Selamat Hari Down Syndrome Sedunia!

Mungkin ada banyak orang yang belum tahu kalau tanggal 21 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai hari down syndrome sedunia. Hari ini diperingati untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penderita down syndrome agar mereka mendapat hak yang sama seperti orang pada umumnya. Pada hari ini biasanya setiap orang yang hidup atau bekerja dengan penderita down syndrome akan membuat perayaan sesuai tradisi masing-masing, misalnya menggunakan kaus kaki beda motif, atau makan cupcake berwarna biru dan kuning. Perayaan ini juga dilakukan untuk memberi dukungan kepada orang-orang down syndrome agar mereka tetap berkarya meski memiliki keterbatasan fisik.

Advertisement

Dalam rangka memperingati hari spesial ini, Hipwee News & Feature telah merangkum para penderita down syndrome yang berhasil menggebrak dunia berkat prestasinya yang luar biasa. Beberapa di antaranya berasal dari Indonesia lho! Yuk, simak~

1. Meski punya IQ di bawah rata-rata karena kelainan genetik yang diderita, Ferdhi Ramadhan berhasil meraih beasiswa dari Kementerian Sosial untuk melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB)

Ferdhi Ramadhan via health.detik.com

Lelaki yang akrab disapa Adi ini membuktikan kalau down syndrome bukan halangan dirinya untuk berprestasi. Sejak usia 9 tahun, Adi sudah bergabung di Special Olympics Indonesia (SOIna) untuk belajar olahraga sambil mengenyam pendidikan. Semangat belajarnya yang tinggi bisa membawanya ke Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk belajar di program diploma Jaminan Mutu Pangan (JMP). Tidak main-main, ia berhasil kuliah di sana setelah lolos seleksi beasiswa Kementerian Sosial. Meski kesulitan belajar, Adi ingin bisa menggapai cita-citanya membuat produk-produk makanan untuk kemudian dijual di warung keluarga.

2. Kemampuan Reviera Novitasari dalam olahraga renang tak perlu diragukan. Hal itu ia buktikan dengan keberhasilannya meraih medali perunggu dalam ajang renang internasional di Australia 2008 silam

Reviera Novitasari via merahputih.com

Meski kehadirannya sempat tidak diterima orang tuanya sendiri, tapi wanita yang kini berusia 24 tahun ini berhasil membuktikan kalau dirinya juga bisa berprestasi meski menyandang down syndrome. 10 tahun lalu, Reviera mampu meraih medali perunggu dalam lomba renang gaya dada jarak 100 meter di kejuaraan renang internasional Canberra, Australia. Sama halnya dengan Adi, sejak kecil Reviera juga sudah bergabung di klub olahraga SOIna.

3. Stephanie Handojo adalah perempuan down syndrome pertama yang berhasil memecahkan rekor MURI setelah memainkan piano 23 jam non-stop! Salut banget…

Stephanie Handojo via merahputih.com

Advertisement

Perempuan yang lahir 5 November 1991 ini tak hanya jadi kebanggaan keluarganya tapi juga negara Indonesia. Pasalnya di usianya yang masih muda dengan kondisi fisik terbatas, ia berhasil meraih setumpuk prestasi di kancah internasional! Tak hanya rekor MURI main piano saja, tapi ia juga bertabur prestasi di cabang olahraga renang. Berikut prestasi Stephanie atau yang akrab disapa Fani di bidang renang:

  1. Medali emas cabor renang nomor 50 meter gaya dada, di kejuaraan Special Olympics World Summer Games di Athena, Yunani.
  2. Medali emas cabor renang di ajang Special Olympics Asia-Pacific 2013 di Newcastle, Australia.
  3. Medali perak nomor 100 meter gaya dada di Australia.
  4. Medali perak kategori gaya dada 50 meter dan gaya bebas 100 meter di Los Angeles, 2014.
  5. Jadi pertama dan satu-satunya penyandang tunagrahita yang membawa obor di pesta olahraga terbesar, Olimpiade London 2012.

4. Ada juga Samuel Santoso, anak bangsa yang berprestasi di bidang seni. Ia bahkan jadi penyandang down syndrome pertama yang bisa menggelar pameran lukisan tunggal

Samuel Santoso via www.kapanlagi.com

Pameran lukisan Samuel Santoso ini digelar tahun 2011 silam. Pembukaan acaranya bahkan dihadiri Kak Seto Mulyadi. Sebanyak 50 lukisan yang pernah dibuat Samuel sejak 2007 ditampilkan dalam pameran tunggal tersebut. Aliran lukisannya pun cukup beragam, mulai dari surealis hingga realis. Karena ia jadi anak down syndrome pertama yang mampu menggelar pameran lukisan tunggal, ia pun diberikan penghargaan rekor MURI.

5. Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun banyak penderita down syndrome yang berprestasi, salah satunya Mikayla Holmgren yang berhasil mendobrak standar kecantikan dengan jadi kandidat Miss Minnesota USA pertama berkebutuhan khusus

Mikayla Holmgren via www.twincities.com

Nama Mikayla Holmgren jadi pembicaraan hangat tahun 2017 lalu, karena prestasi yang berhasil ia raih di ajang kecantikan bergengsi Miss Minnesota USA. Selain jadi wanita pertama berkebutuhan khusus yang mampu bersaing dalam ajang tersebut, Mikayla juga berhasil menyandang gelar Spirit of Miss USA dan Director’s Award.

6. Meski cuma memiliki IQ 30 dan tidak pernah belajar musik, Zhou Zhou mampu menjadi konduktor dalam National Symphony Orchestra, China

Zhou Zhou via www.brilio.net

Memiliki keterbatasan fisik dan mental bukanlah halangan bagi Zhou Zhou untuk meraih impiannya menjadi konduktor musik. Saat kecil ia dikabarkan suka ikut ayahnya berlatih cello di Wuhan Symphony Orchestra. Saat para pemain istirahat, Zhou kecil akan naik panggung dan menirukan gaya konduktor saat memimpin orkestra. Kini ia sudah jadi salah satu konduktor paling dikagumi dan jadi satu-satunya konduktor yang buta not balok.

7. Penyandang disabilitas berprestasi terakhir adalah aktor Spanyol, Pablo Pineda. Selain berhasil memerankan dalam film terkenal, ia juga berhasil meraih penghargaan bergengsi dari perannya tersebut

Pablo Pineda via www.diariodeleon.es

Pablo Pineda adalah aktor asal Spanyol yang membintangi film Yo Tambien. Berkat penampilannya di film tersebut, Pablo berhasil menerima penghargaan Silver Shell di San Sebastian International Film Festival pada 2009. Ia juga jadi mahasiswa pertama yang menyandang down syndrome dan berhasil meraih gelar sarjana di Eropa.

Sederet prestasi yang ditorehkan para penyandang down syndrome di atas jadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik mereka sama sekali tidak jadi halangan untuk tetap berprestasi. Alih-alih mengucilkan dan menganggap remeh, kita justru harus terus mendukung orang-orang spesial seperti mereka untuk tetap berkarya di bidangnya masing-masing. Sekali lagi, selamat Hari Down Syndrome Sedunia ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya