dari latar belakang elit keluarga, usaha sendiri dari nol, atau merupakan kombinasi keduanya. Yang jelas, persepsi soal privilese ini bisa mengacu ke banyak hal, tak melulu soal uang, uang, dan uang. Bahkan kalau boleh berpendapat, setiap orang di dunia ini sebenarnya memiliki privilese masing-masing. Cuma faktanya, banyak yang justru nggak sadar, hal-hal di bawah ini pun sebetulnya termasuk privilese.

1. Tak usah jauh-jauh dulu. Kita mendapat kesempatan terlahir ke dunia aja sudah bisa disebut privilese. Atau setidaknya masih bisa bernapas hingga detik ini

Punya kesempatan lahir ke dunia via theconversation.com

Setiap orang yang hadir ke dunia punya tujuan masing-masing. Sebagai salah satu manusia yang beruntung mendapat kesempatan dilahirkan, sudah sepatutnya kita bersyukur. Ya, kita bisa bernapas sampai detik ini aja sebetulnya bisa dikatakan privilese. Sebab, nggak semua manusia bisa ditakdirkan hidup hingga puluhan tahun.

2. Kita juga mungkin sering lupa kalau sejak kecil punya kesempatan mengenyam pendidikan tanpa harus melalui hambatan yang berarti. Nggak semua orang bisa mendapat privilese ini lo!

Punya kesempatan mengenyam pendidikan via www.usnews.com

Kalau kamu merasa jadi orang paling nggak beruntung, coba ingat-ingat lagi, bukannya sejak kecil kamu telah diberikan kesempatan sekolah seluas-luasnya? Nggak semua orang punya kesempatan yang sama lo. Entah karena himpitan ekonomi, akses yang terbatas, infrastruktur yang tidak tersedia, atau mindset orangtua yang kurang terbuka. Soal pendidikan ini jelas merupakan sebuah privilese yang wajib disyukuri, karena dengan bersekolah, peluang kita bisa menjelajah ‘gudang’ ilmu pengetahuan lebih besar daripada yang tak mendapat kesempatan sama.

3. Meski orangtua kita bukan kalangan orang elit, tapi mendapat kasih sayang dari mereka sejak kecil sudah jadi privilese yang bisa jadi modal di kehidupan bersosial

Mendapat kasih sayang ortu via www.thinkhealthmag.com

Kasih sayang orangtua yang mengucur deras bahkan sejak kita masih dalam kandungan, dapat menjadi privilese tersendiri walau status mereka bukan kalangan elit. Yang pada belajar psikologi mestinya paham kalau cinta yang tumbuh di tengah keluarga bisa jadi semacam “pondasi” untuk kita melangkah lebih jauh di lingkungan sosial. Kasih sayang, nasihat-nasihat, dan pelajaran yang diberikan orangtua akan jadi modal besar kita dalam membuat keputusan-keputusan penting. Anak yang dibesarkan di keluarga penuh cinta biasanya juga akan lebih percaya diri.

4. Kita juga patut bersyukur dan bangga jika selalu punya kemerdekaan menentukan jalan hidup kita sendiri, bukan dipaksa atau diatur-diatur demi kepentingan tertentu

Advertisement

Merdeka dengan cara sendiri via dissolve.com

Menentukan sekolah sendiri, menentukan karir dan cita-cita sendiri, sampai menentukan pasangan hidup sendiri, juga merupakan privilese yang perlu disyukuri. Faktanya, banyak orang di luar sana yang masa depannya justru “disetir” pihak-pihak tertentu; biasanya orangtua, kakek, nenek, atau sanak keluarga lainnya. Mereka terpaksa harus meninggalkan jauh-jauh passion-nya demi orang-orang tercinta.

Intinya, jangan pernah merasa hidup itu nggak adil. Hidup yang kamu anggap nggak adil itu bisa jadi merupakan hidup yang jadi mimpi orang lain. Bersyukur lah dengan apapun yang kamu miliki. Dan yang penting lagi, jadikan privilese orang lain sebagai motivasi, bukan sebagai hal yang patut dibenci.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE