Warga Masih Heboh Polemik Mati Listrik, Pulau Jawa Dikabarkan Akan Kehabisan Air Tahun 2040

Krisis air Pulau Jawa

Masalah mati listrik yang melanda Jabodetabek kemarin masih hangat jadi perbincangan di semua lini media massa. Meski di sejumlah wilayah listrik dilaporkan sudah kembali normal, tapi masih ada daerah yang sampai artikel ini ditulis listriknya belum juga stabil. Pihak PLN pun masih terus berusaha agar listrik bisa kembali seperti sediakala.

Advertisement

Belum reda kepanikan warga gara-gara mati listrik massal, penduduk di Pulau Jawa masih harus menerima fakta lain yang nggak kalah mengkhawatirkan. Kabarnya, pasokan air di pulau terpadat di Indonesia ini akan habis tahun 2040 mendatang. Krisis air ini nggak cuma soal ketersediaan air untuk aktivitas sehari-hari aja lo, tapi juga soal suplai energi, mengingat pembangkit listrik milik kita digerakkan oleh air. Waduh, masa iya blackout lagi??

Sebuah kajian resmi pemerintah memprediksi kalau Pulau Jawa yang padat penduduk ini bakal kekurangan air 20 tahun lagi. Bahkan untuk minum aja kita bakal kesulitan lo

Prediksi krisis air via sains.kompas.com

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut kalau Jawa berpotensi mengalami krisis air parah pada tahun 2040. Hampir semua sumber air bersih diprediksi akan hilang. Padahal, seperti dikutip dari BBC, Indonesia termasuk salah satu negara terkaya soal cadangan air bersih karena menyimpan 6% potensi air dunia. Tapi lucunya, 20 tahun lagi, kita justru terancam kehabisan air.

Para peneliti di LIPI menyebut sejumlah faktor penyebab krisis air di masa mendatang ini, seperti perubahan iklim, pertambahan penduduk, sampai alih fungsi lahan

Alih fungsi lahan via www.radarcirebon.com

Peneliti senior di Pusat Geoteknologi LIPI, Rachmat Fajar Lubis, mengatakan kalau krisis air ini terjadi ketika supply dan demand nggak seimbang. Kebutuhan akan air terus meningkat setiap tahunnya, tapi ketersediaan air di alam justru semakin menipis. Curah hujan di Jawa dilaporkan nggak pernah bertambah, malah cenderung menurun. Ini karena perubahan iklim yang terjadi di dunia.

Advertisement

Belum lagi penduduk makin bertambah, plus alih fungsi lahan makin nggak terkontrol. Jumlah hutan dan pohon terus menipis, ya gimana air nggak ikut menipis juga??

Idealnya, ketersediaan air untuk 1 orang selama setahun itu harusnya 1.600 meter kubik. Tapi saat ini, setiap seorang dari penduduk Pulau Jawa cuma dapat 1.169 meter kubik!

Sudah menipis via tekno.tempo.co

Sekarang, satu orang di Jawa cuma punya “jatah” air bersih sebanyak 1.169 meter kubik, berdasarkan data ketersediaan air yang disusun Pusat Litbang Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR. Jika krisis air ini benar-benar terjadi, angka itu diprediksi akan terus melorot hingga mencapai 476 meter kubik pada 2040 mendatang.

Mungkin buat kamu angka itu masih tergolong aman dan belum begitu mengerikan. Padahal kalau dibandingkan sama pulau lain, bedanya jauh banget lo. Misalnya di Bali, setiap tahun orang bisa mendapat 4.224 meter kubik. Sedangkan di Papua, satu penduduknya bisa menggunakan air hingga 296.841 meter kubik! Miris banget, ‘kan…

Advertisement

Ancaman krisis air ini ternyata jadi salah satu faktor pendorong pemerintah lewat Bappenas, berencana memindahkan ibukota ke Kalimantan

Jadi pendorong isu pemindahan ibukota via www.merdeka.com

Salah satu cara agar krisis air menyeramkan ini nggak benar-benar terjadi adalah mengurangi beban Pulau Jawa. Karena menahan laju pertumbuhan penduduk itu terlalu sulit, maka solusi lain dengan memindahkan pusat pemerintahan atau ibukota ke luar Pulau Jawa.

Selain itu, proyek pembangunan bendungan buat menampung air agaknya bisa jadi alternatif lain. Tapi di satu sisi, solusi ini nggak sejalan dengan curah hujan di Jawa yang cenderung menurun. Lah, mau menampung apa kalau hujan aja nggak ada?

Cara lain seperti yang disampaikan peneliti LIPI adalah dengan menciptakan teknologi massal penjernihan air. Jadi air-air yang “nganggur” di laut, sungai, atau sisa air pertambangan, bisa dimanfaatkan dengan baik.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE