Bahas Tuntas Psikosomatik, Kondisi yang Bisa Muncul Saat Kita Terlalu Banyak Baca Info Corona

Psikosomatik karena virus corona

Sudah hampir 3 bulanan ini media massa dan media sosial kita dipenuhi berita atau informasi soal virus corona. Setiap buka gadget, ada aja berita terbaru tentang wabah yang sekarang lagi mendunia ini. Bahkan grup-grup perbincangan daring juga nggak ketinggalan membahas soal virus asal Wuhan, Cina tersebut. Berbulan-bulan disuguhi berita yang sama, soal pandemi global yang telah menelan belasan ribu jiwa, rasanya jadi suka parno sendiri. Batuk dikit takut, panas dikit khawatir. Mungkin ada juga yang suhu tubuh normal, tapi bawaannya kayak nggak enak aja gitu, fisik nggak fit, atau rada sakit tenggorokan dikit.

Apakah kalian juga sering mengalami hal yang sama semenjak virus corona merebak?

Kalau iya, ternyata kondisi semacam itu termasuk dalam skala wajar lo. Seorang dokter spesialis kesehatan jiwa, melalui kanal YouTube pribadinya, Andri Psikosomatik, berbagi mengenai kondisi ini. Ia menyebutnya sebagai “corona-coronaan” alias corona jadi-jadian. Tentu aja keadaan ini ada istilah medisnya. Nah, kali ini, Hipwee sudah mengumpulkan berbagai informasi tentangnya. Simak bareng, yuk!

Advertisement

1. Istilah medis dari corona jadi-jadian ini bernama psikosomatik. Orang yang mengalaminya seolah merasakan gejala yang dialami pasien positif covid-19. Padahal sebenarnya dia nggak terjangkit

Psikosomatik, seperti dikutip dari laman Alodokter, berasal dari dua kata; pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Kondisi atau gangguan ini terjadi ketika pikiran memengaruhi tubuh sehingga bisa memicu keluhan fisik. Iya, psikosomatik sangat erat kaitannya dengan otak kita. Kalau kita stres, cemas, takut, atau depresi, fisik tubuh akan meresponnya lewat rasa sakit dan nggak nyaman yang kita sendiri rasakan.

Dijelaskan dokter Andri, saat seseorang mendapat suatu informasi secara terus-menerus, informasi itu akan disimpan di bagian otak bernama amigdala. Amigdala selain sebagai pusat memori juga berfungsi sebagai pusat kecemasan. Kalau kelebihan beban, otak akan meresponnya sebagai kecemasan, kita jadi dipaksa buat terus merasa siaga. Ini otomatis bikin kita jadi merasa takut karena informasi itu.

Advertisement

2. Di tengah pandemi kayak gini, orang akan rentan mengalami psikosomatik. Waktu baca-baca soal gejala corona, tiba-tiba tenggorokan kerasa agak gatal dan nyeri

Menimbulkan sakit fisik via tirto.id

Tiga bulanan bukan waktu yang sebentar bagi kita terpapar segala informasi soal virus corona. Bayangin aja, dari pagi sampai pagi lagi, wabah ini nggak berhenti diperbincangkan. Nggak cuma dibahas di layar kaca atau lewat berita di koran aja, bahkan virus ini juga jadi bahan obrolan di grup-grup WhatsApp, atau di ruang-ruang keluarga.

Di tengah pandemi kayak gini, orang akan berisiko terkena psikosomatik. Mungkin istilah lebih gampangnya kayak semacam “sugesti” gitu. Waktu baca-baca gejala virus corona, rasanya nggak lama kemudian tenggorokan terasa agak gatal, nyeri, dan nggak nyaman. Atau waktu melihat berita-berita pasien yang meninggal, dalam hati langsung takut, cemas, dan khawatir bakal tertimpa hal serupa.

3. Seorang dokter bernama Shela Putri Sundawa, berpendapat serupa dengan apa yang disampaikan dokter Andri di atas. Malah dokter Shela mengaku merasakan psikosomatik selama ia sekolah kedokteran

Dokter Shela lewat akun Twitternya @oxfara, menceritakan hal serupa. Ia bahkan merasakan kondisi psikosomatik selama sekolah kedokteran. Gejala yang timbul berbeda-beda, sesuai modul yang saat itu dipelajari. Mungkin kalian yang lulusan kedokteran atau yang saat ini masih jadi mahasiswa kedokteran merasakan hal yang sama. Saat lagi belajar penyakit lambung, jadi suka sakit perut atau diare. Saat ganti modul yang memelajari neurologi, tiba-tiba jadi suka pusing.

Advertisement

4. Meski terbilang normal dan wajar, psikosomatik tetap merugikan jika dibiarkan terus-terusan. Nah, ternyata kondisi ini bisa banget dicegah lo!

Meski terbilang normal, tetap perlu dicegah via www.idntimes.com

Psikosomatik bisa dicegah dengan cara mengurangi faktor penyebabnya. Kalau penyebabnya karena keseringan “menelan” berita atau informasi soal corona, berarti biar nggak cemas atau gelisah ya perlu mengurangi asupan informasi tentang corona. Sederhana aja, misalnya kalau sebelumnya hampir semua konten corona pasti dibaca, sekarang cukup yang sumbernya kredibel aja yang dibuka, dari Hipwee, atau situs-situs resmi pemerintah (WHO, Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dll). Waktu akses beritanya pun juga perlu rada dipangkas, atau ditetapkan batas maksimalnya, misal sehari cuma 2-3 jam aja update coronanya, sisanya buat aktivitas lain yang menyenangkan.

Masalahnya, kita nggak bisa seratus persen acuh terhadap informasi tentang corona ini Guys. Biar gimana pun, virus ini telah jadi wabah global yang perlu penanganan dan kerjasama berbagai pihak termasuk kita. Dan karena virus ini tergolong baru, bisa dibilang informasi tentangnya rawan berubah-ubah. Hasil penelitian hari ini sangat mungkin berbeda dengan hasil penelitian minggu depan, atau bulan depan. Jadi, penting untuk terus meng-update informasi soal corona(asal jangan kebanyakan), biar nggak ketinggalan ya~

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE