Uniknya Gaya Hidup Tiny House, Tinggal di Rumah Mungil yang Bisa Ditarik Mobil. Hemat Bujet nih!

Rumah trailer

Bisakah kita mempunyai rumah sendiri saat harga properti semakin mahal? Tentu bisa. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah memilih tiny house atau rumah mungil. Karena ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan rumah pada umumnya, bujet yang dikeluarkan pun lebih sedikit. Uniknya, jenis rumah ini juga bisa dipindahkan ke mana-mana!

Advertisement

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, mungkin konsep tiny house masih terasa asing karena jarang sekali diterapkan. Gaya hidup ini lebih sering dilakukan orang-orang luar negeri, misalnya di Amerika Serikat. Tetapi kita juga perlu memahami informasinya karena siapa tahu bisa jadi inspirasi. Yuk simak!

Banyak orang di luar negeri yang memilih hidup di dalam tiny house atau rumah mungil. Biasanya rumah ini dilengkapi roda sehingga bisa dipindahkan ke mana-mana

Rumah beroda | Photo by Brent Wickham on Flickr via www.flickr.com

Tiny house berbeda dengan campervan (mobil yang sekaligus dijadikan tempat tinggal). Pada tiny house, rumah dan mobilnya terpisah. Rumah tersebut dilengkapi roda-roda di bagian bawahnya sehingga bisa ditarik oleh mobil. Jadi rumah ini bisa dipindahkan ke manapun sesuai keinginan.

Perbedaan lainnya, tiny house mempunyai ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan rumah biasa. Dilansir dari The Tiny Life, jenis rumah ini mempunyai luas 9 hingga 37 meter persegi; sedangkan rumah biasa berukuran 241 meter persegi. Material yang digunakan adalah kayu sehingga lebih ringan untuk ditarik mobil. Terdapat beberapa ruangan mungil di dalamnya seperti tempat tidur, dapur, hingga toilet. Lengkap deh~

Advertisement

Gaya hidup tiny house bisa menghemat banyak bujet. Selain itu, orang-orang juga bisa menerapkan gaya hidup minimalis yang membuat perasaan lebih bahagia

Bagian dalam rumah mungil | Photo by alinatroeva on Deposit Photos via id.depositphotos.com

Jika menerapkan gaya hidup ini, kita nggak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli tanah dan rumah atau mengontraknya. Kita hanya perlu membangun tiny house dari awal atau membeli yang sudah jadi dengan harga jauh lebih murah.

Kelebihan lainnya, jenis rumah ini bisa ditarik ke mana-mana dengan mobil sehingga kita bisa bebas bepergian. Bisa sambil berwisata nih! Yang perlu diperhatikan, tiny house nggak boleh diparkir sembarangan karena bisa mengganggu orang lain. Jadi harus pintar mencari tanah lapang yang kosong.

Selain itu, tiny house bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk menerapkan gaya hidup minimalis. Sebab kita hanya bisa membawa barang yang penting-penting aja agar rumah nggak penuh. Hal ini bisa membuat kita lebih menghargai suatu barang, lebih cermat dalam merawatnya, serta lebih bersyukur. Ujung-ujungnya jadi lebih bahagia deh~

Advertisement

Namun, gaya hidup tiny house juga mempunyai kekurangan. Misalnya, rumah menjadi lebih gampang kotor dan bau lebih cepat menyebar

Composting toilet | Photo by jptb2017 on Deposit Photos via id.depositphotos.com

Rumah bisa lebih cepat dibersihkan kalau berukuran kecil, tetapi juga lebih gampang berantakan. Bayangkan seandainya ada semangkok sereal yang tumpah ke lantai. Langsung menyebar ke seluruh rumah deh! Kekurangan lainnya adalah bau makanan yang dimasak di dapur jadi lebih cepat menyebar. Begitu juga dengan bau toilet seandainya nggak dirawat dengan baik.

Biasanya, orang-orang yang tinggal di tiny house menggunakan composting toilet atau toilet kompos. Bentuknya kurang lebih sama seperti toilet siram. Bedanya, toilet ini mencampur kotoran manusia dengan serbuk gergaji dan sabut kelapa. Jadi nggak perlu saluran air seperti toilet di rumah biasa~

Kekurangan lainnya, keterbatasan tempat membuat kita lebih sulit mengundang banyak tamu. Jika tinggal bersama orang lain, kita juga sulit mempunyai “me time” karena harus berdesakan di rumah yang mungil. Yah, sudah jadi risikonya sih~

Terlepas dari pro dan kontranya, hingga kini tiny house tetap diminati banyak orang di luar negeri. Bagaimana dengan di Indonesia? Silakan kalau kamu mau mencobanya, siapa tahu gaya hidup ini juga bisa menjadi populer di negara kita.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE